
Mereka berangkat ke tempat dimana Mita disekap, Kelompok mereka bagi menjadi empat bagian, sebagian ikut Dion dan Alvin, sebagian lagi ikut Ryan, lalu papa Roy juga ikut ambil bagian.
Dengan bermodal cincin uang dipakai Mita, Dion dengan muda bisa mengetahui markas mereka, dimana mereka menyeka Mita.
Dion dan Alvin berhenti beberapa puluh meter dari bangunan besar di hadapan mereka.
Sebuah rumah mewah etnik Eropa, pasti pemiliknya adalah orang yang kaya raya, tapi sayang sekali rumah itu tampak usang dan tidak terawat seperti tidak ada yang tinggal dan merawatnya.
Alvin dan Dion, melihat keadaan sekitar, tampaknya sepi dan tidak ada penjagaan sama sekali.
"Aku yakin mereka di dalam, sedang siap siap dan menunggu kita,!"
Kata Dion sambil matanya terus mengawasi rumah besar di depannya.
"Tapi apa Mita masih ditempat uang sama???"
Ryan kini yang berbicara, rupanya mereka menggunakan alat yang menghubungkan mereka, jadi bisa berkomunikasi jarak jauh, tanpa menggunakan ponsel.
"Iya Mita masih di tempat yang sama!"
Kata Dion setelah memeriksa keberadaan Mita melalui ponselnya.
"Dion, sekarang kamu bergerak masuk dulu, setelah beberapa menit kemudian baru Alvin akan menyusul, dengan begitu kita dengan mudah bisa merobohkan pertahanan mereka, karena saat Dion masuk, mereka hanya akan fokus pada Dion dan pasukannya.
Saat itu dengan mudah Alvin, bisa menghabisinya, dan saat Alvin mengambil alih serangan, masuklah ke tempat dimana Mita berada!"
Kata Papa Roy dari seberang.
"Baik Tuan, saya mengerti!"
Dion dan Alvin bersiap siap, dengan senjata masing masing mereka masuk pelan pelan ke dalam rumah itu.
Seperti yang mereka perkirakan, ternyata musuh sudah bersiap di dalam, "Saat aku membuka pintu kalian semua harus merunduk!, paham?"
"Iya Tuan!" jawab mereka serempak.
Dion menendang pintu, dan bersamaan dengan terbukanya pintu itu, suara peluruh bergemuruh dari dalam, semua orang orang Dion merunduk seperti yang diperintahkan sebelumnya.
Dengan lihai, Dion menembak mereka secara beruntun, orang orang yang menembak dibalik pintu itu tewas di tangan Dion.
Dion dan pasukannya masuk, dengan kewaspadaan penuh, mereka tahu ada banyak mata yang sedang mengintai mereka, dengan cepat mereka mengambil posisi dan berlindung di beberapa tempat.
__ADS_1
Dion kembali melepaskan timah panas miliknya ke arah aquarium besar yang ada di tengah tegah ruangan, aquarium itu pecah bersamaan dengan robohnya seseorang dari sana.
Dari lantai atas muncullah orang orang yang menggunakan pakaian serba hitam, mereka menembak membabi buta, orang orang itu semakin banyak, mereka terus mendesak pasukan Dion, dan membuat pertahanan Dion hampir lumpuh.
Tapi dari arah belakang muncul Alvin dan pasukannya, mereka terus menggempur lawan lawannya tanpa ampun, melihat keadaan sudah stabil, Alvin memberi kode ke Dion, agar keluar dari arena dan mencari dimana Mita berada.
Dari video yang dia lihat tadi, Mita masih berada di lantai bawah, Dion membuka ponselnya dan mengikuti titik, dimana mereka menyimpan dan menyekap Mita.
Dion membuka ruangan demi ruangan, tapi tak menemukan ruangan tempat Mita di sekap oleh mereka.
"Mencari siapa anak Muda??"
Kata seseorang di belakang Dion, Dion membalikkan badannya, sebuah pistol telah menempel di kepalanya.
"Turunkan senjatamu, dan panggil tuanmu kemari kucing manis!!!"
Orang yang tidak lain adalah Raden, menatap sinis ke arah Dion, Dion tersenyum lalu menurunkan senjatanya.
