TAKDIR Cintaku

TAKDIR Cintaku
TAKDIR Cintaku 2 Rencana Adopsi


__ADS_3

Setelah melewati rumah tangga yang menegangkan kini Hafidz dan Naira kembali mengarungi bahtera rumah seperti layaknya rumah tangga normal pada umumnya kembali saling menguatkan kepercayaan dan memperbaiki kesalahpahaman serta saling mensupport atas kekurangan masing-masing.


keduanya datang berkunjung ke rumah kedua orang tua Hafidz. Anisa dan Rizki hanya bisa memberi support kepada putranya itu atas apa yang di sampaikan okeh dokter.


Anisa memeluk putra dan menantunya dan mengatakan, "Teruslah berusaha sebisa kalian. Yakinlah jika tuhanmu menghendaki dan mengizinkannya apa yang tidak bisa baginya. Seorang dikatakan ibu, bukan hanya saat dia bisa melahirkan lewat rahim mereka. Tapi seorang ibu terlahir dengan memiliki hati yang mulia. Ada begitu banyak anak terlahir di dunia ini lewat rahim seorang ibu tapi tidak merasakan kasih sayang.


Hafidz mencerna perkataan ibunya dan mulai mengerti maksud ucapan itu. apakah maksud ibu mengadopsi anak. ah. lebih baik aku tanyakan langsung.


"Apakah maksud ibu kami harus mengadopsi seorang anak?


Anisa tersenyum begitu juga Riski dan menatap menatap Hafidz dan Naira secara bergantian. Kemudian berujar.


"Iya. Kenapa kalian tidak mencoba. mencoba menjadi orang tua mereka. Memberikan mereka cinta tanpa syarat, membangun karakter, menyembuhkan hati yang luka, orang yang membuat dan menjaga memori indah, orang yang dicintai dengan penuh kasih dan kekaguman, mengayomi, mendidik, dan membentuk menjadi pribadi yang berakhlak." Jelas Anisa dan Rizki tersenyum dan kagum dengan pemikiran istrinya. Rizki menggenggam tangan Anisa sambil merangkul pundaknya.


Naira melihat hal itu, keharmonisan ayah dan ibu mertuanya serta pemikiran ibu mertuanya dalam diam Naira kagum. Hafidz menatap sendu istrinya melihat raut wajah itu tampak kagum dan bahagia.


Hafidz menggenggam tangan istrinya dan Naira menatap balik. Hafidz mengangguk sebagai kode untuk mempertimbangkan saran ibunya. Naira paham dan kembali memberikan senyum manisnya pada suaminya itu.


"Baiklah Ibu, ayah akan kami pertimbangkan hal ini. Aku dan Naira mohon diri.


" Kenapa kalian tidak bermalam saja, bukankah besok hari minggu? Anisa menahan putranya dan berharap.


Naira menoleh pada suaminya" Kita bermalam saja, sayang. Jangan membuat ibu kecewa. Bisik nya pada Hafidz.


Hafidz setuju membuat Anisa begitu bahagia. Anisa meminta mereka beristirahat. Hafidz dan Naira meninggalkan tempat menuju kamar mereka.


Rizki menarik tangan Anisa. Anisa menoleh dan Rizki memberi kode dengan mengedipkan matanya sebelah. Anisa paham apa maksud suaminya dan berpura-pura bertanya


"Kenapa Mas?

__ADS_1


" Sayang, kok gak paham sih."


"Aku gak paham abang Rizki... apa sih? anisa tersenyum jaim. Dia ingin melihat apa reaksi Rizki.


Rizki memposisikan dirinya menghadap kearah Anisa. Semakin dekat, menatap wajah Anisa dengan cukup lama. kemudian berdiri dan membungkukkan badannya. Anisa bisa menebak apa yang akan dilakukan suaminya


"Sayang jangan deh, apa itu otot masih mampu mau angkat saya? Yakin?


Tanpa bicara Rizki langsung mengangkat tubuh istrinya. ya. bentuk postur tubuh Anisa tidak pernah berubah walau umur sudah bertambah bahkan sudah hampir memiliki cucu. Begitu juga dengan Rizki karena rajin berolahraga. Bahkan setiap hari minggu Anisa dan Rizki sering joging bersama.


" Jangan meragukannya sayang. walau kita sudah calon opa oma tapi menggendong dirimu seperti ini aku masih kuat bahkan memberikanmu pelajaran masih mampu.


