
Dion tergagap begitu menyadari ucapannya, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus karena menahan malu.
Mami Dion tersenyum simpul melihat kelakuan putra satu satunya itu.
Dengan cepat Dion menghabiskan makanannya karena sudah tidak tahan menahan malu di depan kedua orang tuanya, dia bergegas pergi setelah menenggak air mineral.
"Pi lihat kelakuan anakmu, pura pura cuek tapi sebenarnya sayang!
hihihi!"
ucap Mami Dion cekikikan sendiri.
Setelah selesai makan, semuanya kini berkumpul di ruang keluarga, Papi Dion sengaja mengumpulkan semuanya, agar masalah Dion dan Mita tidak berlarut larut.
Tidak akan ada penyelesaian kalau mereka diam diam seperti itu.
"Papi sengaja memanggil kalian berdua, Papi ingin kalian menyelesaikan semuanya sekarang, jangan seperti anak kecil, terutama kamu Dion, lihat kekasihmu bela belain kemari, tapi kamu diam seperti batu, apa pantas kamu disebut pria gentleman?"
Dion hanya tertunduk lesu, dia mengakui semua yang diucapkan orang tuanya ada benarnya, tidak seharusnya ia lari dari masalah, dan meninggalkan Mita begitu saja, andai waktu itu Dion benar benar melakukan hal terlarang itu, tidak dapat dibayangkan betapa sakit perasaan Mita dicampakkan seperti sampah.
"Maaf......."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Dion, sesaat menatap wajah Mita lalu kembali menunduk.
Mita membulatkan matanya, kata kata maaf tidak pernah keluar dari mulut Dion selama ini, kalau dia sudah mengucapkan sesuatu maka itulah yang akan terjadi.
Tapi hari ini Dion dengan suara lembut meminta maaf, ini adalah pencapaian yang harus diapresiasi.
"Aku juga minta maaf Kak, karena sudah melukai hati Kakak, bukan maksudku mau menggagalkan pernikahan kita, aku hanya merasa takut, aku ingin ada tempat berbagi, tapi Kakak tahu Mama sama Papa aku tinggalnya di Sidney, mereka lebih mementingkan pekerjaannya daripada aku, bagi mereka asal aku sudah berkecukupan dan hidup mewah, itu sudah membuat mereka puas!"
Dion menatap gadis di depannya, perasaan kasihan mengingat selama ini Mita tumbuh tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya, sungguh miris kan?
"Maaf, kalau kepergianku telah menyakiti hatimu, bukan maksudku berbuat seperti itu, aku hanya ingin menenangkan diri!"
Ucap Dion, membuat Mita dan kedua pasangan suami istri yakni orang tua Dion diam tak bergeming.
Mereka terpanah?
__ADS_1
tentu saja tidak!
Akan tetapi mereka benar benar syok, karena selama ini Dion tidak pernah sekalipun meminta maaf kepada orang lain, kecuali kedua orang tuanya.
Dan ini kali pertama Dion meminta maaf, dan perlu dicatat, minta maaf dengan wajah penuh penyesalan dan seperti mengiba.
Mita mengerjap ngerjapkan kedua bola matanya, tidak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya.
Tapi ini kenyataannya, si manusia dingin dan sok itu, akhirnya luluh juga, ingin rasanya Mita melompat dan menari di atas meja makan sekarang.
Tapi itu sungguh tidak mungkin karena itu hanya angan angan belaka, sekarang hatinya seperti disiram air hujan dari surga, bunga bunga yang layu kini bermekaran dan menghiasi hatinya yang kini semakin kasmaran.
"Jadi.....?"
Terdengar ucapan Mami Dion memecah kesunyian.
"Maksud Mami?"
Tanya Dion tidak mengerti.
"Terserah Mami, aku dan Mita ngikut aja!"
Ucap Dion dengan wajah bersemu, lalu bergegas meninggalkan Mita dan kedua orang tuanya.
"Sekarang Mami dan Papi akan menyiapkan acara pernikahan kalian, jadi sebaiknya kamu makan dan setelah itu istirahatlah sayang, serahkan segalanya sama Mami!"
