Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 122


__ADS_3

"Unda......


Lian mo Buyung ntu Unda, kita bawa Puyang boyeh?"


Ucapnya merajuk, sambil memeluk kaki Zerena.


"Ya Allah, ini apalagi kelakuan anak ini, setelah ini harus cepat keluar dari tempat ini!"


Batin Zerena menekuk wajahnya.


Zerena menatap Ryan memelas, dia seperti sedang melakukan telepati dengan Ryan, meminta bantuan pria itu, dari kelakuan nakal si anak gembulnya.


Tapi Si Ayah pura pura tidak mendengar, dia pura pura sok sibuk dengan ponselnya, membuat Zerena kesal dan ingin rasanya mencongkel biji matanya yang terus menatap ponsel, tanpa memperdulikan penderitaan istrinya.


"Mmmm


sayang, Kalau burungnya kita bawa pulang, nanti anak anak burungnya tidak punya Ibu lagi, kan kasihan anak anaknya tidak bisa minum susu, karena induknya kita bawa!"


Zerena menahan nafasnya, menunggu apa yang akan dikatakan anak itu lagi.


"Unda cucunya bubuk ato klim?"


Anak itu kembali membuat Zerena memutar otak dan mencerna pertanyaan anaknya yang masih cadel.


Dan sejak kapan anaknya tahu ada susu bubuk dan susu krim, ingin rasanya Zerena menghilang beberapa saat, agar Ryan saja yang berurusan dengan pria kecil di depannya.


"Bagaimana kalau kita cari susu buat Lian, sekarang banyak lho susu rasa buah, Lian boleh kok minum susu rasa buah yang Lian suka!


Gimana sayang, mau nggak?


Bunda juga haus banget ini sayang!"


Kata Zerena berusaha membujuk putranya, dan benar saja wajah anak itu tiba tiba berubah cerah setelah mendengar perkataan Bundanya.


"Unda, Lian mo cucu muanyaaak lacana!"

__ADS_1


ucapnya sambil memutar tangannya membentuk lingkaran besar.


Ryan yang memperhatikan kelakuan anak dan istrinya tersenyum, melihat kelakuan Aulian, mengingatkan ia akan Zerena kecil dulu, sikapnya hampir sama.


Zerena segera mengajak suaminya, keluar dari tempat itu, mumpung ada kesempatan.


Mereka segera menuju ke parkiran dimana mobil mereka berada, Ryan membawa kedua orang itu ke mini market terdekat, karena anak itu sudah merajuk ingin susu rasa buah kesukaannya.


Selama masuk ke dalam Aulian tidak membuat masalah lagi, dia hanya fokus pada susu kotak rasa buah incarannya.


dengan mendorong sebuah troly, Zerena berjalan di lorong lorong rak rak makanan dan minuman berada.


Mata anak itu berbinar saat melihat susu yang dimaksudnya.


Zerena segera mengambil beberapa susu dengan varian rasa yang berbeda beda, anak itu terus merajuk meminta yang banyak sampai troly bawaan mereka penuh dengan susu, dan sekalian minuman minuman untuk Zerena sendiri dan Ryan.


Setelah membawa ke kasir dan membayar semua susu dan minumannya, mereka bergegas masuk lagi ke dalam mobil, Ryan sampai menganga melihat istrinya membawa dua pkresek besar berisi minuman kotak semua.


Ryan segera membuka pintu belakang, dan mengangkat belanjaan istrinya, bukan, tapi belanjaan anaknya


Anak itu memegang dua buah susu otak, rasa coklat dan stroberi, Ryan menatap aneh, "Tadi katanya mau susu rasa buah, tapi kok ada coklatnya sayang?"


"Sayang, apa kamu lupa?


kalau coklat itu asalnya dari buah kakao alias buah coklat juga, itu kata anakmu yang paling pintar, dan aku malas debat dengannya, karena dia lama lama nyebelin kayak kamu Kak!"


Ryan tergelak mendengar Omelan istrinya, dan memang benar sifat Aulian yang pemaksa itukan berasal dari dirinya, dia hanya tersenyum simpul, tidak mencoba membela diri.


