
Mas Fandi mengantarkan aku ke cafe tempat aku janjian dengan Argano. Setelah itu dia pergi ke kantor. Setelah bertemu dengan Argano dan pengacaranya yang bernama Alex, kami sepakat untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan hari ini dengan membawa bukti dan beberapa dokumen yang diperlukan. Alex dan beberapa temannya akan membantuku agar proses perceraian ku berjalan lancar.
Setelah itu aku kembali ke rumah yang sudah aku kontrak. Di sana sudah ada Lisa, Sari, duo baby Al, Zae, Zavi, mama Siska, bi Sumi dan pap Arman. Mereka sedang santai bersama di ruang keluarga.
" Gimana sayang, kamu sudah pergi ke pengadilan?" tanya mam Siska saat aku duduk di sampingnya.
" Alhamdulillah sudah, ma. Doakan lancar ya ma. Oiya papa kok ga ke kantor?"
" Tadi papa makan siang di rumah, terus nemenin Zavi dan Zae, mereka mau main sama opa jadi opa ga boleh balik ke kantor lagi."
" Abang, kakak, opa kan harus kerja nak. Kok opa ga boleh ke kantor lagi sich."
" Ndak mau, ma. Abang mau opa main ma Abang dan kakak. Kan papa udah kelja. Opa umah aja." kata Zavi sambil nyengir.
" Iya opa di rumah aja main sama cucu-cucu gantengnya opa. Biar papa kalian aja yang kerja. Udah saatnya opa dan Oma menikmati masa tua kami merawat cucu yang ganteng dan cantik ini."
" Oma juga udah ga mau lagi ngurus butik dan cafe. Oma mau fokus bantuin kamu ngerawat Abang, kakak, mas dan adek."
" Makasih ya mama dan papa selalu ada buat Clara. Selalu support aku. Clara sayang sama mama dan papa."
Aku mencium tangan mama Siska dan papa Arman. Aku merasa memiliki orang tua yang utuh.
__ADS_1
" Mama kok nangis. Opa nakal ya." kata Zae.
" Enggak kok sayang. Mama nangis karena terharu. Oma dan opa sayang banget sama mama."
Aku memeluk Zavi dan Zae. Mereka menghapus air mataku sambil menciumi pipiku.
" Kami juga cayang mama." kata mereka berdua lalu mereka memelukku.ππππ
" Mama juga sayaaaaang banget sama Abang, kakak, mas dan adek. Sehat terus ya nak. Jadilah anak Sholeh dan Sholehah nya mama dan papa ya sayang." ππππ
" Ya mama."
" Ya mama. Adek bayi itut mama ya?" tanya Zae
" Iya sayang. Dedek bayi ikut mama. Mereka kan harus nen mama."
" Telus Abang ma tatak di nggal mama."
Mata Zavi dan Zae mulai berkaca-kaca.
" Hei jagoan mama. Mama ga lama kok ninggalin kalian. Lusa kalian bisa nyusul mama ke Bali bareng oma dan papa. Jangan nangis dong nak. Kalian kan anak-anak hebat."
__ADS_1
" Tapi...."ππππtangis Zae pun pecah.
" Tenapa Ndak papa ma Dad aja yg kelja. Mama umah aja."
" Kalau kalian sudah dewasa, kalian akan mengerti nak." Aku memeluk Zavi dan Zae sambil menghapus air mata mereka.
" Mama ga lama kok. Cuma sehari kok sayang. Jangan nangis dong sayang. Mama jadi ikutan sedih nich."
" Ma, Abang tangen daddy."
deg
' Kenapa disaat seperti ini anak-anak ingat daddy-nya. Bagaimana aku harus menjelaskan ke mereka kalau mereka ga mungkin ketemu dengan daddy-nya.' ucapku dalam hati.
" Daddy lagi kerja di luar kota sayang. Insyaallah nanti Daddy ke sini buat jemput kalian. Daddy juga kangen kalian."
" Ma, phon daddy." Zavi memintaku menelfon Zayn. Aku bingung harus bagaimana.
" Iya nanti kita telfon daddy ya. Sekarang kalian bobok siang dulu ya." bujuk ku.
" No mama. Phon daddy cekalang." kata Zae.
__ADS_1