
Di rumah sakit *** naira sudah dibolehkan untuk pulang. Naira tidak menyangka jika takdir mengubahnya menjadi wanita yang cacat,menjadi manusia kursi roda atau manusia tongkat. Hari-harinya akan ditemani dengan dua benda itu, tunjuk naira pada kursi roda dan tongkat yang berdiri di dekatnya.
"Wawan paham dengan perasaan naira sekarang. "bagiku kau masih sama dengan naira yang dulu. ujar wawan sambil membantu naira duduk di kursi rodanya dan mendorongnya menuju tempat parkir sementara ibu naira yaitu alifa menenteng tas kecil naira.
Dalam menjalani proses kehidupan, tak selalu berjalan mulus. Terkadang hidup bagaikan kerikil tajam yang jadi hambatan dan masalah dalam kehidupan manusia.
Saat dalam kondisi tersebut terkadang seseorang tidak tahu harus berbuat apa dan melangkah ke mana. Hal itulah yang biasanya membuat seseorang terpuruk hingga menyerah.Saat terpuruk, mereka seperti kehilangan gairah hidup dan sering kali putus asa. Dalam situasi itulah yang membuat seseorang membutuhkan motivasi untuk kembali bersemangat.
"Kami yakin kamu bisa melewati semua ini sayang. "Kamu pencipta hidupmu sendiri dan bisa tidak mengubah apa pun untuk orang lain."Ubah dirimu untuk kebaikan, bukan untuk orang lain."Kemenangan kecil itulah yang memberimu keberanian dan kepercayaan diri untuk mencapai hal-hal yang lebih besar dalam hidup."Jika kamu menjalani hidup dengan pilihan orang lain, maka hidupmu tidak akan lagi menjadi milikmu."Jika kamu ingin tumbuh, serahkan semua yang membuatmu jatuh."Kamu tidak bisa kembali dan mengubah hal-hal yang ada, tetapi kamu bisa belajar dari itu dan mengambil tindakan sekarang."ujar alifa sebagai ibu naira panjang lebar memberikan support pada putrinya itu.
__ADS_1
ditengah perjalanan mobil yang ditumpangi hafidz berhenti pas lampu merah. Hafidz berbalik dan melihat naira di dalam mobil tersebut. Hafidz terus melihat naira dan mencoba mengingat perempuan yang dilihatnya. Hafidz terus bergumam. "wanita itu seperti tidak asing bagiku, wanita itu seperti sangat dekat denganku.
" hafidz ada apa sayang? tanya anisa melihat hafiz di depannya seperti tidak baik-baik saja.
"Ibu aku melihat seorang perempuan yang aku kenal bahkan sangat dekat.tapi mobilnya sudah berlalu. tapi, aku tidak ingat siapa dia.
Di rumah kelahiran ayahnya, naira sekarang tinggal. setelah mengantar naira wawan pamit pulang karena ada urusan harus di selesaikan.
" kak wawan terimakasih selama ini telah membantuku. dan sekali lagi berjanjilah padaku untuk menutupi semua dari siapapun. aku percaya padamu kak.
__ADS_1
"aku berjanji beristirahatlah. Kita teman, kita sahabat, aku akan memegang janjiku jadi, percayalah padaku. Wawan berbalik pada ibu naira." tante jika naira kenapa-napa hubungi aku. alifa mengangguk dan mengucapkan terimakasih. setelah pamit Wawan pergi meninggalkan naira dan ibunya di sana.
kini naira berfikir apa yang harus dilakukannya sekarang. untuk saat ini naira masih dilema. jika mengingat masa-masa saat awal pertemuannya dengan hafidz, hal itu membuatnya ingin rasanya berada di samping calon suaminya itu.
" Kak apa kamu baik-baik saja? aku harap kamu baik-baik saja. gumam naira.
"Alifa mendekat dan memeluk putrinya yang kini duduk di kursi rodanya dan melihat dirinya di pantulan cermin." kamu berhak menentukan hidupmu sayang. jika kamu mau ibu bisa menghubungi tante anisa sekarang untuk mencari tahu keadaan hafidz sekarang.
"aku hanya mau tahu ibu, apakah kak hafidz sudah ditemukan. tapi aku tidak mau ibu menghubungi tante anisa. jika sampai ibu menghubunginya otomatis dia akan menanyakan kabarku ibu." berjanjilah bu, jangan lagi ibu menghubungi tante anisa atau siapapun.
__ADS_1