
Sampai di restoran Naira dan Hafidz memesan makanan. selang berapa waktu pesanan mereka datang. Naira melihat suaminya hanya sibuk dengan ponsel miliknya
"Mas gak makan? kalau gak makan ngapain mas ajak aku kemari untuk makan bersama jika hanya aku yang makan.
Hafidz pun menyimpan ponselnya. dan mulai makan. namun saat suapan ketiga ponsel miliknya kembali berdering. Naira melirik suaminya melihat apakah suaminya mengangkat ponselnya atau tidak. Saat Naira akan mengambil ponsel itu, Hafidz mencegahnya.
"Biar aku yang mengangkatnya. kamu lanjut makan saja. Hafidz pun berdiri dan keluar.
Naira pun kembali tumbuh rasa curiga pada suaminya. bagaimana tidak akhir-akhir ini Hafidz selalu sibuk dengan ponselnya dan ponsel itu pun selalu dicegah olehnya saat Naira akan mengangkat atau melihat jika pesan atau panggilan masuk. bahkan ponsel suaminya sudah menggunakan kunci pribadi saat akan dibuka.
"Mas apa sih ini? Naira menarik napas panjang. jika kau bosan katakan. batin Naira sambil menelan makanannya dalam keadaan terpaksa.
begitu lama Naira menunggu entah kemana suaminya. rasa bosan menunggu suaminya tidak kunjung tiba. Naira pun berdiri dan menuju kasir. mengambil tasnya dan memesan ojek online.
sementara hafidz masih diluar restoran itu tampak sibuk berbicara lewat telpon.
"Ok. aku akan ke sana menemui mu.
saat hafidz masuk dia sudah tidak menemukan Naira bahkan tasnya sudah tidak ada.Hafidz pun bertanya pada petugas kemana wanita yang duduk di meja no 3.
" Apa pulang? Hafidz pun menarik napas panjang dan mengeluarkan.
pegawai restoran itu juga mengatakan jika pesanan mereka juga sudah dibayar. Hingga akhirnya Hafidz menyusul istrinya
Sementara Naira sudah banjir air mata di dalam mobil yang di pesannya tadi.
"Mas apa sebenarnya yang kau sembunyi kan dariku. aku tidak mengerti. Naira menghapus air matanya dan mencoba untuk kuat.
Naira menatap keluar dan kembali mengenang masa lalu dirinya bersama suaminya.
__ADS_1
"Mba sudah sampai. ucap supir itu membuyarkan lamunan Naira.
Naira pun membayar dan turun dari mobil itu. Naira memencet bel rumah dan mbok romlah pun membuka.
" Nyonya tuan tadi di sini dan mencari anda.
"bibi aku kemari hanya mau ambil buku. setelah itu aku pergi ke rumah teman ada sesuatu harus kami selesaikan. jika tuan datang lagi dan bertanya katakan aku keluar.
Naira pun masuk menuju kamarnya setelahnya mengambil kunci mobil .
" Mbok yang bawa tadi mobil kemari siapa?
"oh itu. gak tahu juga nyonya.
" o... ya sudah. Aku pergi ya mbok.
"Mas..... kamu berubah..... kamu jahat mas.... aku benci ini semua....... aku benci. Naira memukul kemudi mobilnya.
Naira menambah kecepatan laju mobilnya. ponsel miliknya berdering dan itu dari Hafidz. Naira mengangkatnya dan menyimpan ponselnya itu di kursi.
"Sayang kamu dimana? sayang aku minta maaf jika menyakitimu. sayang bicaralah! "
Naira diam dan tidak menghiraukan suaminya berteriak-teriak dibalik ponsel
" Sayang tolonglah bicaralah. Nada suara Hafidz terdengar begitu lembut.
Mas aku tidak mengerti denganmu. Aku seperti tidak mengenali suamiku. batin Naira. Hafidz dibalik telpon memohon agar Naira tidak mengabaikan dirinya.
"Sayang aku minta maaf. jangan marah seperti ini. jangan membuatku khawatir denganmu. sayang tolong bicara lah sayang.
__ADS_1
" jangan khawatir kan aku mas. ucap Naira. masih sangat jelas dibalik telpon Hafidz masih mau bicara.
tut... tutut...... ponsel Naira mati.
karena ponsel Naira lowbat sambungan telpon pun terputus. Naira sampai di rumah teman kantornya yang sedari tadi menunggu dirinya. Naira memoles bedak wajahnya agar tidak ketahuan dan menarik napas panjang sebelum turun dan membiarkan ponselnya di mobil.
begitu serius naira ibu marni tuan rumah dan tugas teman perempuan lainnya bekerja bahkan sudah dia gelas masing-masing minuman panas habis.
sambil kerja mereka membahas masalah rumah tangga Masing-masing. naira mendengar Marni bercerita.
"Suamiku orang yang aku percaya. aku percaya pada suamiku jika dia tidak pulang karena aku menganggap bahwa dia sibuk. selama dia mengirim pesan aku akan selalu percaya.
" ibu Marni betah banget dengan pak Naufal sepeti itu? emang ibu Marni tidak curiga begitu. masa suami jarang pulang ibu Marni tidak curiga? sahut teman satunya.
"Aku tidak akan curiga sebelum aku melihat buktinya sendiri. bela ibu Marni
" Jadi nama suami ibu pak Naufal? Naira teringat nama itu.
"iya. Naufal Alfarizi ucap Ibu Marni sambil bergelut dengan kertas.
" Lalu hubungan ibu Marni dengan melati?
"ibu Naira mengenal melati? dia sahabat baikku. bahkan kami disini sering tidur bareng jika suamiku keluar kota. juga satu kantor dengan suamiku.
" O begitu. Naira tidak melanjutkan ucapannya. "Aku tidak mengenalnya tapi aku juga tidak tahu apa hubungan suamiku dengan melati. batin Naira
mereka terus bekerja dan bekerja. hingga akhirnya pekerjaan mereka selesai.
"Alhamdulillah ucap mereka.
__ADS_1