
Alvin melihat Zerena berjalan di koridor sendiri, awalnya dia ingin menyapa Zerena tapi diurungkannya, karena melihat Zerena berjalan terburu buru.
Dia lalu mengikuti hingga Zerena Berhenti di depan sebuah ruangan, dilihatnya Zerena mengetuk pintu dan mengucap salam kepada seorang dosen yang masih muda, mungkin seumuran suami Zerena sendiri.
Alvin terus mengawasi sahabatnya
dan berusaha mendekat, dan ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.
Alvin tersenyum penuh kemenangan, saat Zerena mengangkat wajahnya dan berbicara lantang di depan dosen itu.
Setelah Zerena meninggalkan dosen itu, Alvin pun bergegas pergi sambil menelpon seseorang.
Zerena menatap jam tangan yang melingkar cantik di lengannya, sudah jam 14.30, akhirnya dia bisa pulang, dia sudah sangat merindukan putranya.
Dia berjalan menuju parkiran bersama Mita, di sana sudah ada Alvin dengan motor besarnya.
"Kalian mau pulang bareng?"
ucapnya menaik turunkan alisnya dengan genitnya.
"Kak Alvin kita kita mau kok pulang bareng kakak".
ucap para gadis-gadis senior mereka, sambil berpose bak model di depan mereka bertiga.
"Ok....
kalau gitu besok gua bawa truk buat ngangkut kalian!
gimana????"
Ucap Alvin dengan mimik wajahnya yang menjengkelkan.🙄🙄
"Ihhh nyebelin banget aihhhhh!"
kata mereka sambil berlalu pergi.
"Ya kali mereka diangkut pake truk, sekalian tuhhh pake kontainer"😄😄😄
ucap Zerena.
Meledaklah tawa ketiganya, membayangkan gadis cabe cabean itu diangkut menggunakan truk.
Sementara tanpa mereka sadari seorang pria tampan berdiri memperhatikan ketiganya.
"Eheem.....
Suaranya mengalihkan pandangan ketiganya, seraya menatap siapa yang berehem ehem di belakang mereka.
"Ehh Pak Dosen Killer,"
kata Mita keceplosan.
"Maksud saya Pak Fadhil,
ada apa ya Pak, kok Bapak belum pulang?
Tanya Mita ngeles.
Yang ditanya malah menatap wanita di samping Zerena, Zerena yang yang ditatap justru sibuk dengan Hpnya.
"Zerena.....
__ADS_1
Mau pulang bareng saya?"
ucapnya dengan tatapannya yang mendamba.
Karena sibuk chat dengan sang suami, Zerena tidak sadar dan tidak mendengar pertanyaan sang dosen,
sampai Mita menyenggol lengannya.
"Ada apaan sih Mita....?"
Kata Zerena dengan polosnya, membuat Mita dan Ryan serentak mencubit pipi chubby Zerena karena gemes.
Mita memberinya kode dengan kedipan, saat Zerena menoleh dilihatnya Pak Fadhil tengah berdiri menatapnya.
Zerena menarik nafasnya, mengingat kejadian tadi siang membuatnya sangat malas bertemu dengan laki laki ini.
Tanpa memberinya kesempatan berbicara, Zerena lantas pamit.
"Maaf ya semua, jemputan saya sudah datang, saya permisi dulu, mari semua, mari Pak!"
Ucapnya melenggang pergi ke arah mobil jemputan yang menunggunya sedari tadi.
"Kalau gitu kami juga permisi Pak"
Ucap Mita basa basi sambil buru buru masuk ke mobilnya, takut berurusan dengan dosen galak itu.
Lain halnya dengan Alvin, dia masih berdiri menatap tajam dosennya itu.
demikian juga dengan Fadhil, tersirat kebencian di matanya, melihat kedekatan Zerena dan Alvin.
"Sebaiknya anda hati hati dalam mengambil langkah, lebih baik mencari tahu, daripada anda hancur belakangan!"
Ucap Alvin lalu naik ke atas motor sportnya itu.
Sementara Zerena telah sampai di rumah kedua orang tuanya, setelah pelayan membukakan pintu dan menjawab salamnya, Zerena langsung ngeloyor masuk mencari anaknya.
Setelah berkeliling ternyata mereka sedang berkumpul di belakang taman, nampak putranya sedang bermain dengan Raka.
"Hai sayang......
