
"Boleh saya ikut duduk disini?"
Ucap seseorang yang tiba tiba sudah berdiri di depan mereka.
Ketiganya kompak menoleh dan melihat Dokter Alief yang sudah berdiri, dengan wajah memelas.
"Tentu saja dokter, kenapa harus ijin, bukankah ini tempat umum?
Semua berhak duduk disini, asal tidak duduk di pangkuan saya!"
Ucap Mita berkelakar, membuatnya kedua temannya mencubit pinggangnya bersamaan.
"Jangan genit Mit, ingat Dion.
kamu mau dikurung dan tidak boleh kemana mana?"
Zerena mencibir ke arah Mita, mengingatkan kekasih Mita yang posesif.
"Ok, ok!
Tapi silahkan duduk dokter, nanti kakinya kesemutan!"
Mita tersenyum kecil, sambil mempersilahkan dokter itu duduk.
Fitri yang sedari tadi yang hanya terdiam, memperhatikan Dokter Alief dengan seksama.
"Ada yang aneh!"
gumamnya.
"Aneh kenapa Fit?"
tanya Zerena.
"Em mm, ini makanan aku rasanya aneh!"
Fitri tergagap karena rupanya Zerena mendengar ucapannya.
Menurut pengamatan Fitri, selama dokter Alief berdiri dan berbicara, matanya selalu melirik ke wajah Zerena.
Memang sih walau tertutup hijab, Zerena tidak kehilangan auranya, dia bahkan lebih cantik dan bersinar.
Mereka kini makan tanpa suara, hanya dokter Alief yang sesekali melirik dan mencuri curi pandang ke Zerena.
Jam istirahat berakhir,mereka harus kembali ke pekerjaannya masing masing,
hari ini Zerena benar benar sangat kelelahan, selepas jam istirahat, Zerena harus ikut masuk ke ruang operasi, karena ada pasien yang sedang gawat.
Selama tiga jam berada di ruang operasi, akhirnya dia bisa bernafas lega, karena operasi berjalan lancar.
Zerena sudah mahir, walau masih harus didampingi oleh dokter pembimbingnya, dan bersyukur sekali karena hari ini, bukan Dokter Alief yang menjadi dokter pembimbingnya.
Tetapi seorang dokter wanita, yang bernama, Dokter Radha.
__ADS_1
Namanya India India gitu, tapi wajahnya Indonesia banget, dengan kulit kuning Langsat, tubuh
lumayan tinggi, dan padat berisi.
Dia juga salah satu dokter favorit Zerena, karena sangat manis, dan berjiwa sosial yang tinggi, dia tidak segan segan Turin tangan sendiri untuk membantu anak anak magang, yang kadang kadang selalu mendapat perlakuan tidak adil dari beberapa pembimbing.
"Ren, Setelah lulus kamu harus ngambil S2 kamu, biar bisa ambil jurusan, mau jadi dokter apa kamu nantinya, jangan hanya menjadi dokter umum, itu kurang greget!"
Kata Dokter Radha, begitu mereka selesai bekerja di meja operasi, dan sekarang menuju ruangan dimana mereka bisa beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan operasi berikutnya.
"Iya Dok, rencananya seperti itu, tapi saya harus mendiskusikannya dulu dengan suami saya,
walau sebenarnya dia tidak pernah melarang saya selama itu baik untuk saya, dan masa depan saya!"
"Wah jadi kamu sudah bersuami!"
Ucapnya setengah berteriak, karena yang dia baca dari biodata Zerena, wanita di sampingnya ini baru berumur 20 tahun, memang umur yang masih sangat muda, pasti dia sangat pintar di sekolah dan di kampusnya, sampai di umurnya yang 20 tahun, dia sudah magang.
"Iya Dok, bahkan sudah punya bocil!"
Ucapnya bangga karena sudah punya anak!"
Dokter Radha semakin dibuat melongo,
"Hai bisa bisanya anak kecil seperti kamu, tapi sudah punya anak, ya ampun, aku ketinggalan jauh ini mah!"
Keduanya tertawa lepas seperti seorang saudara yang sedang berbagi cerita hidup.
Bangga aku sama kamu!"
