
Seseorang keluar dari dalam rumah, karena mendengar suara ribut ribut di depan rumahnya.
"Ehem......."
Suara pria paru baya itu sukses mengalihkan perhatian semua makhluk makhluk yang pembuat onar tersebut.
Seorang pria bertubuh tinggi besar, memakai kaos oblong dan sarung kotak kotak, dan peci di kepalanya, terlihat berdiri menatap tajam ke arah Dion the geng.
Untuk sesaat semua terdiam, jangan lagi ditanya bagaimana reaksi Mita, tubuhnya gemetar menahan takut, pria seram di depannya membuat nyalinya menciut.
Dia bersembunyi di balik tubuh Dion, tidak berani lagi menatap ke depan.
"Selamat pagi Mbah, maaf mengganggu!"
Alvin memberanikan diri berbicara, tapi pria di depannya diam saja menatapnya tajam, entah apa yang salah dengan ucapannya.
"Dion, bisa kau jelaskan kenapa temanmu ini memanggilku dengan sebutan Mbah?"
Ucap pria itu meminta penjelasan ke Dion, sementara Dion menunduk menahan tawanya yang hampir meledak.
"Dion.....!"
Puff puff pufff....
Tawa Dion benar benar pecah, ke empat temannya bengong melihatnya, aneh melihat kelakuan pria dingin itu.
Mita sampai hampir meneteskan air liur, menatap Dion yang tertawa sambil memegangi perutnya, dia melihat sisi lain dari Dion, "manis"....
batin Mita.
Beda lagi dengan Zerena dia malah ketakutan, tanpa sadar melompat ke arah Ryan, lalu memeluk Ryan.
"Kak, Jangan jangan Dion juga kesurupan!"
Zerena berbisik di telinga suaminya, membuat Ryan tersenyum sambil menyentil pelan kepala istrinya.
"Paman, kenalkan ini teman teman Dion!"
akhirnya Dion membuka suara setelah berhenti tertawa.
__ADS_1
"Ya sudah , suruh mereka masuk ke dalam, jangan lupa katakan pada teman temanmu aku bukan Mbah!"
Pria itu bergegas masuk, diikuti Dion dan yang lainnya, sepertinya teras rumah ini sekaligus ruang tamu, karena saat masuk ke teras, nampak beberapa kursi kayu berukiran dengan bantal bantal sofa diletakkan di atasnya, kursi itu membentuk huruf L, nampak anggun menghiasi teras itu, dan beberapa ornamen lainnya.
Lalu di bagian dindingnya , dekat dengan pintu utama, ada sebuah kaligrafi ayat kursi, melihat itu Alvin semakin penasaran.
"Dion, kenapa rumah dukungnya, ada banyak kaligrafi ayat ayat Alqur'an?"
Dion hanya, mengangkat bahunya, tidak menjawab pertanyaan Alvin, setelah masuk ke dalam, nampaknya itu ruang keluarga karena ada TV disana, dengan karpet serta bantal bantal unik di depannya.
Tapi Dion tidak berhenti di sana, dia membuka pintu samping, lalu mereka melewati jalan setapak dari batu batu alam, seperti di taman taman pada umumnya.
Sampailah mereka di belakang rumah, pemandangan indah kembali tersaji di depan mata, di tempat mereka berdiri, ditanami rumput hijau yang terawat dengan baik, lalu disitu lagi lagi ada sebuah bangunan mirip saung tapi ini lebih besar dan cukup menampung orang lebih dari 10.
Tempat itu seperti taman mini, karena di tumbuhi pepohonan kerdil, dengan berbagai jenis.
Mereka lalu naik ke bangunan yang mirip saung, mereka duduk melepas penatnya, angin semilir membuat mereka jadi mengantuk.
Yang lebih membuat mereka kagum, dipinggir, lebih mirip pematang, tumbuh berbagai macam pohon, dan diantara pohon pohon itu ada yang sedang berbuah.
"Kak, disini indah banget!!!"
Lamunan mereka buyar saat pria tersebut datang bersama seorang wanita, yang mungkin adalah istrinya, ditangannya membawa nampan berisi gelas gelas minuman.
Wanita tersenyum lembut, wajahnya kelihatan teduh, garis garis kecantikannya masih tampak jelas di wajahnya, yang mulai mengeriput.
