
Hari ini jadwal persidangan aku dan Zayn. Aku sudah tiba di pengadilan bersama Alex pengacaraku. Sambil menunggu Zayn datang, aku melakukan vc dengan twins Al.
" Assalamualaikum sayangnya mama. Kalian jangan rewel ya nak. Mama ga lama kok. Besok juga mama pulang."
" Ma...ma.." jawaban twins membuatku gemas. Ya kata yg pertama diucapkan twins Al adalah mama dan papa. Mereka semakin menggemaskan.
mereka duplikat dari Zayn. Benar-benar ya sebagai seorang ibu, gen ku sama sekali ga ada d keempat anakku. Mereka mirip papa mereka. Baby Alva lebih kalem sementara baby Alvi sangat aktif. Sementara itu Zae dan Zavi sudah mulai preschool. Fandi sengaja menyekolahkan mereka karena di usia 2 tahun, mereka sudah bisa membaca meski belum lancar.
Anggap saja mereka umur 2 tahun ya.😁😁😁
Mereka semangat sekali karena mau berangkat sekolah. Aku tersenyum melihat Zae dan Zavi melambaikan tangan padaku.
" Ma, Abang mo cekolah ya. Abang love mama"
" Iya anak mama. Kalian jangan nakal ya, ikuti nasehat aunty Lisa dan Oma ya. Abang jagain adeknya ya. Love you more."
__ADS_1
" No mama. Tatak butan adek lagi. Atu tatak Zae, no adek."
" Iya mama lupa, Zae sekarang bukan adek lagi ya. Zae sekarang kakak ya. Jagain twins Al ya jagoan mama. Hari ini k sekolah dianter Oma atau papa?"
" Papa. Tu papa dah ciap mau antel."
" Assalamualaikum cantik." sapa Fandi.
" Waalaikumsalam mas. Kambuh lagi gombalnya. Titip anak-anak ya mas."
" Siap bos. Udah mulai blm sidangnya?"
" Semoga lancar dan tetap jaga kesehatan. Jangan lupa makan yg teratur ya."
" Iya mas. Salam buat mama, papa dan semuanya ya. Aku tutup dulu telfonnya. Assalamualaikum"
" Waalaikumsalam mama." jawab Zae, Zavi dan Fandi bersamaan.
Anak-anakku adalah mood booster untukku. Senyum mereka adalah kebahagiaanku.
__ADS_1
" Abang dan adek ya?" tanya Zayn yg tiba-tiba duduk di sebelahku.
" Iya." Jawabku singkat, antara kaget dan bingung.
" Aku kangen mereka. Sekarang lagi sama Fandi ya."
" Iya." aku langsung memasukkan hp k dalam tas lalu memasuki ruang mediasi diikuti Zayn dan pengacaranya.
Zayn bersikukuh tidak mau bercerai sementara aku ga mau kalah tekat ku sudah bulat untuk berpisah dari Zayn. Pengacaraku juga sudah mengatakan alasan aku menggugat cerai, bahkan bukti undangan pernikahan Zayn dan Alicia serta beberapa foto prewedding mereka ditunjukkan pengacaraku sebagai bukti. Surat keterangan dari RS mengenai visum saat aku d rawat dan beberapa bukti lain dan itu cukup membuat hakim mempertimbangkan gugatan ku. Aku menolak mediasi kedua. seminggu lagi sidang akan dilanjutkan. Saat aku akan kembali ke mobilku, Zayn menarik tanganku dan membawaku ke dalam mobilnya lalu membawa ku pergi. Sampai di sebuah apartemen, Zayn menggendong ku menuju sebuah kamar yg aku sendiri tak tahu itu punya siapa. Sampai di sebuah kamar, Zayn menurunkan ku di ranjang.
" Kamu mau apalagi, Zayn?" bentak ku.
" Ingat ya honey, kamu itu masih istriku dan sebagai seorang istri kamu harus melayani suamimu. Selama ini aku membiarkan kamu berbuat semaunya, tapi hari ini ga sayang. Kamu harus melayani suami tercintamu ini."
" Kamu tau kan Zayn, knp aku bersikap seperti ini. Kamu ga pantas menuntut hak mu, karena kamu juga ga menjalankan kewajiban mu sebagai suami......"
Zayn langsung membungkam mulutku. Dia benar-benar kehilangan kendalinya. Takut kehilangan dan emosi yg sudah tak bisa dibendung sejak aku bersikap dingin padanya, membuat dia gelap mata dan menuntut haknya secara paksa.
Pagi harinya Zayn terbangun terlebih dahulu. Dia memandangiku dan membelai wajahku.
__ADS_1
" Maafkan aku honey, aku terpaksa melakukan ini secara paksa agar kamu membatalkan gugatan cerai itu. Maaf kalau aku egois, tapi aku ga sanggup kehilangan kamu. Aku sangat mencintaimu, honey."