Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 29


__ADS_3

Zerena mencoba mencerna kata kata suaminya, "Rumah kita, jadi kita akan tinggal disini?" gumamnya nyaris tak terdengar.


Sementara Ryan berusaha meyakinkan istrinya dengan mengangguk pasti.


"Iya sayang, maaf kalau ini membuatmu syok" ucapnya sambil menggenggam jemari lentik milik Zerena.


"Tapi Kak, apa mama dan Papa ngijinin kita pindah rumah?"


ucapnya Zerena dengan polosnya.


"Yang menjalani kita sayang, jadi kita harus mandiri, kita tidak boleh terus bergantung kepada mereka,


toh suatu saat nanti kita juga pasti akan punya rumah sendiri"


ucap Ryan sambil menuntun istrinya duduk di Ruang keluarga.


"Em iya deh Kak, kalau memang harus begitu, tapi kita cuma tinggal berdua aja nih Kak?"


jawab Zerena sambil matanya melihat ke segala penjuru memastikan.


"Tidak sayang, di sini ada bibi yang akan mengurus dapur, biar kamu nggak capek, terus ada Suaminya si Bibi yang jadi Security kita di depan, dan aku akan menambah pelayan untuk bantu kamu bersih bersih rumah dan taman".


"Terus kapan kita pindah Kak?"


Lanjut Zerena menatap suaminya.


"Nanti kita bicarakan dulu dengan Papa dan Mama sayang".


Ucapnya sambil membelai pipi gembul putranya.


"Oh iya kamu haus nggak, mau minum es teh manis buatan Bibi baru nggak?"


Kata Ryan sambil tersenyum dan menarik turunkan kedua alisnya, menggoda istrinya.


Mendengar kata Es teh manis, membuat jiwa kehausan Zerena meronta ronta, dengan serta Merta mengangguk cepat.


Ryan Berteriak memanggil sang Bibi, dan benar saja dari arah belakang muncul seorang wanita berumur sekitar 40 tahun, berjalan menuju ke arah mereka.


Penampilannya sederhana tapi rapi, membuat Zerena tersenyum manis, dia berdiri lalu mengucapkan salam ke arah Bibi itu.


"Assalamualaikum Bi, kenalkan sama Zerena istrinya Kak Ryan".


Ucapnya sambil menekankan kata ISTRI pada pembantunya, lalu dia beranjak mengulurkan tangannya kepada Bibi dan mencium tangan wanita itu.


"Ya Allah Non, jangan nyium tangan Bibi!"


ucapnya sambil menunduk dan raut wajah ketakutan, mengingat suami sang wanita di depannya sangat dingin, bahkan lebih dingin dari Es teh manis kesukaan Zerena.


"Nggak apa apa kok Bi, oh iya nama Bibi siapa, dan suami Bibi juga?"


Zerena mencoba berinteraksi dengan pembantunya untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.


Saya Nani Non, terus Suaminya Bibi namanya Pak Udin".

__ADS_1


ucapnya lagi.


"Oh ya Bi, Rena boleh minta dibikinin Es teh manis 2 aja, boleh?"


Kata Zerena akhirnya.


"Iya Non, saya permisi ke belakang dulu".


ucap Bibi Nani berlalu pergi, sebenarnya dia sangat menyukai majikan wanitanya, saat pertama bertemu dengan Zerena dia dapat menyimpulkan bahwa wanita muda itu pasti sangat baik.


"Mudah mudahan aku bisa bekerja dengan baik kepada mereka, karena walau suaminya menakutkan begitu tapi istri sangatlah baik, dan kayaknya mereka punya bayi kecil, manis sekali masih muda mereka sudah nikah, punya anak, kaya pula!"


Tak lama Bibi Nani keluar membawa nampan yang berisi 2 gelas es teh manis pesanan Zerena.


"Makasih ya Bi"


ucap Zerena dengan senyum tulus.


Setelah Bibi Nani pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, Zerena dan Ryan duduk mengobrol sambil menikmati es teh manis buatan Bibi Nani.


"Kak kapan kita pindahan?"


ucapnya antusias.


Sepertinya dengan cepat dia berubah pikiran, yang tadinya tidak mood, sekarang begitu bersemangat, apa ini ada hubungannya dengan efek Es teh manis.......???


hohoho.......


hanya dia dan Tuhan yang tahu😘


Di dalam mobil tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka Zerena sibuk mengoceh bersama Putranya, sementara Ryan fokus menyetir melihat ke jalanan.


