Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 134


__ADS_3

Mita tersenyum gemas melihat pria kecil di depannya, perlahan ia mendekat lalu memeluk dan mencium pipi gembul putra Zerena tersebut.


Anak itu hanya terdiam menatap wanita buncit di depannya sambil mengedip ngedipkan mata bulatnya.


Ryan yang sedang sibuk, menghentikan pekerjaannya begitu melihat istrinya, dan wanita yang bersamanya.


"Mita.....


Sejak kau di Indonesia, dan mana Dion, kenapa tidak menelpon dan memberi kabar?


Ucapnya sambil mengekor keduanya dan duduk di sofa.


Ryan duduk, sambil melabuhkan sebuah kecupan manis di kening istrinya, Mita tersenyum menatap kedua manusia di depannya, walau telah lama menikah tapi tidak mengurangi kehangatan mereka.


"Mungkin Dion masih mengurus kepindahannya kemari Kak, Pati secepatnya dia akan menemuimu!"


Ucap Mita sambil mengelus elus perutnya yang terasa sesak karena bayi yang di kandungnya.


Ryan mengangguk mengerti, tidak lama datang seorang OB yang mengantar minuman dingin untuk mereka.


Ini pasti pekerjaan sekertaris pria gemulai di depan, dia selalu bekerja cepat demi kenyamanan Bosnya.


Sedangkan Alvin, tidak ada yang tahu keberadaannya saat ini ada dimana, dia tidak meninggalkan pesan apalagi kesan.


Nomor ponselnya pun tidak aktif, dia benar benar menikmati masa liburnya, dan tidak ingin diganggu sedikitpun.


"Kak, apa pria itu membuat kekacauan?"


Ucap Zerena setengah berbisik kepada Ryan, sambil melirik putranya, tapi masih bisa didengar oleh Mita dan Aulian.


"Unda.......


Unda jangan omong omong Lian di belakang, Lian dengelin lho!"


ucap anak itu sambil berkacak pinggang.


Ryan dan Zerena sampai tersedak air liurnya sendiri, karena perkataan dan tingkah anaknya bak orang dewasa.


Mita cekikikan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, karena sudah tidak tahan menahan tawa, melihat kelakuan orang tua dan anak di depannya.


"Makanya Ren, jangan suka ngomongin orang di belakang, lah ini kamu malah ngomongin orang di depan, jelas marahlah orangnya!"


Cibir Mita, dan disambut sebuah cubitan kecil di lengannya oleh Zerena.

__ADS_1


Tiba tiba pintu diketuk oleh seseorang di luar, dan disertai seseorang yang mengucapkan salam.


keduanya membalas salam, sambil menoleh ke sumber suara, pintu terbuka dan tampak seorang pria tampan sedang berdiri dengan wajah berseri.


"Dion.....!


Ucap Ryan dan Zerena kompak, Ryan segera menghampiri sahabat sekaligus mantan Asistennya dulu.


Mereka saling merangkul, dan saling berpelukan, bagaimanapun keduanya pasti merasakan rindu masing masing, setelah beberapa bulan tidak bertemu.


"Apa kabar Tuan dan Nona muda, apa kalian baik baik saja?"


Ucap Dion begitu duduk di sisi Mita istrinya.


"Kami baik Dion, kamu sendiri bagaimana, apa semuanya baik baik saja, dulu


kenapa tiba tiba pergi?


dan sekarang tiba tiba datang?"


Zerena yang menjawab pertanyaan Dion, dan balok bertanya, membuat kedua suami istri itu terdiam.


"Eheeem, gimana kalau kita makan siang di luar?"


"Ok...."


jawab mereka serempak.


Mereka berempat keluar, dan Ryan menggendong putranya sambil sesekali menciumi wajahnya membuat anak itu tertawa kegelian.


Orang orang memperhatikan mereka sambil berbisik, ada pula yang ikut tersenyum, dan ada yang menatap sinis.


Berbagai macam reaksi orang orang yang apabila tengah melihat kebahagiaan kita, ada yang ikut merasa senang, ada yang ikut mendoakan, dan ada pula yang mencibir, bahkan ada yang berharap agar kita tidak bisa bahagia.


