
Naira mencoba untuk selalu berprasangka baik pada suaminya, mencoba untuk selalu bersabar menerima segala kenyataan yang menimpa, sungguh wanita yang terlihat tangguh namun, ternyata begitu rapuh.
Sementara Hafidz sekarang sedang menunggu kedatangan Rendi. ya... Rendi sahabat Hafidz juga sebagai sekretaris Hafidz yang masih setia mendampinginya.
Lama menunggu kedatangan Rendi namun, Rendi tidak kunjung tiba. sebuah notifikasi masuk ponsel Hafidz.
"Maaf bos, saya tidak bisa datang karena istri saya melahirkan. ya.... istri Rendi melahirkan anak keduanya.
" Aku yang akan menemui mu, katakan di rumah sakitnya? balas chat Hafidz pada Rendi.
Setelah mendapat alamat rumah sakit, Hafidz duduk sejenak menghabiskan pesanannya. mengingat kata MELAHIRKAN Hafidz membayangkan jika andaikan di posisi itu adalah istrinya Naira, tentu juga akan melakukan hal yang sama apa dilakukan oleh Rendi.
Saat akan meninggalkan tempatnya seseorang menegur Hafidz.
"Hafidz kan? kau masih mengenaliku?
" Siapa ya? Hafidz mencoba untuk mengingat siapa laki- laki yang ada di hadapannya.
"Aku Naufal, teman sekelas kamu dulu waktu SMA. Masih ingat kan?"
" Masya Allah, hei bro gimana kabarmu? iya aku sudah ingat, Naufal Alfarizi." ucap Hafidz menyebut nama lengkap temannya itu.
"Ya Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Tampaknya semakin sukses nih. goda Naufal dan Hafidz hanya menanggapi dengan senyum. Naufal ingat bagaimana Hafidz dulu membagi waktunya bekerja sambil belajar. " dan sudah berapa nih penerus perusahaan?
Pertanyaan itu membuat Hafidz sedikit diam. Bukan hanya satu dua orang teman Hafidz yang bertanya namun setiap bertemu dengan temannya baik teman waktu SMA atau teman waktu kuliah pasti yang ditanyakan adalah keturunan. ya.... itulah hidup. bukan yang ditanya sudah berapa banyak cabang perusahaan, uang, atau rumah. bukan, tapi jumlah keturunan. mungkin itu sudah jadi kodrat atau gimana? entah.
"Jadi bro sudah berapa penerusnya nih? Naufal penasaran.
" Alhamdulillah sudah berapa ya...senyum Fajri kemudian menatap lurus, Allah belum mempercayakan pada saya. " sahut Fajri. masih berusaha bro."
"Maaf bro. bukan maksud saya lancang.
" Tidak apa-apa. Jawab Hafidz.
obrolan mereka pun menyambung dan menyambung dan melebar. sesekali terdengar suara tawa mereka berdua. Tiba-tiba seorang wanita menghampiri keduanya.
"Hai... !" maaf aku terlambat, Sudah lama menunggu? sapa seorang wanita yang bernama Melati pada Naufal yang kebetulan memang ada janjian.
" Ha... ya sudah cukup lama. Ayo duduklah!" kenalkan ini teman aku waktu SMA, dia pengusaha sukses, namanya Muhammad Hafidz biasa di panggil Hafidz.
"Kenalkan saya Melati. Melati mengulurkan tangannya namun Hafidz mengatup kedua tangannya.
" Hafidz. mengenalkan namanya. Senang berkenalan dengan anda. ucap Hafidz. Melati tersenyum.
Mereka bertiga terus berbincang-bincang sampai sebuah pesan masuk ke ponsel milik Hafidz.
__ADS_1
"assalamualaikum, mas magrib di mana?
Hafidz membaca sekilas, pesan istrinya setelah nya dia pamit untuk sesuatu urusan.
" Maaf, silahkan lanjutkan obrolannya, aku pamit duluan.
Naufal dan Melati pun melihat kepergian Fajri, namun sebuah dokumen milik Hafidz tertinggal.
***
ditempat lain Naira selesai melaksanakan shalat. mpok Romlah yang sebagai pembantu di rumahnya merasa iba dengan Nyonya nya, karena dari tadi diam. Bahkan makan malam pun tidak disentuh olehnya.
"Bibi, jika tuan pulang katakan aku keluar.
" Baik, nyonya.
Naira pun mengambil kunci mobilnya dan berlalu. setelah Naira pergi, suami mpok Romlah masuk untuk makan malam.
"Mas tahu gak, aku kok lihat keluarga ini mulai renggang ya...." bahkan rumah terasa sunyi. ah..... sayang ya....mas, Gusti Allah belum mempercayakan mereka memiliki keturunan.