Ucap wanita itu sambil mengelus lembut kepala Mita, layak anaknya sendiri.
Mita hanya mengangguk, dia sangat bersyukur karena di rumah ini dia sangat diterima dengan tangan terbuka, bahkan sangat disayanginya layaknya putri kandung sendiri oleh kedua orang tua Dion.
Setelah makan Mita pamit untuk kembali ke kamarnya, karena dia tidak diijinkan membantu para pelayan di rumah ini, sementara kedua orang tua itu, sibuk dan terdengar kerepotan mau mendahulukan yang mana dulu.
Mencetak undangan pernikahan, mencari hotel untuk tempat resepsi, atau mengunjungi WO yang akan mereka pakai jasanya, atau mungkin menghubungi designer terbaik di kota ini untuk membuatkan pakaian pengantin, dan banyak lagi.
Mereka benar benar pusing, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mencari hotelnya dulu, karena biar semuanya sudah rampung, kalau hotelnya belum ada, dimana mereka mau resepsi, tidak mungkin kalau di gedung pertemuan.
Dari jauh, Dion memperhatikan kedua orang tuanya, ternyata sesederhana ini membuat mereka tersenyum dan bahagia.
__ADS_1
Dion tidak menyangka kalau Maminya begitu klop dengan Mita, bahkan Mami sering mengabaikan Dion sejak kedatangan calon mantu kesayangannya.
Itulah sebabnya mengapa Dion mempercayakan semuanya kepada mereka, karena mereka selalu ingin ikut merasakan dan berbagi saat Dion kelak menikah.
Terdengar mereka kembali ribut, karena mempermasalahkan hotel, Papi maunya ini, Mami maunya yang itu, repot.
Walau ribut, tapi mereka tetap bisa berkompromi, mereka akhirnya menjatuhkan sebuah ternama di kota itu.
Tapi sebelum menelpon, tiba tiba mereka berdua terdiam, lalu tertawa sambil berpelukan, bukan tak ada sebabnya, mereka bahkan lupa untuk menentukan tanggal dan harinya.
Setelah berembuk, mereka kembali menentukan tanggal yang tepat untuk pernikahan putranya.
Semua berjalan dengan lancar, bahkan pihak hotel sudah dihubungi, dan sudah mengiyakan.
"Sekarang, telpon WO yang paling terkenal di kota ini Mam, pernikahan putraku harus mewah dan berkelas!"
Ujar Papi sangat berapi api.
Mami Dion, kemudian menelpon temannya yang pernah menikahkan anaknya, dan menanyakan WO yang mungkin rekomended buat mereka.
Setelah itu, Mami kembali menelpon seorang designer, setelah itu mereka menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, akhirnya sudah ada beberapa yang selesai, Papi menandainya pada buku catatan yang dipegangnya.
"Sekarang, kita catat siapa siapa yang akan kita undang Mam, sini aku catat dulu, mulai teman kantorku, dan rekan bisnis, kemudian seluruh karyawan yang bekerja di restoran restoran kita Mam!"
Ucap Papi yang semangatnya semakin berkobar saja.
"Kalau gitu, biar cepat aku juga nulis nama teman tam aku ya Pap!"
Ujar Mami tak mau kalah.
Keduanya sibuk mencatat semua nama orang orang yang mereka akan undang, tentu bukan orang sedikit, mengingat usaha bisnis yang selama ini mereka jalankan, tentu saja mereka memiliki banyak rekan bisnis dan kolega dimana mana.
Mungkin karena kelelahan, tanpa terasa mereka malah ketiduran di ruang keluarga tempat keduanya sedang mempersiapkan acara besar untuk putra kesayangannya.
Mita menitikkan air matanya, perasaan haru dan bahagia menyelimuti hatinya, dia sangat bersyukur karena dikelilingi oleh orang orang yang selalu welcome kepadanya.
Biarlah tidak ada yang mengetahui pernikahannya, kecuali kedua orangtuanya, karena pasti Dion akan menjemput mereka sendiri, apalagi Dion sudah sangat mengenal orang tua Mita.
__ADS_1