
waktu terus bergulir tak terasa waktu seakan begitu cepat berlalu. semester penaikan kelas akan tiba. itu artinya sisa beberapa hari naira akan bercanda, bergurau bersama sahabatnya. ada begitu banyak kenangan, cerita dan kisah yang tidak pernah bisa terhapus di memori. naira yang kini duduk di taman belakang dalam keadaan bleng
sementara hafidz kini belajar keras, sisa satu hari perjuangannya untuk mencapai garis finis usai ujian akhir. rasa lelah sudah bercampur menjadi satu. di sisi lain dia terpikir dengan seseorang, ada rasa khawatir dan rada takut. perasaan itu tidak bisa dipungkiri jika ada sebuah rasa namun rasa ego lebih tinggi untuk tidak berkata jujur saja. ah....... pusing. "
usai belajar hafidz memilih keluar balkon kamar menghirup udara segar dan meregangkan otot-ototnya. alhamdulillah." ucapnya. tidak sengaja mata tertuju dengan seseorang dibawah sedang menikmati angin malam. ya itu naira. "hafidz mengulang senyum.
hafidz turun menuju taman belakang, dan menghampiri naira yang sedang melamun. tidak sadar jika hafidz ada dibelakangnya, naira terisak. hafidz bingung dan heran. "ada apa dengannya?
selama satu tahun lebih naira tinggal dirumahnya.terakhir hafidz melihat naira bersedih saat kecopetan tapi, tidak sampai terisak, ini pertama kalinya hafidz melihat naira yang super ceria bersedih seperti itu.
"E eh, kak hafidz . naira dan menyapu air matanya sambil berusaha tersenyum.
" kau menangis? bisa aku tahu sebabnya? ya... siapa tahu aku bisa bantu. " hafidz yang penasaran dan duduk di samping naira.
__ADS_1
lebih baik aku tidak mengungkapkan ini. aku akan pamit setelah waktunya nanti gumam naira dalam hati.
" gak kok kak aku tidak apa-apa." bohong naira.
"bibirmu mengatakan kamu tidak apa-apa tapi matamu mengatakan jika ada apa-apa, ujar hafidz."baiklah kalau kamu belum mau cerita.
naira dan hafidz pun terdiam dan membisu entah apa dalam pikiran Masing-masing. hafidz merasa dirinya manusia paling bodoh jika dihadapkan dengan masalah perasaan. jika dirinya bisa memenangkan tender di perusahaan itu masalah kecil tapi jika ditanyakan masalah perasaan entah mengapa otaknya menjadi tumpul dan eror. rumus matematika begitu mudah dipecahkan tapi, rumus percintaan jangan ditanyakan udah pasti telur bulat, selama hidupnya inilah pertama kalinya hafidz jatuh cinta pada seorang wanita, entah mengapa dekat naira hafidz bisa merasa bahagia bahkan sampai bisa tertawa lepas.
" naira jangan seperti ini. andai kau dengar jantungku seperti lari maraton batin hafidz dan menepis tangan naira.
"aku tidak sakit, aku hanya menghafal rumus matematika. bohong hafidz kedengaran lucu takut naira akan curiga dan akan menghindarinya, bahkan sekarang dia membayangkan dirinya mengutarakan perasaan itu dan naira menolaknya. a...... malu sampai hal itu terjadi. "
" b...bu a hahaha....... tawa naira pecah seketika. apa? tidak salah dengar? heran naira. "kak kau itu jenius mana mungkin rumus matematika untuk besok tidak bisa kamu hafal. ada aja. "
__ADS_1
"iya, rumusnya ini agak sulit untuk dipecahkan apalagi untuk diungkapkan dalam bentuk tulisan pun sangat sulit dituangkan.
" apa? jangan aneh deh kak. ujar naira dan menatap langit yang dipenuhi bintang nan jauh di angkasa.
andai kau tahu, kau seperti bintang di langit sana yang bersinar terang namun menggapainya sangat sulit. bagiku. " batin hafidz dan kembali menatap naira.
"apa kamu bisa memasakkan aku mie instan? tanya hafidz menghilangkan kecanggungan dalam dirinya.
" kakak lapar? baiklah aku akan masuk membuatkan untukmu. mau pakai telur?
"terserah saja. ungkap hafidz dan melihat naira masuk
naira masuk dan menuju dapur. dan mulai memasak mie instan untuk hafidz. dan hafidz kini duduk di meja makan menunggu mie buatan naira tersaji.
__ADS_1