
"Aku akan selalu bersamamu dalam suka maupun duka,daddy. Kita hadapi semuanya bersama-sama hingga maut memisahkan kita."
" Aamiin 🤲🤲🤲🤲. I Love you my lovely." 😘😘
Setelah membereskan barang yg akan dibawa pulang kami segera berjalan menuju mobil. Aku menggendong baby Zavi sementara Zayn menggendong baby Zae. Kami pergi ke kota B memulai hidup baru dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Zayn juga mempekerjakan Lisa dan bibi Lestari untuk membantuku merawat si kembar. Dia begitu menyayangi si kembar seperti anak kandungnya sendiri. Si kembar pun sangat lengket dengan Zayn.
__ADS_1
Sementara di tempat lain Fandi kebingungan mencari keberadaan ku. Semenjak aku menghilang, Fandi menyewa detektif karena khawatir keadaanku dan bayiku. Papa Arman, mas Arka dan mama Sinta terkejut saat Fandi menceritakan tentang bayi yg ku kandung adalah anak biologisnya. Awalnya mereka marah karena tau Fandi dan Arka berbuat tidak senonoh padaku. Fandi menunjukkan hasil USG 4D beberapa waktu yg lalu untuk meyakinkan Arka, aku sedang mengandung anak Fandi. Arka akhirnya menyerahkan meski sudah berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan ku ternyata usahanya selalu gagal.
Sebulan yg lalu Arka telah resmi menjadi duda. Hak asuh anaknya ada pada Arka karena dia bisa membuktikan bahwa mbak Rosa tidak bisa menjadi ibu yg baik untuk kedua anaknya. Mbak Rosa sangat terpukul atas perceraian mereka dan juga keputusan hakim yg memberikan hak asuh pada Arka. Dia berjanji akan membalas semua perbuatan Arka padanya. Namun Arka tidak peduli. Dia mengajak anak2 tinggal bersama orang tuanya.
Papa Arman membantu Fandi mencari ku hingga sekarang. Mereka hanya tau aku sudah melahirkan bayi kembar,tapi dimana aku tinggal tidak ada yg tau. Zayn menutup rapat keberadaan kami dari semua orang.
Fandi merenung di dalam kamar apartemennya.
__ADS_1
" Dimana kamu, Clara.kenapa kamu pergi membawa si kembar. Bukankah kamu sudah berjanji padaku, kita akan menikah dan merawat baby kita. Kenapa kamu tidak menungguku. Aku sangat mencintaimu sayang. Aku mohon kembalilah padaku."
Flashback on
Fandi mengingat kenangan saat SMA dulu. Fandi siswa kelas X IPA 1 sedangkan Aku kelas X IPA 2. Kelas kami yg bersebelahan membuat kami sering bertemu. Beberapa kali kami berdua dipasangkan untuk ikut lomba olimpiade matematika antar sekolah. Seiring berjalannya waktu kami makin dekat dan memiliki banyak kesamaan. Fandi juga tidak membedakan status sosial. Meskipun aku anak yatim-piatu tapi Fandi tetap mau berteman denganku.
Sepulang sekolah, seperti biasa aku bekerja sebagai pelayan cafe milik mama Siska. Aku mengenal baik seluruh keluarga Fandi. Alhamdulillah keluarganya sangat baik bahkan aku juga akrab dengan mas Arka dan mbak Rosa. Ketika kami naik ke kelas XII Fandi mengungkapkan perasaannya padaku saat karya wisata di Bali. Awalnya aku menolak karena aku merasa tak pantas bersanding dengan Fandi, anak orang kaya, pinter, ganteng dan terkenal d sekolah kami. Aku merasa rendah diri, apalagi aku hanya seorang pelayan di cafe milik mamanya Fandi. Walau sebenarnya aku juga mencintai Fandi. Perhatiannya, ketulusannya dan sikapnya yg lemah lembut membuat siapapun jatuh cinta padanya. Saat terakhir kami di Bali, aku ingin menyeberang jalan, tanpa ku sadari ada sebuah mobil yg melaju kencang.
__ADS_1