Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 133


__ADS_3

Malam bersambut, Zerena sudah merasa puas mempermainkan perasaan suaminya seharian ini, dia mengangguk dan membalas pelukan pria tampan di depannya.


"Aku tidak marah, aku hanya memberi Kakak sedikit peringatan, jangan buat kesalahan yang membuat Kakak kehilangan aku, karena aku bukan lagi GADIS KECIL kak Ryan seperti dulu, aku tahu segalanya sekarang, aku sekarang seorang calon dokter lho Kak!"


Ryan gemes mendengar ucapan wanita muda di depannya, baginya Zerena tetaplah GADIS KECILnya yang lucu dan menggemaskan.


Zerena tersenyum manis, sambil membelai lembut wajah pria itu, memberi sedikit kehangatan yang hilang beberapa saat diantara mereka.


"Ayo kita tidur sudah larut malam!"


Ucap Ryan lalu menarik Zerena ke dalam dekapannya, sepanjang malam.


Pagi pagi semua dikacaukan dengan suara melengking dari kamar pria kecil yang kini sedang merajuk, dari tadi dia menangis sejadi jadinya, entah apa yang membuatnya Semarang itu.


Zerena sudah kelimpungan mengatasinya, dia hanya bisa duduk di lantai menatap putranya yang meraung raung, bersama dengan pengasuh dan Bi Nani.


"Sayang, kenapa sih?


bilang sama Bunda sayang, kalau mau apa apa ngomong ya sama Bunda!"


Zerena terus membujuk dengan lemah lembut, kesabarannya patut diacungi jempol, dia tidak emosi sedikitpun mengahadapi pria kecil itu.


Ryan yang baru selesai mandi, mendengar putranya seperti itu buru buru berpakaian lalu ikut menemui Aulian di kamar sebelah.


"Hei, jagoan Ayah kenapa marah, Lian mau apa sayang, bilang nanti Ayah beliin?


atau Lian mau jalan jalan mungkin, mau lihat hewan dan ikan besar mungkin?


atau mau pergi ke taman bermain, kita main sampai sore gimana?"


Lian mulai berpikir, tangisnya mulai reda tapi masih sesegukan, Zerena kini meraihnya dan memeluknya dan memberikan rasa nyaman kepada putranya.


"Nah itu diajak Ayah jalan jalan, Lian mau kemana sayang?


Ayo bilang!"


ucap Zerena sambil mengelus lembut punggung putra tampannya, yang kelewatan tampan.


"Lian mo ikut ngantol baleng Ayah, mo pke jash iga!"


Ucapnya terbata bata!


Ryan dan Zerena melongo, mereka saling berpandangan mendengar ucapan pria kecil itu, "mau ngantor katanya! "


Batin keduanya dengan perasaan tak percaya.


"Jadi Lian mau ikut ngantor nih bareng Ayah?


Kini Ryan mulai memperjelas maksud dari perkataan putranya barusan.


Dan dengan semangat serta kemantapan hati, anak itu mengangguk dengan wajah berseri.


"Yakin.......?"


Ucap Zerena kembali menelisik wajah putranya.

__ADS_1


"Iya Unda, yakin.....!"


ucap anak itu, dengan suara serak dan sebentar lagi tangisnya akan pecah kembali.


"Ya udah Lian ngantor kalau gitu!"


ucap Zerena pasrah.


Lalu menggendong putranya ke kamar mandi, untuk memandikannya dan memakaikan pakaian untuk putranya.


Memakai celana jeans dan kemeja putih polos lengan sampai siku.


Penampilannya semakin sempurna, dengsn kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, lengkap dengan sepatunya.


Ryan sudah duduk di meja makan menunggu istri dan anaknya.


Dia tersenyum saat melihat pria kecilnya berjalan di samping Bundanya, penampilannya sangat fashionable dan kekinian.


Setelah mereka sarapan keduanya pamit pada Zerena, dan Zerena pun melepas putranya dengan perasaan was was.


Hari ini dia akan ke kampus sebentar, setelah itu menyusul putranya ke kantor, Ryan pasti kerepotan kalau harus mengurusnya sambil bekerja.


Setelah membersihkan tubuhnya dan berpakaian rapi, Zerena berangkat ke kampus dengan mobil kesayangannya.