Semenjak masuk ke mobil Aulian terbangun dan sibuk mengoceh tidak jelas, membuat Ryan tersenyum melihat kelakuan putranya.


Sepertinya putranya nanti akan menjadi pria cerewet seperti Mama Sinta dan Mama Vera.πŸ˜‚


Tak lama kemudian mobil mereka telah sampai di rumah, Di depan Mama Sinta sudah menunggu kedatangan cucunya sedari tadi.


Disongsongnya kedatangan sang cucu, diambilnya dari dekapan Zerena.


"Aish cucu Oma makin ganteng aja, dari jalan jalan sayang yah?"


ucapnya sambil mencium seluruh wajah sang bayi.


"Ren....


kamu mandi dulu sayang, biar Aulian sama mama dulu sayang"


ucapnya sambil membawa cucunya masuk ke dalam rumah.


"Iya ma, titip Lian yah".


Zerena naik ke kamarnya, tubuhnya terasa lengket karena keringat, dia mau berendam dulu, tanpa gangguan Kedua prianya.

__ADS_1


Sementara di bawah, Ryan mengikuti mama Sinta menuju ruang keluarga.


Ryan duduk di sofa di samping Papa Roy.


"Gimana Yan, apa Zerena suka?"


kata Papa membuka percakapan.


Iya Pa, awalnya dia seperti syok tapi setelah Ryan omongin panjang lebar, Kayaknya dia sudah mulai mengerti".


"Syukurlah, sebenarnya Papa juga berat Nak, tapi Papa tidak bisa memaksa kalian untuk tetap disini, karena kalian sudah punya kehidupan sendiri".


ucap Papa Roy sendu.


"Papa dan Mama mendukung apapun yang terbaik buat kalian".


Ucap Mama Sinta berkaca kaca.


Ryan mengangguk, dia sebenarnya tidak tega meninggalkan Orang tuanya dan mertuanya di rumah ini, tapi ini sudah Resiko, dia sudah memiliki keluarga sendiri, jadi lambat laun pasti suatu saat nanti dia pasti akan membawa anak dan istrinya.


"Ya udah, Mama mau mandiin Lian dulu yah, biarin aja Zerena istirahat", ucap Mama Sinta sambil menggendong Cucunya untuk dimandikannya.


Ryan sudah menyampaikan keinginannya seminggu yang lalu kepada mertuanya, awalnya sang Papa menolak untuk memberi ijin, tidak rela menantu dan anaknya pergi, tapi setelah Ryan memberinya pengertian yang logis akhirnya dia mau tak mau memberikan izin.


Dan jangan ditanya lagi reaksi Mama Sinta,dia dengan lantang menolak mentah mentah keinginan sang keponakan alias menantunya itu.


Butuh beberapa hari untuk meluluhkan hatinya, bahkan Papa Roy berjuang sedemikian rupa, hanya untuk menjinakkan kucing Anggora yang ngambek.πŸ˜†πŸ˜†


Akhirnya setelah melalui proses yang panjang, dan jalan berbelok dan berliku, Nama Sinta akhirnya mau juga.πŸ‘πŸ‘πŸ‘


Sementara di dalam kamar di atas, Zerena masih asyik berendam, setelah puas dia kemudian membilas tubuhnya lalu menyelesaikan ritual mandinya, tak lupa mengambil wudhu karena Maghrib bentar lagi.


Setelah selesai memakai pakaiannya, Zerena melaksanakan shalat Maghrib.


Setelah selesai Zerena, turun mencari keberadaan Suami dan Anaknya, ternyata putranya sudah mandi dan wangi, dia sedang bermain bersama Raka.


Saat ini Lian berada di atas karpet bulu, sedang berusaha sekuat tenaga untuk bisa tengkurap, tapi berkali kali dicobanya selalu saja gagal, wajahnya memerah menahan marah.


"Aih Putra Bunda mau tengkurap ya sekarang?"


ucap Zerena menghampiri putra dan adiknya,


Saat Raka memberi komando dengan sigap Aulia akan memiringkan tubuhnya, dan mencoba dan terus mencoba tengkurap.


Dengan sekuat tenaga dia berusaha melakukannya, hingga pada akhirnya........


ternyata.........


yeeeee........


berhasil, berhasil, berhasil,


teriak Raka kegirangan.

__ADS_1


Semuanya tertawa bersama, melihat Om dan ponakan itu berjuang demi sesuatu yang selama ini mereka tunggu tunggu.πŸ’ͺπŸ‘πŸ‘


__ADS_2