Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 68


__ADS_3

Ryan masuk ke dalam rumah sambil menggendong putranya, terlihat Zerena membantu Mama Sinta berjalan, mungkin karena masih syok keadaan Mama Sinta masih tampak lemah.


"Mama...."


Sisil membantu Zerena membawa Mamanya ke kamar, mereka tidak terlalu repot karena kamar Mama Sinta memang berada di bawah, alasannya karena tidak sanggup turun naik tangga katanya, maklum udah berumur.


Setelah membaringkan Mamanya, Zerena dan Sisil lalu menyelimuti wanita yang sangat mereka sayangi itu.


Dari luar tampak Mama Vera masuk, dia duduk di sisi kasur, sambil membelai rambut sahabatnya sekaligus iparnya itu.


"Sin, kamu nggak apa apa kan??"


Ucap Vera dengan bibir bergetar, baru beberapa hari yang lalu mereka bersenang senang Malaysia, pergi ke tempat wisata, dan berbelanja di Mall, tapi sekarang dia melihat adik iparnya seperti ini.


"Enggak kok Ver, aku nggak apa apa, aku hanya butuh istirahat, mungkin besok udah segar lagi."


Ucap Mama Sinta, berusaha meyakinkan Mama Vera, mereka keluar dan membiarkan Mama Sinta istirahat.


Zerena memeluk Ma Vera dan Sisil bergantian, rasanya sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan kedua wanita cantik di depannya.


Zerena pamit, ingin melihat keadaan putranya terlebih dahulu, di kamarnya tampak Aulian sedang tidur nyenyak, anak itu sesekali tersedu dalam tidurnya, mungkin kejadian tadi siang masih membekas di ingatannya.


Setelah memastikan anaknya baik baik saja, dia kemudian keluar untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, kebetulan kamarnya dan kamar anaknya bersebelahan jadi dia dengan muda bisa bolak balik untuk melihat keadaan putra kesayangannya.


Setelah mandi dan menunaikan shalat Maghrib yang hampir terlewatkan, Zerena keluar untuk menemui Mertua dan adik adiknya.


"Hay Ky, darimana???"


ucap Zerena sambil memeluk Rezky dan Raka bergantian.


"Dari nganterin Kak Dion dan Kak Alvin, mereka mau pulang, katanya gerah nggak pernah mandi."


Rezky dan Raka


memiliki sifat yang terbuka, mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan dia gampang akrab dengan orang orang di sekelilingnya, makanya Rezky dengan mudah bisa berinteraksi dengan orang orang di perusahaan dan perkebunan di Malaysia.


Berbeda dengan Sisil, dia lebih dingin, dan terkesan angkuh, sebagian orang mengatakan bahwa adiknya satu ini, mewarisi sifat dari Ryan, lebih tepatnya Papa Andre.


"Lho kenapa Kak Dion sama Kak Alvin nggak ditahan, mereka pasti lapar lho Ku, tadi udah bertarung dengan para penjahat demi nolong ponakan kamu dan Mama!"


Ucap Zerena sambil melirik ke arah Sisil, yang sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Udah Kak, tadi Rezky udah coba buat nahan, tapi katanya lain kali aja, ntar ada yang marah kalau Kak Alvin lama lama disini, katanya ada yang mukanya jutek kalau melihat wajah tampan Kak Alvin!"


Rezky, menjelaskan panjang lebar kata kata Alvin, saat mereka sudah berada di luar rumah.


Zerena tertawa, mendengar penuturan adiknya, dia tahu orang yang dia maksud adalah Sisil, tapi tidak usah muji diri sendiri juga kali.


"Ya udah kita makan yuk, bentar aku panggil Mama Papa dulu!"


Zerena melangkah ke ruang keluarga dimana, Papa dan Mama serta suaminya sedang mengobrol.


"Pa, Ma, Kak Ryan makan yuk!"


ucapnya sambil menarik tangan suaminya, pria itu nampak sudah selesai mandi mungkin mandinya di kamar yang lain.


Mereka makan malam dengan riang, ada. makan tanpa berbicara kalau sedang makan tidak berlaku saat Raka dan Rezky sedang berkumpul, karena ada saja yang mereka akan perdebatkan.


Mulai dari makanan favoritnya, sampai soal siapa yang lebih tampan, mereka tidak akan ada yang mau mengalah.


