Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 51


__ADS_3

Ryan berjalan mengikuti langkah istrinya, mereka duduk berdampingan, tak lama setelahnya Alvin dan Dion juga menyusul mereka.


"Hai Mit......


Tumben nongol disini?"


Alvin menghempaskan bokongnya pada kursi, pas di samping Mita sahabatnya.


Mita hanya menaikkan bahunya, lalu melanjutkan makannya.


Tidak ada percakapan lagi diantara mereka, mereka makan dengan hikmat, hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu.


Setelah semua selesai Mita membantu Zerena membersihkan meja akan dan membawa piring piring kotor ke dalam.


Zerena kemudian mengajak Mita ke ruang TV, dimana suami dan kedua Asistennya berada, sambil membawa minuman dan makanan ringan.


Mereka duduk di sofa sambil menonton dan menikmati makanan dan minuman yang disuguhkan Zerena dan Mita.


Mita yang sedari tadi mengoceh dan berbicara seenak jidatnya, sesekali mengundang tawa, karena sesekali Alvin menggodanya dan membuatnya kesal.


Diam diam ada sepasang mata yang sesekali menatap dan memperhatikan tingkahnya, sepasang mata yang tajam dan dingin.


Ya Dion, sesekali dia melihat ke arah Mita dengan ekor matanya, dia nampak tersenyum simpul, yang tidak disadari oleh orang orang di sekitarnya.


"Ternyata dia cantik juga,


Ah kenapa aku jadi memuji dia?"


Dion menggelengkan kepalanya, sambil matanya fokus menatap layar TV yang menampilkan acara tidak penting versi Dion.


"Vin........


ntar kalau kamu pulang, temenin aku ke toko buku ya, ya ya!!!"


Mita mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memohon kepada sahabatnya itu.


"Iih malas......"


Alvin menjawab sambil tangannya fokus bermain hp, entah apa yang sedang dilakukannya dengan hp di tangannya itu.


Mita cemberut, matanya mulai berkaca kaca, kebiasaannya saat meminta sesuatu pada Alvin, dia akan menangis sampai permintaannya terkabul.


Sebentar lagi bulir bulir kristal itu akan tumpah, kalau Alvin tidak segera meralat kata katanya.


"Iya iya aku temenin, nggak usah nangis gitu, udah gadis masih cengeng, kapan dewasanya kamu!"


Ucap Alvin sambil, menyentil kening Mita, walaupun hanya sentilan lembut, tapi Mita masih mengasuh kesakitan.


Mita tersenyum penuh kemenangan, dia berbalik ke arah Alvin memeluk pria yang selama ini menjadi sahabat sekaligus saudara baginya.

__ADS_1


Tapi baru beberapa detik dipeluk oleh Mita, Alvin buru buru melepaskan pelukan Mita, sekali lagi dia menyentil kening Mita, membuat si empunya meringis kesakitan.


"Jangan meluk meluk dong Mit, kamu itu udah gede, udah gadis, nanti ada yang salah paham!"


Mita memutar bola matanya malas, melihat Alvin yang ternyata sudah banyak berubah.


"Cuma meluk doang Vin, bukannya aku apa apain!"


"Iya, tapi aku harus menjaga nama baik kamu, di depan pria yang akan membawamu kelak ke jalan halalnya cinta."


Alvin tergelak sendiri, dengan ucapan barusan yang keluar dari mulutnya.


"Kamu akan susah dapat pacar ,apalagi calon suami kalau dekat dekat aku terus Mit...."


"Lho emang kenapa Vin???"


Sekarang Zerena yang bertanya, penasaran dengan ucapan Alvin.


"Ya karena aku tampannya kelewatan Ren.....


jadi cowok cowok pada nggak pede deketin Mita!!?"


Zerena dan Mita saling berpandangan lama, lalu tawa mereka meledak seketika mendengar jawaban Alvin yang narsis abis.


Ryan ikut tersenyum mendengar ketiga sahabat itu saling mengeluarkan argumen masing masing.


Tanpa terasa hari sudah menjelang sore,Mita pamit untuk pulang, tak lupa dia terus mengingatkan Alvin agar menemaninya ke toko buku.