"Kucing manis???
Lalu kau sendiri apa, kelinci yang bermimpi menjadi singa???
Dion menyeringai lalu meludah, Raden benar benar dibuat panas dengan kata kata Dion, bibirnya bergetar menahan amarah.
"Sekali saja aku menarik pelatuk dari pistol ini, maka kepalamu akan hancur, jadi jangan membuat sesuatu yang membahayakan hidupmu anak muda!"
"Apa kau melihat mereka, mereka akan membunuhmu tanpa sisa kalau aku perintahkan!"
Raden menunjuk orang orangnya yang sedang menodongkan pistolnya ke arah Dion.
Puluhan orang orang Raden siap menancapkan timah panas ke tubuh Dion, tapi bukannya takut, Dion malah tertawa karena saat ini, dia sedang mendengarkan dari alat yang terpasang di telinganya.
Bahwa Papa Roy, sudah masuk ke dalam ruangan rahasia itu, Papa Roy dengan mudah bisa masuk ke sana, karena bukan perkara sulit baginya, untuk bisa masuk ke sana.
Dion sengaja mengulur ulur waktu, bahkan dengan sengaja menghina Raden, agar Papa Roy bisa membawa segera Mita dari tempat itu.
Tiba tiba seorang anak buah Raden, dan berbisik ke telinga Raden,
Raden melotot, dan wajahnya memerah, saat akan menarik pelatuk dari pistol yang ada di tangannya, tiba tiba dari arah lain, Ryan datang dan menembak pergelangan tangan Raden.
Raden berteriak dan meringis, tangannya berlumuran darah, dia memberi aba aba dan adu tembak menembak tak dat dielakkan lagi, Sementara Alvin yang bernasib sama dengan Dion, kini berhasil memukul orang yang telah mengacungkan pistol ke lehernya.
__ADS_1
Hampir satu jam adu senjata itu terus berlangsung, hingga akhirnya, mereka semua bisa dilumpuhkan, dan tidak lama setelah itu polisi datang dan mengepung tempat itu.
Polisi kini membekuk orang orang Raden, tapi Raden menghilang entah kemana, Ryan kehilangan jejaknya, akhirnya mereka pulang dengan nafas lega.
Sementara Mita kini berada di mobil Papa Roy, dan akan mengantarnya pulang, walau tidak melihat wajahnya langsung, tapi Dion bersyukur gadis cerewet itu selamat.
Alvin menyandarkan tubuhnya di samping Dion, dia benar benar lelah, begitupun dengan Dion, saat ini mereka bertiga berkumpul di mobil yang sama, supir mendadak menginjak rem secara tiba tiba, membuat ketiga pria itu harus berakhir degan jidat uang benjol.
"Ada apa???"
ucap mereka bertiga.
"Ada Nona Muda, Tuan!"
Ryan dan yang lain menoleh dan menatap ke depan, di sana Zerena sedang berdiri dengan sangat mengenaskan.
Ryan bergegas keluar, dan melihat keadaan istrinya, diikuti Dion dan Alvin.
"Sayang, ada apa?
kenapa keluar dari rumah??"
Ryan meraih tubuh istrinya, membawanya ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan Ibu muda tersebut.
"Kak, Aulian dibawa mereka, tadi aku melawan mereka, tapi karena jumlah mereka banyak, aku aku bisa menyelamatkan putra kita Kak!"
Ucapnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Sudahlah, kamu tenang, nanti kita cari sama sama!"
Zerena mengangguk, dan mengikuti suaminya yang menggandeng tangannya memasuki mobil, sementara kedua sahabatnya masuk ke mobil yang lain di belakang mereka.
"Sayang, lalu Mama mana???"
Ucap Ryan, karena tak melihat keberadaan Mama Sinta, saat mereka telah sampai.
"Aku nggak tahu Kak, Mama juga hilang!"
Isak tangisnya pun pecah, karena telah kehilangan anak dan Ibu yang sangat disayanginya.
Ryan berusaha menenangkan istrinya, "Sepertinya dia benar benar ingin membuat aku marah!" batinnya dengan tangan terkepal kuat.
__ADS_1