Zerena bangkit dari duduknya setelah selesai makan, lalu mengambil piring kosong, dan mengambil nasi serta lauk.


"Pa, Ma, Kak Ryan, aku ke kamar Mama Sinta dulu, Mama belum makan apa apa, takutnya Maag nya kambuh!"


Mereka serentak mengangguk karen mulut masih terisi penuh dengan makanan, Zerena masuk dan melihat Mamanya sudah terbangun, dia memegang nampan, yang berisi sepiring makanan dan segelas teh hangat untuk Mamanya.


Zerena meletakkan nampan di atas nakas, lalu membantu Mama Sinta untuk duduk, dia menyuapi wanita yang telah melahirkannya 20 tahun yang lalu.


Mama Sinta makan hanya sedikit, setelah meminum teh hangat buatan putrinya dia kembali berbaring, melanjutkan tidurnya.


Zerena memastikan Mama Sinta sudah tidur, setelah mendengar dengkuran halus dari wanita itu, dia lalu membenarkan selimutnya dan keluar dengan pelan pelan.


"Kak bagaimana keadaan Mama?"


Tanya Sisil saat Zerena turun membawa piring bekas makan sang Mama.


"Udah mendingan, tadi udah tidur lagi, mungkin pengaruh obatnya makanya dia maunya tidur terus."


Jawab Zerena seraya berjalan ke dapur, dan mencuci semua perabot yang dia pakai tadi.


Sisil terus mengekor dari belakang, walau tanpa berbicara Zerena menyadari kehadiran adiknya itu di belakangnya.


"Ada apa Sil, Kok ngikutin Kakak terus?"

__ADS_1


Zerena menatap wajah adiknya dengan seksama.


"Nggak kok Kak Rena, Sisil cuman kangen aja sama Kak Rena!"


ucapnya sambil memeluk wanita cantik di depannya, wanita yang hampir satu tahun ini dia rindukan.


Tanpa Zerena sadari Sisil ternyata sudah terisak di bahunya,


"Sil, kamu kenapa?"


Sisil menggelengkan kepalanya, bagaimanapun orang orang dan alam membentuk pribadi Sisil menjadi Wanita dingin dan Arogan, dia tetaplah gadis kecil seorang Roy Sanjaya, yang manis dan lucu.


Wajah dingin itu mungkin berlaku untuk orang lain tapi tidak untuk Kakak dan saudaranya yang lain.


Zerena mengelus rambut indah adiknya yang bergelombang di ujungnya.


"kenapa menangis, kamu ada masalah???"


Tanya sambil memegang lembut kedua pipi adiknya.


"Enggak, Sisil kangen sama Kak Rena aja, katanya Kak Rena bakalan sering sering melihat Sisil disana, tapi buktinya Kakak nggak pernah ke sana!"


Zerena terhenyak mendengar kata kata adiknya, ternyata itu yang membuatnya sedih.


"Hei kamu tahukan Kakak punya baby, dan Kakak juga harus kuliah???"


"Iya Sisil tahu, maaf...!"


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Sisil, karena perasaan rindunya kepada sang Kakak membuat merajuk seperti anak kecil.


"Sil, Kakak Minta kamu jangan seperti tadi ke Kak Alvin lagi!


dulu aja waktu masih SMP, kamu minta dianterin terus sama Kak Alvin ke sekolah, kenapa sekarang kamu malah judes gitu coba?"


Sisil memajukan bibirnya beberapa senti ke depan, membuat Zerena gemes melihat adik kesayangannya, karena dia satu satunya adik perempuan Zerena maka Zerena selalu memanjakannya.


"Dia mempertaruhkan nyawanya untuk membantu Papa dan Kak Ryan, jangan pernah membedakan antara Kak Ryan, Kak Dion, dan Kak Alvin, kamu harus menganggap mereka sama, anggap seperti Kakak kamu, nggak boleh judes, mukanya di jelek-jelekin di depan Kak Alvin.


"Bukan di jelek jelekkin kak tapi memang udah jelek dari Sononya!"


Tiba tiba Raka muncul di belakang mereka.

__ADS_1


Sisil berlari mengejar Raka sambil membawa spatula dari dapur, ingin rasanya Sisil menjambak rambut pria kecil yang sok dewasa itu, dan memukul wajahnya dengan spatula, biar hitam kayak wajan sekalian.😂😂😂


__ADS_2