Ryan mengulurkan tangannya mencium tangan kedua suami istri tersebut disusul oleh Dion, otomatis, Zerena ,Mita, dan Alvin dibuat bingung, tetapi ikut melakukan hal yang sama.
"Paman, maaf kalau mengagetkanmu, kami kemari hanya ingin melihat keadaan Paman."
Dion tersenyum menatap kedua orang yang sangat disayanginya, Paman Roni dan Bibi Marlina.
Mereka sudah lama tinggal disini, menjauh dari hiruk-pikuk kota Jakarta, mereka ingin menghabiskan masa masa tua mereka dengan berkebun dan bersawah.
"Apa kau kemari membawa calon istrimu?"
Tanya Bibi Marlina, tersenyum simpul melihat Mita yang sedari tadi memegang lengan Dion, Mita sontak melepas tangannya yang menempel di lengan Dion.
Padahal mereka tidak tahu kalau Mita memegang lengan keponakannya, karena takut, mengira Paman Roni adalah dukun.
__ADS_1
"Dia Mita, teman istri bos saya paman!"
Dion mengelak, padahal jantungnya sudah dag dig dug.
"Paman, maaf Mita pikir, Paman itu dukun, soalnya Dion bilang mau membawa saya menemui seorang dukun"
Mita menjelaskan alasannya, kenapa sampai ia terus menempel kepada Dion.
Mereka semua tertawa,ternyata Dion hanya mengerjainya, bukan membawanya ke dukun, tapi membawanya kemari untuk jalan jalan.
Dion juga yang mengirim alamat ke Ryan, agar membawa Zerena kesini, tampak seorang pekerja Paman Roni membawa buah buahan yang telah ranum, ada mangga, rambutan, duren, dan berbagai macam hasil kebun milik Paman Roni.
Paman Roni adalah Kakak dari Papanya Dion, dia pulang ke Indonesia dan tinggal menetap di perkampungan ini.
Anak anaknya masih berada di luar negeri bersama Papanya Dion, karena tidak ingin menghabiskan masa tuanya di negara asing, dia pulang dan membeli beberapa hektar kebun dan sawah.
Dia nanya mengarahkan pekerjanya, atau kata lainnya dia juragannya, asetnya banyak, dan bekerja sama dengan pedagang besar dari Jakarta.
Setiap musim buah buahan tiba, ada pedagang yang akan membeli buah buahan miliknya, begitu pula bila padinya sudah digiling menjadi beras, berasnya akan dikirim ke kota untuk dijual dan dikonsumsi penduduk ibukota.
Zerena berjalan mengelilingi kebun buah-buahan, sesekali memetik buah rambutan dan memakannya, Ryan dengan tenang berjalan di sampingnya, sesekali mengarahkan kamera ponselnya, dan mengambil gambar istrinya.
Zerena pun berpose ala gadis ABG, Ryan mengambil gambar sebanyak yang dia mau, dengan spot spot yang menarik, saat Zerena berada di bawah pohon, di pematang sawah.
Mereka juga mengambil foto bersama, mengabadikan momen kebersamaannya, untung saja Zerena membawa tongkat sihir andalannya, apalagi kalau bukan tongsis alias tongkat khusus untuk ponsel.
Alvin dari tadi berjalan di bawah pohon sambil mengomel tidak jelas, bagaimana tidak Ryan dan Dion bisa berpasang pasangan, sedangkan dia sendirian.
"Dasar orang orang terkutuk, tega teganya mereka berdua Dian, lalu meninggalkan aku sendirian".
Buuuukkkk....
Tiba tiba sesuatu terjatuh dari atas pohon, untung saja benda itu tidak mengenai kepala Alvin, kalau kena sudah dipastikan kepalanya hancur tak berbentuk lagi.
"Haaa buah durian", Alvin memungut buah itu lalu membawanya ke saung.
"Paman, ada buah durian!"
Alvin memperlihatkan buah durian yang di dapatnya, Paman Roni lantas membantunya membelah durian itu.
__ADS_1
Warna daging ya yang kuning keemasan, membuat Alvin tergiur, diicipnya sedikit buah tersebut, setelah ternyata enak, dia lanjut mengambil mencoba terus sampai tandas, ternyata buah durian sangat lezat.