Ucap Dion, dia pamit karena ingin pulang bersama Alvin.


Tapi tunggu dulu, Alvin kesini menggunakan motor sport merahnya, masa iya mereka mau boncengan.


Mereka berjalan menuju kendaraan masing masing, sementara Dion yang tidak mau membawa mobil Ryan, bermaksud meminta tumpangan kepada Alvin, karena mobilnya masih berada di kantor.


Sementara Alvin yang tahu kalau Dion akan meminta tumpangan kepadanya, tiba tiba mendapat ide.


"Mit.....


seperti aku benar benar tidak bisa menemani kamu, tiba tiba aku ada urusan mendadak!"


Mita dan Dion menatap Alvin tajam, sejak kapan orang tersebut bisa punya urusan mendadak, yang benar saja!


"Dion, maaf sepertinya aku tidak bisa memberimu tumpangan, sekali lagi maaf!"


"Begini saja, Mit.....


bisakan kamu memberi tumpangan untuk Dion, sekalian dia menemani kamu mencari buku, gimana???"


Alvin sedikit memaksa, membuka pintu mobil dan mendorong paksa Mita masuk, begitu juga dengan Dion.

__ADS_1


Mau tak mau Mita, akhirnya mengemudikan mobilnya keluar dari gerbang rumah mewah Sanjaya.


Alvin tersenyum puas, lalu bergegas naik ke motornya, dan langsung pulang ke rumahnya.


Sementara di dalam mobil Mita yang biasanya sangat cerewet, tiba tiba sangat pendiam.


Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah toko buku, Mita terdiam sebentar sebelum menoleh ke arah Dion.


Dion yang dari tadi memperhatikan gerak gerik Dion tersenyum sangat tipis, sampai tak ada yang bisa melihat lekukan yang membentuk sebuah senyuman tipis.


"Kak, ayo turun temani aku masuk!"


Mita akhirnya membuka percakapan dan memecah kecanggungan diantara mereka.


Dion akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah Mita, masuk ke dalam toko buku tersebut.


Mita mulai memilih dan mencari buku yang diinginkannya, sementara Dion terus mengikutinya dari belakang.


kehadiran mereka menjadi pusat perhatian, wajah cantik Mita dan kulitnya yang kuning Langsat membuatnya sangat mempesona, ditambah dengan tubuh yang tinggi dan berisi.


Rambutnya yang hitam lurus, tergerai indah sampai di punggungnya.


Sementara pria tampan di belakangnya tak luput dari perhatian kaum hawa yang ada di dalam ruangan.


Tubuh yang tinggi dan dada bidang, kulit putih dan wajah yang tampan memberinya nilai plus.


Mata elangnya menatap tajam ke depan, hidung mancung serta bibirnya yang tipis seakan menghipnotis orang orang di tempat itu.


Sesekali Dion menatap orang orang yang memandanginya, untung saja dia hanya memakai kaos putih dan celana jeans panjang, jadi orang orang tak ada yang mengenalinya.


Mita tiba tiba terseok saat akan mengambil buku di rak paling atas, untung saja dengan gerakan refleks Dion menahan tubuhnya agar tidak tersungkur ke lantai.


"Makasih Kak udah nolongin."


Mita berjalan dengan pipi sudah Semerah tomat, dia sangat malu, baru kali ini berinteraksi dengan pria, kecuali Alvin, tapi Alvin tidak bisa dimasukkan dalam daftar list.


Setelah membayar semua buku yang telah dibelinya, mereka keluar menuju ke mobil.


"Mita.....


Kita singgah dulu disitu!"


Sambil tangan Dion menunjuk ke sebuah minimarket.


Dion turun dan masuk ke dalam minimarket, Mita hanya memperhatikan dari jauh tanpa ada keinginan untuk ikut masuk.


Setelah membeli beberapa kaleng dan botol minuman dingin dan camilan, Dion keluar dan masuk ke dalam mobil.


Dia menyerahkan semua bungkusan itu kepada Mita, setelah dia mengambil satu kaleng minuman bersoda.

__ADS_1


Mita mengangguk lalu menerimanya, ikut membuka dan menyesap minuman yang dibeli Dion untuknya.


__ADS_2