Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 98


__ADS_3

Zerena semakin menjadi, ******* dan rintihannya memenuhi kamar itu, Ryan seperti seorang pemuas nafsu yang dibayar untuk memuaskan nafsu wanita kesepian.


Ryan menggelengkan kepalanya, dia menatap jam dinding sekarang sudah jam 3 dini hari, tapi istrinya justru semakin buas.


Pria itu kembali mencapai puncak untuk yang entah sudah yang keberapa kali, Zerena akhirnya merebahkan tubuhnya di samping suaminya.


Dia masih ngos ngosan, dan mengatur nafasnya, Ryan memperhatikan dengan seksama, apa yang akan dilakukan istrinya selanjutnya.


Dan benar saja, dia kembali bangkit, menyerang Ryan.


Kali ini Ryan harus menyudahi permainan ini, dia ikut membalas saat istrinya memberinya ciuman di bibir, dan saat Zerena sudah puas bermain disana, dia menarik tubuh istrinya untuk naik sejajar dengannya, kini permainan Ryan ambil alih, dia harus membuat istrinya puas, dan tidur, jika tidak, besok pasti akan beredar kabar, suami istri yang mati akibat semalaman bercinta.


Selama satu setengah jam Ryan memimpin permainan, suara Zerena melengking keras, saat keduanya mencapai surga terindah.


Zerena kelelahan, bersama Ryan yang ambruk di sampingnya.


Zerena tersenyum bahagia, masih menikmati sisa sisa percintaan yang masih terasa. dengan cepat Ryan menyelimuti tubuhnya dan tubuh istrinya.


Setelah beberapa saat, dan memastikan Zerena benar benar telah tidur, Ryan mengambil ponsel dan menelpon Alvin di pagi buta begini.


Setelah berbicara, dan menyuruh Alvin dan Dion mengambil alih semua pekerjaannya besok, dia pun ikut tidur di samping Zerena.


Matahari menyilaukan mata Zerena, membuat ia berusaha bangun dari tempat tidur,


"Sekarang berapa sih?"


ucapnya sambil meraba raba nakas di samping tempat tidur, dan mencari ponselnya.


dia kaget setengah mati, saat melihat ternyata sudah jam 11.30 siang.


"Mati aku, kenapa bisa bangunnya kesiangan begini?"


ucapnya mencoba bangkit, tapi percuma kakinya tidak bisa menopang tubuhnya,


"Duh kenapa badan aku berat banget, aku gemukan kali yah?"


Daun pintu tiba tiba terkuak, dan memperlihatkan sepasang mata panda dari suaminya.


Pria itu membawa segelas susu coklat dan roti bakar.


Ryan menggendong tubuh istrinya, tanpa bicara sepatah katapun, sepertinya aksi balas dendam baru saja dimulai.


Setelah meletakkan istrinya kedalam Bathtub yang sudah isi air, saksi ganas Zerena semalam, dia mencium puncak kepala istrinya.


Mandilah, oh ya kau sedang junub jadi mandi wajiblah!"

__ADS_1


Titahnya, terdengar dingin dan menakutkan.


Zerena menelan salivanya sekuat tenaga,


"Apa yang terjadi padaku!"


Perlahan ia mulai mencoba mengingat satu persatu kejadian semalam, dan bagaimana ia sampai berakhir seperti ini.


Air matanya luruh, ia menangis sambil membersihkan tubuhnya, dan mandi wajib sesuai perintah suaminya.


Setelah dia selesai, Ryan tiba tiba kembali masuk, dan memakaikan kimono mandi, dan kembali menggendong istrinya keluar.


Ryan memperhatikan wajah suaminya, wajah itu dingin dan sangar datar.


"Kenapa kau diam, semalam apa saja yang kau lakukan bersama Dokter itu?"


Ryan berusaha menahan tawanya yang hampir meledak, bagaimanapun juga, ia sebenarnya tidak tega mengerjai istri kecilnya yang ganas!"


Zerena diam menunduk, ia meremas jari jari tangannya.


sekuat apapun ia mencoba mengingat kejadian semalam, tapi tak satupun yang tersisa di memorinya.


"Sekarang minumlah susu dan roti ini, nanti aku yang memberitahu!"


ucapnya dibuat sedatar mungkin.


Ryan kembali menunjuk pakaian yang ia siapkan untuk Zerena, dia bangkit tapi Ryan menahannya, "diam di tempatmu biar aku pakaikan!"


