TAKDIR Cintaku

TAKDIR Cintaku
TAKDIR Cintaku 2 Saling Memahami


__ADS_3

Sebesar marah bagaimanapun, Naira tetap berusaha tidur menghadap kearah suaminya. Hafidz melihat istrinya sudah memejamkan matanya.


Wajah lelah naira tampak terlihat oleh Hafidz. Entah mengapa Hafidz merasa sangat bersalah pada istrinya kerena ketidak kejujurannya.


lama melihat langit-langit kamar dengan pikiran yang merambat ke mana-mana hingga akhirnya Hafidz ikut masuk dalam dunia mimpi.


Masih dengan rasa mengantuk nya Naira terjaga saat azan subuh tiba. Melihat, sisi kanannya, suami sudah tidak ditempat tidur. Naira mengumpulkan seluruh tenaganya sebelum bangun.


Menyibak selimutnya turun dari tempat tidur dan kembali memasang kaki palsunya dan beranjak masuk kamar mandi.


Menunaikan kewajibannya. Naira tampak khusuk dalam doanya. Air mata jatuh membasahi mukenah putih itu. Menumpahkan segala rasa lelah dan rasa penat yang ada. Naira yakin bahwa masih ada Tuhannya yang mendengar jeritannya, memberikannya solusi terbaik dari tiap masalah yang dihadapinya.


Selesai shalat, Naira merapikan kembali alat shalatnya. Terdengar suara pintu kamar terbuka dan ternyata Hafidz dari mesjid menunaikan shalat subuh. Hafidz mendekati istrinya dan menariknya hingga Naira terjatuh di atas pangkuannya.


"Udah gak marah kan?


" M....

__ADS_1


"Masih marah? tanya Hafidz lagi.


"Gak....


" Sayang, jangan hukum aku seperti ini. Ayo bicaralah biar semua jelas."


Naira berdiri memperbaiki posisinya. Menatap suaminya.


"Jujur, aku merasa kau sangat berubah, mas. Kau bukan Hafidz yang aku kenal dulu. Aku merasa kau tidak jujur, mas. Katakan padaku, apa yang sebenarnya yang kamu sembunyikan dari ku! katakan mas walau itu menyakitkan!


Hafidz diam tidak tahu harus mulai dari mana. Dia tidak yakin pada dirinya sendiri.


Hafidz pun menceritakan perihal kesibukannya selama ini. mulai dari perusahaan yang mengalami sedikit gangguan hingga berakhir dirinya memeriksakan diri pada seorang dokter.


"Apa maksudmu mas kau memeriksakan diri ke dokter tanpa sepengetahuan aku, bukannya kita sudah periksa kesehatan dan apa yang kau sembunyikan dariku, mas?"


"Hasil pemeriksaan itu mengatakan jika sebenarnya aku yang tidak bisa memberimu keturunan. kamu pasti paham maksudku kan? Fajri terdiam setelah menjelaskan semua pada Naira.

__ADS_1


Naira yang menderita pengajuan suaminya dengan segera memeluk suaminya. Keduanya meneteskan air mata.


"Aku tidak percaya, mas."


"Percaya atau tidak percaya itu adalah kenyataan, Naira."


"Lalu apa hubunganmu dengan perempuan itu mas?


" Aku tidak memiliki hubungan apa pun pada perempuan manapun, Naira. Percayalah padaku. Justru sekarang harusnya aku yang akan siap jika kau akan pergi dariku setelah mendengar dari sisi kekuranganku!


"Mas, aku mencintaimu dan aku tidak akan pernah pergi darimu kecuali mas yang pergi meninggalkan aku. Mas tahu aku sudah hidup sebatang kara ditambah aku wanita cacat mas dan kau menerimaku apa adanya. Apakah aku punya alasan untuk pergi meninggalkanmu? aku hanya minta padamu, mas. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu apapun lagi dariku.


"Maafkan aku, sayang. Fajri mengecup kening istrinya.


Naira terus memberikan dorongan pada suaminya agar suaminya terus percaya diri.


" Mas bagaimana pun dirimu jika kamu bisa menerima segala kekuranganku mengapa aku tidak. Aku yakin pasti ada jalan dan aku yakin dibalik ujian ini akan ada hikmahnya. Kita akan berusaha bersama sebisanya, mas. "

__ADS_1


Fajri semakin mengeratkan pelukannya hingga pagi pun tiba. Kini keduanya kembali seperti sebelumnya mengarungi bahtera rumah tangga dengan apa adanya berjalan dengan semestinya.


__ADS_2