Tapi satu yang tidak bisa mereka pungkiri, pria dingin itu, akan berubah hangat dan sangat lembut bila sedang bersama istri dan anaknya.


Mereka masuk ke dalam mobil masing masing, Ryan fokus menyetir, sementara Zerena harus berbicara dan menjawab deretan pertanyaan putranya, baik kegiatannya hari ini, ataupun hal hal yang dijumpai oleh Aulian, dia akan menanyakan semuanya pada Bundanya, semuanya tersimpan rapi di memori otaknya.


Ryan hanya mendengarnya, sambil sesekali tersenyum, kalau diperhatikan IQ putranya memang di atas rata rata.


Dia sangat cerdas, dan mampu mengingat semua hal yang pernah dilihat dan di dengarnya.


Itulah yang menyebabkan Zerena tidak pernah mau berdebat dengan Ryan, di depan anaknya.

__ADS_1


Mereka sampai di restoran yang mereka tuju, mobil Dion pun telah sampai, dan sedang membantu istrinya turun dari mobil.


Zerena menarik nafas melihat sahabatnya itu, dulu dia juga seperti itu dan masih sangat membekas di benaknya.


Bahkan Zerena lebih parah, karena harus hamil dan ngidam jauh dari Mama Sinta dan Mama Vera, dia hanya bergantung pada Ryan seorang, untung saat itu ada Asisten Ryan di sana yang selalu mau mendengar dan membantu Ryan.


Zerena jadi teringat orang itu, tapi kenapa sampai Zerena jadi lupa sama orang itu "namanya pun aku lupa!"


Batinnya.


"Ya sudahlah, nanti aku tanyakan pada Ryan setelah di rumah, pasti Ryan masih berhubungan dengan orang itu, diakan orang kepercayaannya di negeri seberang!"


Sekarang mereka duduk menunggu makanan yang telah mereka pesan, termasuk pesanan pria kecil Ryan.


Sementara Zerena sedang merapikan pakaian anaknya, yang tadi ia ganti di mobil, dengan setelan kaos, agar lebih sejuk dan menyerap keringat putranya.


Dion pun tampak gemas, menatap anak kecil itu, yang semakin hari semakin tampan saja.


"Dion, bagaiman bisnismu di sana, siapa yang mengelolanya kalau kalian pindah kemari?"


sambil memperhatikan Dion.


"Aku putuskan, disini sebagai kantor pusatnya, dan di tempat lain hanya menjadi cabang cabang restoran kami, aku juga membawa orang tuaku pulang kemari, karena tidak mungkin meninggalkan Mita dalam keadaan seperti sekarang!"


Ucap Dion panjang lebar menjelaskan.


Makanan yang ditunggu pun datang, setelah pelayan mengaturnya di atas meja, mereka pun menikmati makan siang mereka.


Aulian tidak lagi rewel, ia menyantap makanan yang tadi di pesan Zerena, sesuai dengan keinginan pria kecil itu, yaitu lobster Adam manis, dan Zerena meminta pelayan agar membuat yang tidak pedas buat putranya.


Setelah mereka kenyang, kedua pria itu masih bercakap cakap seputar dunia bisnis mereka, sedangkan Zerena dan Mita asyik bercanda dengan Aulian.


Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan perasaan benci, dia meremas gelas di tangannya sampai gelas itu retak.


Dia adalah Mekar, wanita yang sangat merindukan bisa memeluk dan berada di bawah Kungkungan Ryan.


"Kita lihat saja, kamu masih bisa bersama istrimu sampai berapa lama?


aku jamin tidak lama lagi, mayat istrimu yang akan kau peluk, tunggu saja!"


Batinnya dengan api kemarahan yang sudah membakar dadanya, dan tidak bisa berpikir jernih lagi, keinginannya memiliki Ryan sudah menutup mata hatinya, kekuasaan membawanya pada sebuah keserakahan,ingin memiliki apapun yang ia inginkan.


Termasuk Ryan, tanpa memperdulikan, Ryan sudah beristri atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2