" Hush..... Suami mpok Romlah memberi kode pada istrinya untuk tidak kepok urusan rumah tangga majikannya.
tak lama kemudian Hafidz tiba di rumah dan mencari keberadaan istrinya.
" Maaf tuan, nyonya tadi pesan jika beliau keluar."
Perusahaan yang akhir ini mengalami sedikit kekacauan membuat Hafidz sibuk dengan dirinya sendiri. hingga tidak sengaja istrinya merasa terabaikan.
"Banyak perusahaan bro tapi penerusnya tidak ada, siapa yang akan mengelola perusahaan mu. Apa bro tidak berpikir nih, barangkali poligami, begitu. hahahaha.... Canda bro. Hafidz teringat perkataan Naufal tadi .
Hafidz mencoba menepis perkataan temannya. Entah mengapa iblis begitu suka mengulang perkataan itu di telinga Hafidz.
Tidak lama kemudian Hafidz kembali keluar menuju rumah sakit dimana istri Rendi dirawat. Sampai di sana Hafidz masuk dengan membawa buah tangan.
"Assalamualaikum, Hafidz memberi salam. Hafidz tidak menyangka jika istrinya juga ada di sana.
Naira yang melihat suaminya hanya berbalik sebentar dan kemudian kembali melanjutkan obrolannya dengan Ayu sahabatnya.
" Sakit ya melahirkan? tanya Naira." tapi, senang dong yusuf memiliki adik, cewek apa cowok?
"Cewek dong."
"Alhamdulillah.... Ayu.... aku sangat bahagia mendengarnya." Naira begitu turut bahagia mendengar jika anak sahabatnya sudah sepasang.
Sementara Hagidz dan Rendi tampak serius membahas perusahaan yang tertunda.
__ADS_1
" Ra.... kamu baik-baik saja kan? kok aku perhatikan kamu seperti menyembunyikan sesuatu? ada apa sih?
Sebagai sahabat, entah mengapa Ayu merasakan jika, sahabatnya menyimpan sebuah kesedihan. Namun Naira yang ditanya memilih untuk diam.
Naira pamit pada Ayu dan Rendi, saat Naira pamit pada suaminya duluan, Hafidz memegang tangan istrinya dan memberi kode pada Naira untuk duduk di dekatnya. Naira pun menurut, sementara Hafidz masih membahas masalah pekerjaan dengan serius bersama Rendi.
Rendi sesekali melihat tangan Hafidz terus menggenggam tangan Naira disaat dirinya serius membahas masalah perusahaan.
"Mas aku mau pulang lepaskan tanganmu, aku bawa sendiri kendaraan. bisik Naira
" Diam lah disitu! "tunggu aku. "bisik Hafidz dan kembali melanjutkan obrolannya dengan Rendi
"katanya tadi mau bahas pekerjaan di sebuah kafe. lalu tadi kemana? lirih Naira ada rasa curiga. namun Hafidz yang mendengar istrinya berujar hanya diam dan fokus dengan Rendi.
Selesai bahas pekerjaan Hafidz memberi ucapan selamat pada Rendi atas lahirnya anak keduanya.
"Aku turut bahagia pada kalian berdua. semoga kami akan menyusul secepatnya. doakan kami. ucap Hafidz sambil merangkul istrinya dan kemudian pamit.
Dalam perjalanan menuju tempat parkir Naira terus diam mendiami suaminya.
" Naira. jangan salah paham, sayang aku mohon dengarkan aku.
sesekali hafidz menahan Naira, namun Naira menepis tangan Hafidz
"Mas jelaskan di rumah. aku akan ambil mobilku. mas naik mobil sendiri.
Namun saat Hafidz dan Naira akan ke tempat parkir tidak sengaja Melati bertemu dengan Hafidz.
" Hafidz kok disini? tadi dari kafe gak pulang ya?
Hafidz melihat istrinya. dimata Naira timbul rasa penasaran .
"Iya, tadi lagi habis jenguk teman. ucap Hafidz, permisi kami duluan.
" tunggu! "Melati menahan tangan Hafidz membuat Naira membulatkan matanya tidak percaya didepannya Melati berani memegang tangan suaminya. " tunggu di sini. lanjut Melati
Melati pun membuka mobilnya dan mengambil dokumen milik Hafidz yang tertinggal di kafe tadi.
"Tadi kamu melupakan ini. aku pikir ini adalah dokumen penting. o... iya ini siapa? tanya Melati
" Dia istriku." Hafidz merangkul Naira.
"Kenalkan, aku Melati Naira pun meraih uluran tangan Melati. " istrimu sangat cantik. ucap Melati
"Terimakasih. ucap Naira. " Maaf tapi, kami harus pulang, mari. " ucap Naira.
__ADS_1
Saat Hafidz dan Naira berlalu. Melati tersenyum. " cantik. tapi sayang, kurang beruntung, kasihan."