
"maaf aku bukan spesial untukmu dan aku tidak berhak menyuapi mu. kita hanya teman. ujar rizki dan berbalik kearah anisa yang tidak jauh berdiri dari tempatnya.
serr.........
hancur lebur lah perasaan penuh kekecewaan di hari ulang tahunnya. sebisa mungkin dirinya menahan bulir bening yang akan jatuh di pelupuk mata hitamnya.
rizki pun pergi dan menarik tangan anisa. anisa pun sontak kaget dengan sikap rizki yang tiba-tiba menariknya.
anisa terus memberontak namun rizki tidak menghiraukan.
"masuk!" perintah rizki pada anisa.
" tidak. "
"kau tahu jika kau membantah aku memaksamu. "
"kak.kenapa sih? ada apa denganmu? kenapa kau selalu seperti ini? " ujar anisa dengan kesal. namun rizki tidak menjawab.
"masuk." perintah rizki lagi dan anisa akhirnya menuruti perintah rizki. bagi anisa percuma berdebat toh juga tidak akan menyelesaikan masalah.
__ADS_1
alan berlari menyusul anisa dan anisa sudah terlihat masuk ke dalam mobil rizki. rizki pun menancap gas mobilnya dan alan hanya bisa berdiri ditempat melihat kepergian anisa dan anisa hanya bisa menatap alan seakan mengatakan maafkan aku alan".
dalam perjalanan, sesekali anisa melihat raut wajah rizki tampak sedang marah. anisa hanya diam membisu sesekali pandangannya menuju keluarga entah apa yang ada dalam pikiran anisa sekarang. rizki pun melirik anisa mengira jika anisa sedang tidur .
"aku tidak mau lagi melihatmu bersama pria itu. ucap rizki dan terus menambah kecepatan mobilnya.
" tapi kenapa? tanya anisa dengan kesal.
"karena aku tidak mau sampai terjadi sesuatu denganmu. jika hal itu terjadi maka aku......
anisa menunggu ucapan rizki yang terpotong.... namun rizki tidak melanjutkan ucapannya.
Rizki
maafkan aku anisa aku tidak tahu perasan apa yang aku rasakan kini. seakan aku takut . aku berfikir jika ini ku lakukan sekedar karena amanah. namun semakin aku yakin itu sangat menyakitkan bagiku." aku ingin mengakuinya tapi aku sadar aku tidak bisa untuk lebih dari itu. aku tersiksa dengan perasaan ini. aku marah denganku mengapa rasa itu terkuak lagi.
sampailah di rumah anisa. dan hafidz pun sudah ada di sana berdiri
"paman." teriaknya.
__ADS_1
aku menghampiri hafidz yang sudah tumbuh menjadi seorang remaja dan memeluknya . hafidz memintaku untuk mengobrol banyak dengannya. ia bercerita banyak hal mulai dari dia akan masuk disekolah tingkat menengah atas di mana setelah selesai semester akan datang.
Anisa.
aku melihat hafidz dan pamannya begitu akrab hingga membuatku kembali mengenang almarhum suamiku. seakan saat bersama rizki hafidz seperti bersama ayahnya. namun rasa itu aku tepis bahwa sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa mengantikan posisi rayhan ayah kandung hafidz. namun hal itu tidak bisa ku pungkiri karena memang dari kecil hafidz begitu dekat dengan ayah dan pamannya.
aku tersenyum melihat tawa anak semata sayangku. dia seakan menemukan sosok yang begitu memahaminya. aku berusaha menjadi ibu dan ayah untuknya namun kenyataan ibu adalah tetap seorang ibu.
ku hapus air mataku. dan tidak kusadari rizki sudah berada di sampingku. dia melihatku dan aku berpura-pura menguap.
"apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu tangisi ?" ucapnya melihatku dalam keadaan mata berkaca-kaca
" kak ini sudah malam. pulanglah aku takut tetangga akan salah paham, aku mohon padamu ucapku."
ada apa sih dengan rasa itu mengapa begitu menyakitkan 💔?
up... up... up.... 😉😉😉😉😉
tinggalkan komentar kalian di bawah kolom komentar dan jangan lupa beri likenya.
__ADS_1