Ryan memakaikan pakaian Zerena satu persatu, kini bukan rasa malu yang ia rasakan, tapi rasa bersalah, karena setelah dia yakin Ryan pasti meninggalkannya.


"Pakai hijabmu!"


Ryan mengambil hijab yang terlipat rapi di kasur, dan menyerahkannya ke Zerena.


Tapi Zerena menggeleng dan tidak mau menerimanya, Ryan menyipitkan matanya, kenapa istri kecilnya ini.


"Kenapa, tidak mau memakai hijab lagi?"


Ryan bertanya dengan nada mulai tinggi, Zerena tersentak kaget, dia menatap wajah suaminya, air matanya mulai jatuh ke pipinya yang mulus.


"Aku tidak pantas lagi memakainya Kak, aku kotor sekarang!"


"Aku bilang pakai!"


Ryan berteriak memekakkan telinga, Zerena meraih hijabnya dari tangan Ryan, lalu memakainya.

__ADS_1


Ryan mengulum senyumnya melihat istrinya.


dia meraih kepala Zerena lalu membawanya kedalam pelukannya, wanita terisak pilu, dia memukul dada suaminya, meluapkan emosi dan kekesalannya.


Seketika ia menarik tubuhnya, dari dekapan suaminya, dia mundur beberapa langkah.


"Jangan sentuh aku Kak, aku sudah kotor, aku tidak pantas bersamamu lagi!"


"Sudahlah, kemari!"


Ryan kembali meraih lengan istrinya, dia tahu wanita itu sedang tidak baik baik saja.


Dia tersenyum lalu membawa Zerena duduk di sofa, Ryan menelpon Bi Nani dan menyuruhnya mengantar makanan ke kamar.


Bi Nani masuk membawa makanan kesukaan Zerena, Ayam goreng geprek sambel goreng, dan tumis kangkung.


"Ayo makan dulu, nanti saja bicaranya, kalau lapar orang memang kadang suka emosi!"


Dia mengambil nasi dan lauk untuk istrinya, dan menyuruhnya makan, lalu diapun mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Zerena mencicipi makanannya, dan diapun makan dengan lahapnya, makanan ini selalu enak di lidah Zerena, perlahan Ryan pun mulai menyukai makanan yang menjadi makanan favorit istrinya.


Semua makanan telah mereka habiskan, sekarang Ryan mengajak istrinya untuk menonton.


"Kau bisa melihat kelakuan liarmu semalam, setelah ini kau bisa pergi kalau itu yang menurutmu baik!"


Zerena menatap Ryan tanpa berkedip, jantungnya sudah berdetak kencang, seperti ingin melompat keluar.


Perlahan video mulai terputar, saat Ryan mulai membuka satu persatu pakaiannya, Zerena memejamkan matanya, tapi Ryan memukul pelan pahanya,


agar tetap menonton video yang sedang di putar.


Mata Zerena membulat sempurna, begitu menyaksikan adegan mesumnya, tapi bukan adegannya yang membuatnya gelagapan, tapi pria yang sedang ia cumbui itu, pria di video itu mirip sekali dengan suaminya.


Zerena menatap, dan memastikan bahwa yang sedang bersamanya itu adalah suaminya, setelah dia yakin, dia memukul lengan Ryan, teganya Ryan mengerjainya habis habisan.


Adegan demi adegan panas berlalu, membuat Zerena menelan ludahnya kasar, tidak pernah terlintas dalam benaknya, sampai seliar dan seagresif itu.


Zerena terus menutup mulutnya menyaksikan adegan panjang yang berdurasi sangat lama, kalau di film biru, ini adalah adegan terpanjang sepanjang masa.


Hihihi.


Dia memegangi bibirnya sendiri, sambil menggelengkan kepalanya, "ya Allah kok aku sekuat itu, ngapain coba sampai harus beraksi dibawah sana?"


Zerena memukul kepalanya, merutuki kelakuan nakalnya, dia jadi kasihan melihat suaminya yang sudah kelelahan dibuatnya.

__ADS_1


Jangan bertanya lagi, bagaimana wajah Zerena sekarang, karena wajahnya sudah memerah seperti udang rebus, dia menatap lurus ke depan, tidak berani lagi menatap suaminya.


Habis sudah harga dirinya, hilang sudah rasa malunya, "Oh Tuhan dimana aku harus bersembunyi ini!"


__ADS_2