Mungkin karena kekenyangan akhirnya anak itu tertidur, setelah menghabiskan susunya, Zerena segera meraih putranya dan membuka pakaiannya, lalu membersihkan tubuh pria kecil itu dengan air mineral yang ia beli juga tadi, setelah itu dia juga mengepel tubuh kecil itu dengan tisu basah, biar segar kembali.


Setelah bersih Zerena menaburkan bedak tabur, khusus untuk anak anak ke tubuh putranya, setelah barulah ia memakaikan pakaian bersih untuk anak itu.


Setelah dirasa cukup, dia kembali mendudukkan putranya di jok khusus yang dipesan oleh Ryan, dan ditaruh di tengah tengah, antara Ryan dan Zerena duduk.


Zerena tersenyum melihatnya, dia nampak lucu saat tidur, pelan pelan Ryan menurunkan sandarannya, agar anak itu bisa tidur nyenyak.

__ADS_1


Setelah berjalan beberapa sekian lamanya, akhirnya sampailah mereka pada tempat berikutnya, kali ini mereka memasuki sebuah tempat permainan anak yang sangat besar.


Zerena menunggu di mobil, sambil menunggu putranya bangun, sementara Ryan pergi ke loket pembelian karcis untuk mereka masuk nantinya.


Setelah semua beres, Ryan kembali ke mobil untuk melihat istri dan anaknya.


banyak wanita yang menatap kagum pada sosok tampan di depan mereka.


Bahkan ada yang sengaja berjalan dan menyenggol lengan Ryan, ada pula yang berpura pura menjatuhkan tasnya saat berpapasan, dan ada yang lebih aneh, sengaja menjatuhkan tubuhnya, berharap nanti bakalan ditolong oleh pria incarannya.


Tapi semuanya gagal dan sang pria idaman, berjalan tanpa sedikitpun menoleh ke arah mereka, ia bergegas membuka pintu mobil untuk istrinya, dan kebetulan putranya saat itu sudah terbangun.


Setelah Zerena turun, Ryan pun mengambil alih putranya, dan menggendongnya.


Sebelum masuk ke dalam ia mengajak keduanya untuk makan dulu, mereka masuk ke restoran yang ada di dekat situ.


Setelah mengisi perut mereka, ketiganya lalu masuk ke dalam tempat permainan itu.


wajah Aulian yang tadi mengantuk tiba tiba cerah dan berbinar terang, melihat berbagai permainan sedang berputar di depannya.


Zerena menunjuk ke tempat permainan yang menurutnya cocok untuk putranya, yaitu mobil mini, tapi anak itu menolak, ia menunjuk yang sesuai dengan keinginannya.


Dan lagi lagi, sepertinya mereka salah masuk lagi, karena disini Aulian pasti lebih mendominasi orang tuanya.


Zerena memilih mundur dan duduk di kursi, sementara Ryan dan Aulian mulai menjelajahi setiap wahana permainan.


Sesekali terdengar tawa panjang Aulian yang sangat senang, bisa bermain sepuasnya.


Ryan sangat bahagia melihat tawa ceria putranya.


Anaknya sekarang semakin besar, dan sedikit demi sedikit paham, dan akan berontak kala kedua orang tuanya sedang sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing masing.


Sesekali tangan Aulian berda-da ria ke arah Bundanya, Zerena membalasnya sambil tersenyum, melihat kebahagian putranya, dan mengikuti setiap perkembangan anak itu mulai saat bayi sampai sekarang, sungguh sangat mengesankan, baru rasanya kemarin ia melahirkan seorang bayi mungil ke dunia ini, kini bayi itu telah tumbuh menjadi seorang anak yang tampan dan cerdas seperti Ayahnya.


Siapa pun yang melihat kedua pria itu pasti sudah bisa memastikan, bahwa mereka adalah Ayah dan Anak, wajah yang sangat mirip dan menyisakan mata untuk Zerena.

__ADS_1


Ya, mata hitam pekat Zerena.


hanya itu yang diturunkan Zerena ke Aulian, dan mata itu yang menambah tegas wajah tampan putra kecil itu.


__ADS_2