Baru saja dia turun dari mobil, tiba tiba saja dia dikagetkan dengan suara seseorang yang tidak asing baginya.


Zerena melepas kacamatanya, lalu menoleh ke sumber suara, nampak sahabat yang sangat dirindukannya berdiri dengan senyum menawan.


Zerena berjalan ke arah wanita itu, memukul bahunya dengan keras, lalu memeluknya erat.


"Mita, kamu kemana saja selama ini?


Ucapnya, sambil menelisik wanita yang kini memakai pakaian tertutup, walau belum menggunakan hijab.


Tapi itu suatu pencapaian yang patut diapresiasi, karena untuk sampai ke tahap ini tidaklah mudah bagi seorang gadis yang tinggal di kota besar, apalagi bagi Mita yang tinggal di luar negeri.


"Hei, perutmu buncit!


kamu hamil besar Mit?"


ucap Zerena sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Iya, maaf aku tidak mengabari kalian saat pernikahanku dengan Dion!"


Ucapnya sendu.


"Tidak apa, yang penting sekarang kamu sudah disini!


dan Aldo?"


Dia juga di sini, mungkin sekarang sedang menemui suamimu karena ingin membahas soal bisnis testorannya!"


"Jadi Ibu negara kita, sedang menjadi bos restoran?"


Ucap Zerena menggoda sahabatnya.

__ADS_1


Mita tersenyum malu malu meong, dia juga tidak menyangka kalau suaminya adalah pewaris tunggal pemilik bisnis restoran yang bertebaran di berbagai negara, termasuk di Indonesia.


Keduanya berjalan masuk ke dalam kampus, Zerena sesekali mengelus perut buncit Mita yang sudah membesar.


Tidak menyangka, kalau Mita pulang pulang malah membawa calon bayi yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini.


"Mit, kamu berhutang penjelasan sama aku, pokoknya nggak ada alasan kamu harus cerita ke aku semuanya!"


"Ok, ok.....


Apa sih yang nggak untuk Ibu sultan!"


Jawab Mita sambil terkekeh.


"Mit, kita benar benar putus kontak lho, selama kamu pergi nyusul Dion!


terus kuliah kamu selama ini gimana?"


Ucap Zerena yang penasaran dengan cerita dan kisah hidup Mita.


Keduanya masuk dan duduk di dalam kelas, uang kebetulan sepi karena hari ini memang tidak ada mata kuliah sama sekali.


"Aku udah bicara dengan pihak kampus, dan Dion membantuku, jadi aku bisa mengikuti mata kuliah via online!"


"Tapi kenapa kamu tiba tiba menghilang begitu saja, seharusnya kamu bisa cerita ke aku, atau Alvin!


kami sahabat kamu lho Mit!"


ucap Zerena masih mengingatkan Mita.


"Panjang ceritanya Ren, kalau kapan kapan bolehkan?"


Mau tidak mau Zerena terpaksa mengiyakan pertanyaan sahabatnya.


Dia tidak mau egois, dan kelihatannya Mita memang sangat lelah.


Mila kita pulang yuk, kita ke kantor kak Ryan gimana?"


Ucap Zerena berdiri lalu membantu bumil di sampingnya itu berdiri.


Keduanya akhirnya keluar dari area kampus, menuju perusahaan Ryan.


Mereka tak henti hentinya mengobrol bersama, sampai lupa waktu, Zerena mengendarai mobil dengan tenang, karena mengingat ada seorang bumil di sampingnya.


Zerena mengajak sahabatnya masuk, semua orang tersenyum kepadanya, sambil menundukkan kepalanya hormat.


Sayup sayup keduanya mendengar suara cadel Aulian uang sedang berbicara di dalam ruangan pribadi Ayahnya.


Tampaknya anak itu sedang bertingkah dan mulai menyusahkan Ayahnya.


Terdengar ia mempertanyakan semua hal yang dilihatnya, baik yang ada di depannya, ataupun yang sedang ia lihat di TV.


"Ayah, kok Ayah nggak ngajalin Lian kelja kayak Ayah, Ayah atut ya Lian kalain?"


"Enggak sayang, Lian nonton TV aja ya!"

__ADS_1


ucap Ryan.


Kata siapa menjaga anak sambil kerja itu pekerjaan yang gampang, ini susahnya minta ampun.


__ADS_2