"Aish apaan sih Dok, masa iya orang nikah muda kok bangga, aku nggak bangga Dok, justru aku sering bingung!"
Kata Zerena sambil mengedipkan sebelah matanya.
Keduanya kembali tertawa, sambil menjatuhkan tubuh mereka di kursi.
Pukul 16.00, Waktunya mereka pulang.
begitupula dengan Zerena, setelah membersihkan tangannya, dia mencari Mita.
kebetulan Mita dan Fitri, sepertinya sedang menunggunya di luar ruangan.
"Ren, tungguin!"
ucap Dokter Radha, yang mulai akrab dan menyukai Zerena yang polos dan apa adanya.
Mereka berjalan beriringan, menuju ke arah Mita dan Fitri, yang sedang duduk menunggu mereka di bangku, di luar ruangan pasien.
"Selamat sore Dokter!"
ucap Mita dan Fitri kompak.
para wanita itu berjalan beriringan di koridor rumah sakit, menuju ke parkiran.
__ADS_1
Sesampai disana, Ryan sudah menunggu Zerena, dengan stelan jas lengkap, sepertinya dia baru saja pulang dari kantor, sekarang Zerena bisa melihat kan, hasil dari cemburu buta ya, sekarang seharusnya suaminya itu bisa pulang ke rumah, tapi karena dia maunya dijemput sendiri oleh Ryan, dan tanpa perantara sopir.
Inilah jadinya, suaminya harus menahan lelah, agar bisa menjemputnya, dan satu lagi, katanya ini agar gadis gadis tidak berani lagi kecentilan di depan Ryan, tapi dia sendiri yang membuat Ryan harus selalu menjadi tontonan gratis buat mereka.
Zerena berlari meninggalkan ketiga temannya, dan memeluk pria tinggi di depannya, Radha dan Fitri sudah bisa menebak, bahwa pria tampan itu adalah suami temannya.
"Mit, suami Zerena ganteng banget ya?
masih nggak stoknya?"
ucap Fitri sudah mulai beraksi, membuat Radha, memberinya Kitakan di kepalanya.
"Belajar dulu yang bener, baru mikirin pria, kamu itu belum jadi apa apa, udah keganjengan!"
Mita menutup mulutnya menahan tawa, dan dilihatnya Fitri sudah memonyongkan mulutnya beberapa senti ke depan.
Tapi beberapa detik kemudian, Mita dibuat menggeleng kepala, karena kelakuan Dokter Radha.
"Tapi Mit, kalau memang masih ada aku mau dong satu!"
Ucapnya lalu tertawa cekikikan.
Mereka berhenti, menatap pemandangan di depannya, sungguh indah, gadis kecil itu bergelayut manja ke suami, yang sudah menjaga dan membesarkannya.
hehehe.
Zerena yang baru menyadari kelakuannya, melepas pelukannya dengan cepat, lalu berlari kembali ke arah teman temannya.
"Maaf, aku lupa kalau kalian masih disini!"
ucapnya sambil menangkupkan tangannya, lalu tersenyum manja ke mereka bertiga.
Kompak mereka memutar bola matanya malas, "Kau itu sungguh keterlaluan, saat ada suamimu, kau malah melupakan kami!"
ucap Fitri pura pura merajuk.
Zerena hanya tersenyum cengengesan, sementara Ryan dengan sikapnya yang dingin dan pandangan yang datar, seperti tidak terjadi sesuatu.
Ketiga teman teman Zerena tiba tiba diam, mulutnya seperti terkunci melihat penampakan di depannya.
"Aish dingin sekali suami kamu Ren!"
Bisik Radha,tapi masih bisa terdengar oleh yang lainnya.
Zerena hanya tersenyum, "Mbak, dia itu suami aku lho!"
Kata Zerena memanyunkan bibirnya, tak rela suaminya dikata katai seperti itu.
Zerena hanya memanggil Dokter pada Radha, saat sedang bekerja saja, ketika di luar dia akan menjadi teman sekaligus sahabat yang baik.
"Ya udah, kamu buruan gihhhh pulang, suamimu sudah menunggumu, jangan sampai kami yang diantar pulang!"
Lagi lagi Fitri yang menggoda Zerena, dan sukses membuat Zerena menghentak hentakkan kakinya di tanah.
__ADS_1