Ucapnya sambil bersimpuh di depan kereta milik putranya, dikecupnya pipi bayi manis itu sampai puas, ditumpahkannya segala kerinduannya.
"Kamu kesini dengan siapa sayang?"
Ucap Mama Sinta.
"Dengan supir Ma, tapi udah ke kantor lagi katanya, mau jemput ka Ryan!"
Ucap Zerena sambil duduk di kursi malas.
"Kamu capek sayang?"
Tanya Mama Sinta lagi.
Zerena hanya mengangguk sambil memejamkan mata, dia begitu lelah hari ini, apalagi degan kejadian kejadian uang terjadi di kampus.
"Sayang, mending kamu mandi dulu biar badannya enakan nak!"
Kata Mamanya kembali kasihan melihat putrinya yang kelelahan.
Zerena mengangguk, lalu berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah, di bukanya pintu kamarnya, tak ada yang berubah, kamar itu tetap terawat dengan bersih walau tanpa penghuninya.
__ADS_1
Zerena mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, menyalakan shower memulai acara mandi mandinya.
Setelah selesai, dia mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Ashar, karena mengantuk Zerena akhirnya tertidur setelah selesai shalat.
Sudah beberapa jam telah berlalu, tapi Zerena belum bangun juga, jam sudah menunjukkan pukul 17.00 tapi dia belum bangun juga.
Untung saja stok ASI Aulian masih ada, jadi Omanya tidak perlu repot repot membangunkan putrinya untuk menyusui bayinya, dan membiarkan putrinya itu istirahat.
Tak berselang lama 2 pria tampan memasuki rumah dengan wajah yang begitu mirip, tapi beda generasi.
Ya dia adalah Roy Sanjaya, dan Ryan Sanjaya.
keduanya memberi salam kepada Mama Sinta.
"Assalamualaikum....."
"Waalaikumsalam...,"
Mama Sinta menjawab salam mereka sambil tersenyum melihat suami dan menantunya sudah pulang.
Dan jangan ditanya lagi bagaimana riangnya Aulian saat melihat Ayahnya berdiri di depannya, dia meronta ronta di gendongan Mama Sinta.
Ryan terkekeh melihat putranya yang sangat cerdas, dia sudah bisa membedakan Ayah dan Bundanya atau orang lain.
Ryan mengambilnya dari Mama Sinta, digendongnya putra kecilnya itu, sambil menghujaninya dengan ciuman ciuman maut.😅😅
"Ma....
Rena mana?"
tanya Ryan beralih menatap Mama Sinta.
"Dia di kamar sayang, mungkin ketiduran soalnya tadi pamit mau mandi, tapi nggak turun turun."
Mama Sinta kembali menimpali.
"Ya udah Ryan naik dulu Ma, Pa....
sekalian mandiin pria kecil ini!!!"
ucapnya sambil menggelitik putranya yang terkekeh kegirangan.
"Seneng ya Ma lihat mereka, bisa mandiri seperti itu", ucap Papa Roy memperhatikan menantu sekaligus keponakannya itu sampai hilang dari pandangannya.
"Iya Pa kita doakan saja anak anak kita selalu bahagia seperti ini, jauh dari segala masalah"
Ucap Mama Sinta sambil tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Ehem ehem......
ingat Raka masih disini lho...."
kata Raka yang melihat kemesraan orang tuanya yang tak mengenal tempat.
Papa Roy dan istrinya tertawa melihat putra bungsunya memberengut, dia tahu anaknya yang sudah beranjak remaja itu, sedang menjahilinya.
..."Ya udah Papa mau mandi dulu", Ucap Papa Roy bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamarnya....
Sedangkan di kamarnya Ryan melihat istrinya tertidur dengan nyenyaknya, dia tersenyum melihatnya, perlahan dikecupnya kening istrinya, lalu membawa putranya ke kamar mandi lalu memandikannya.
Selesai memandikannya, Ryan memakaikan pakaian Aulian dan segala embel embelnya, terlihat putranya sudah rapi dan tampan.
__ADS_1
Lalu dia mendudukkan putranya di samping Bundanya, lalu bergegas mandi juga sebelum Adzan maghrib berkumandang.
Zerena yang merasa ada yang memegang wajahnya, perlahan terbangun mendapati putranya sedang memegangi wajahnya, sambil berbicara ala dirinya sendiri.😂😂😂