"Terimakasih. Mas, Kau selalu bisa membuatku tersenyum dan semakin kagum denganmu." Anisa membenamkan wajahnya di bidan dada kekar Rizki dan mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya.


Sampai dikamar Rizki meletakkan Anisa dengan pelan di atas kasur. Rizki masih dengan posisinya sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya lebih dekat hingga napas keduanya begitu terasa.


walau terbilang sudah berumur tapi kemesraan Rizki dan Anisa masih sama tidak ada yang berubah. Rizki kembali mengingat bagaimana dulu saat dirinya harus berusaha melupakan Anisa hingga waktu tiba kembali memperjuangkan cinta itu.


Anisa mengaminkan hingga pada akhirnya keduanya larut dalam keheningan menyalurkan perasaan yang masih ada hingga keduanya sampai pada titik terakhir.


***


Pagi hari kembali berkumpul di meja makan tampak terlihat asyifa adik tiri seibu Hafidz sedang sibuk dengan ponsel miliknya di depan meja makan. Timbul jaim Hafidz dan merebut ponsel adiknya


"Makan ya... makan tidak usah dulu main hp.


" Balikin gak, kak! ih apaan coba. ganggu aja. Kak Naira tolongin." ucap Assyifa memohon pada Naira.


Rizki dan Anisa hanya geleng kepala. melihat adik kakak itu tidak pernah akur.

__ADS_1


"Sayang.... " Naira memberi kode untuk mengembalikan posen milik Asyifa. namun hafidz justru memasukkannya dalam saku celananya.


"Nanti aku balikin kalau sudah makan. ayo makan! tidak usah itu bibir dikasi monyongin seperti itu, yang ada nanti modelnya seperti sendok sayur.


Naira tertawa dan mengambilkan makanan untuk suaminya sementara Anisa hanya menenangkan gadisnya itu untuk makan yang kini dalam keadaan mode cemberut.


Selepas makan Hafidz menunjukkan taman belakang dan Assyifa diam-diam dibelakang kakaknya hendak mengambil ponselnya dari sakit celana kakaknya itu.


"Mau ngapain? mau ini? ambil kalau bisa! " serunya pada adiknya yang kini posisi tangannya diangkat keatas. "siapa suruh lho pendek. Ayo ambil! "


"Kakak Jaim deh. kak cepat balikin! itu panggilan siapa?"


Hafidz akhirnya ngalah setelah Naira datang dan menegurnya. Naira mengambil ponsel dari tangan Hafidz.


"Makasih kakak ipar aku cinta padamu.Asyufa begitu bahagia dan berlalu sambil menelpon.


Hafidz langsung mendekap tubuh Naira semakin dekat. Naira memberontak minta di kelas karena tidak enak dilihat orang. sementara pembantu yang melihat kemesraan mereka hanya tersenyum simpul.


semakin Naira memberontak Hafidz semkin mendekap nya dan bahkan menggendong tubuh Naira menuju taman belakang. Di sana tampak kebun sederhana milik ini mertuanya. Hafidz menurunkan tubuh istrinya dengan pelan dan duduk di bangku panjang yang tersedia.


"Aku menemukan kembali dirimu mas. jangan lagi ada menyembunyikan apapun dariku. jujurlah padaku selalu walau itu menyakitkan.


Hafidz mengecup kening istrinya kemudian tidak lama *** keduanya sudah bertemu cukup lama mereka menikmati momen itu. tidak sengaja Rizki lewat tidak jauh dari tempat mereka dan ketika itu Rizki tersenyum dan dengan segera berlalu membiarkan sepasang insan itu bermesraan.


Puas dengan momen romantis itu noni kembali tersadar jika berada di taman belakang keduanya tertawa. melihat tawa lepas Naira Hati Hafidz iku bahagia.


hingga pada akhirnya Anisa datang menghampiri mereka dan mengajak mereka ke panti asuhan setelah Hafidz dan Naira sbelumnya sudah sepakat tentang adopsi anak.


beberapa jam perjalanan sampailah mereka di sebuah panti asuhan Permata Bundaku. Anisa terdiam sejenak sebelum masuk ke dalam. Rizki merangkul istrinya.

__ADS_1


"Dia sudah tenang." ujar Rizki walau sebenarnya dia juga ingat bahwa panti itu adalah tempat tinggal Atika lalu mantan istrinya yang sudah beberapa tahun lalu pergi meninggalkannya karena sebuah penyakit yang di deritanya.


__ADS_2