
Hafidz pulang dari kantor tepat pukul 14.46 yang di sambut oleh anisa dengan Alga dalam gendongannya. Hafidz mencium tangan ibunya kemudian mengecup pipi gembul Alga.
"Jangan dulu kemari nak, ayah belum mandi. entar aja ya?"
hafidz langsung masuk kamar dan mendekati Naira yang sudah terjaga dari tidurnya. Naira suka sekali bau keringat itu. rasa mual seakan hilang.
Nair terus bergelut di dada bidan suaminya. sesekali mencium aroma keringat suaminya itu. Hafidz heran melihat kelakuan Naira tidak seperti biasanya.
"Sayang aku mandi dulu ya."
"Tidak usah mandi aku suka bau seperti ini."
" Apa? sayang jangan bercanda deh. tidak biasanya kamu seperti ini, Naira."
"Itu dulu, sekarang aku suka."
Hafidz mengerutkan keningnya tidak percaya dengan sikap aneh istrinya sekarang. Hafidz merasa terselamatkan ketika Alga menangis. Naira keluar dari kamar dan Hafidz dengan segera masuk kamar mandi.
"Alga kenapa Bu?" Naira bertanya pada Ibu mertuanya sambil mengambil Alga.
"Mungkin dia haus. Biar ibu yang buatkan susu untuknya. ucap Anisa.
Rasa mual kembali menyerang Naira. Hafidz keluar dan sudah berganti pakaian.Naira menitipkan Alga pada suaminya dan berlari menuju kamar mandi yang ada di dapur. Anisa semakin panik melihat Naira yang selalu mual.
"Hafidz, bujuk Naira ke dokter. Ibu takut melihatnya terus mual." saran Anisa pada putranya.
"Baik, Bu. ucap Hafidz dan menghampiri Naura yang masih mual.
wajah Naira terlihat Pucak dan hampir pingsan. Hafidz langsung mengendong Naira.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan turunkan saja aku.
" Tidak, sayang. Kita akan ke dokter. lihatlah dirimu wajahmu terlihat pucat.
Naira tidak membantah lagi karena perasaannya benar-benar kurang enak. ditambah kakinya yang cacat sering merasa keram. dengan pelan Hafidz mendudukkan istrinya dekat kemudi kemudian Hafidz menutup pintu mobil dengan pelan lalu dirinya mengitari mobil dan ikut masuk.
Sepanjang perjalanan Naira hanya terdiam. Naira menutup hidungnya karena bau mobil sangat tidak enak tercium olehnya. Hafidz benar-benar heran melihat Istrinya seperti itu.
Hafidz teringat ucapan Rendi yang mengatakan jika Naira Hamil. Hafidz geleng kepala tidak percaya. Naira melihat suaminya tampak sedang berfikir.
"Sayang apakah masih lama kita sampai?
"Sedikit lagi sayang."
beberapa menit kemudian mobil Hafidz memasuki halaman rumah sakit. ya Hafidz membawa Naira ke rumah sakit. Hafidz membantu Naira turun karena Naira menolah untuk digendong. Hafidz menuju dokter umum.
Tidak lama menunggu Nama Naira di panggil. Naira dan Hafidz masuk keruangan dokter dan disambut dengan senyum oleh dokter tersebut. setelah Naira menjelaskan keluhannya dokter itu merujuk Naira ke dokter ahli kandungan.
"Dokter kenapa kami harus ke dokter kandungan? tanya Hafidz
"Nanti di sana anda akan tau."
__ADS_1
Naira dan Hafidz saling menatap satu sama lain dan pamit dengan dokter tersebut. Kini Naira dan Hafidz kembali menunggu.
"Nona Naira." Panggil petugas di sana.
Naira dam Hafidz berdiri dan berjalan menuju meja petugas itu.
"Silahkan masuk!" ucap petugas itu kembali.
Hafidz dan Naira masuk kemudian duduk. Dokter ayu tersenyum ramah pada pasiennya lalu bertanya.
"Apa keluhannya nona?
"Saya merasa mual dok, bahkan penciumanku terkadang tidak normal. maksudnya ada bau tertentu yang enek tercium olehku.
Dokter ayu tersenyum lalu menanyakan kapan haid terakhir. Naira berfikir keras dan kaget karena sudah siap bulan ini tidak pernah haid.
"Apakah mungkin dok, Saya-."
Ucapan Naira terpotong ketika Hafidz menjelaskan pada dokter tersebut tentang keadaan dirinya yang sebenarnya. Dokter ayu tersenyum.
"Apa yang tidak mungkin jika yang kuasa berkehendak. iya kan? bapak dan ibu terus berusaha kan? ledek dokter itu.
"Ia Dok, bahkan hampir tiap malam. ceplos Hafidz pada dokter itu dengan ekspresi datarnya.
Naira mencubit pinggang suaminya karena merasa malu.
"Kan memang begitu sayang."
"Sayang, malu dengan dokter dong."
"Apa itu dokter? tanya Hafidz
"Apa tuan dan nona mau tau apa itu?
"Selamat buat tuan dan nona Naira. ternyata Tuhan begitu mencintai anda memberikan dua sekaligus kado istimewa.
"Maksud dokter? tanya Naira
"Lihatlah ini adalah dua calon bayi anda."
Bagikan disambar petir di siang bolong Hafidz terdiam mematung. begitu juga dengan Naira. selsai dokter memeriksa. keduanya masih terdiam.
"Sayang kamu hamil?
"Aku hamil? apakah ini nyata, mas?"
Hafidz langsung memeluk Naira dan menangis. Keduanya menangis bahagia mendengar kabar tak terduga itu. Hafidz langsung menggendong Naira dan mendudukkan istrinya dengan pelan di kursi. Dokter Ayu ikut terharu melihat seorang suami istri itu.
"Tuan. ini resep obat ibu Naira. tolong calon bayi kembarnya dijaga dan setiap bulan periksakan kandungannya.
Hafidz kembali memeluk istrinya serta mencium kening Naira didepan dokter itu. Hafidz kembali menggendong Naira. semua mata menatap kemesraan mereka. Hafidz tak berhenti tersenyum.
__ADS_1
"Sayang, turunkan saja aku di kursi itu karena mau ambil obat kan?
Hafidz menurut pada istrinya. kemudian menuju kasir untuk menebus resep obat yang diberikan oleh dokter. selsai menebus obat mereka pulang.
di mobil mereka tidak langsung pulang. Hafidz menatap istrinya tidak percaya jika Naira bisa hamil.
"Sayang, didalam perutmu ada anak kita? akhirnya aku bisa membuatmu hamil? ini mustahil.
Hafidz memegang wajah Naira lalu keduanya saling *** saling *** cukup lama. kebahagiaan yang kini mereka sakan tak terhingga.
Setelah puas keduanya saling melepaskan panutan itu kemudian kembali ke rumah dengan wajah yang berseri.
di rumah utama hafidz
Semua berkumpul menunggu kedatangan-Nya. Rizki ayah mertua, anisa ibu mertua serta Assyifa sudah menunggu kedatangan hafidz Naira. mereka penasaran ada apa sebenarnya?
Terdengar klakson mobil memasuki pekarangan ruman. dengan dibantu oleh sang suami Naira turun dari mobil dan langsung digendong oleh Sang suami.
Sampai di depan pintu utama Naira meminta diturunkan karena merasa malu dilihat oleh semua keluarga. Hafidz mendudukkan istrinya di sofa. sangat pelan.
"Apa kata dokter? wajah penasaran anisa yang menggendong Alga.
Hafidz meminta Alga. kini Alga sudah berada dalam gendongan Hafidz.
"Ih... kakak. jawab pertanyaan ibu dong. bikin penasaran saja.
Naira dan Hafidz saling menatap. Naira dan Hafidz bergantian mencium Alga.
Sementara Anisa sedari tadi kesal melihat dua anak tersebut tidak menjawab pertanyaannya. Rizki menenangkan istrinya.
Bibi Romlah dan pak mamat juga penasaran kabar kedua majikannya dan ikut bergabung karena dipanggil oleh Hafidz.
"Ibu, Ayah. Alga adalah buah hati kami. kami sangat menyayanginya sampai kapan pun cinta dan kasih sayang padanya tidak akan pernah berubah.
Naira mengecup kening Alga buah hati angkat mereka. Naira menangis.
membuat Anisa heran.
" Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa kalinya dari rumah sakit pulang sepeti ini?
Hafidz dan Naira saling menggenggam sementara Alga dalam gendongan Hafidz tersenyum.
"Ibu, ayah. Naira... Naira-."
"Naura kenapa Hafidz?
" Naira hamil."
"Apa? Naira hamil anak kamu? apakah ini benar. subhanallah.......... Anisa menangis dan memeluk Naira.
Semua orang di sana ikut menangis bahagia. saling memeluk. Alga seakan mengerti kebahagiaan yang dirasakan ayah dan ibunya ikut tersenyum. Serbuan ciuman Naira diberikan pada Alga dan Hafidz.
__ADS_1
...END...
...🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕...