TAKDIR Cintaku

TAKDIR Cintaku
TAKDIR Cintaku 2 Pengakuan Hafidz


__ADS_3

Naira pulang begitu larut malam. Naira mendapati suaminya sudah terlelap, masuk kamar mandi dan berganti baju. Naira dengan pelan tidur di samping suaminya.


Begitu perih hatinya seperti teriris benda tajam menahan kesedihannya. Menatap suaminya yang sudah masuk jauh dalam dunia mimpi.


"Mas kamu berubah." batin Naira menatap sendiri suaminya itu. Naira memegang dadanya, meremas, begitu terasa sakit di sana. Bulir air mata pun jatuh seketika.


Naira bangkit dari tempat tidurnya dan keluar menuju dapur mengambil air minum, membuka kulkas apa yang bisa dia kunyah, mengambil gelas menyeduh air panas. Tiba-tiba dari belakang tangan kokoh memeluknya.


"Maafkan aku menyakitimu. Hafidz menyimpan rahangnya di atas selangka istrinya dengan semakin mengeratkan pelukannya.


Naira memejamkan matanya dan menarik napas panjang dan terus diam sambil mengaduk minuman panas yang dibuatnya sementara Hafidz terus masih posisi yang sama.


" Sayang jangan diam. Diamnya kamu sangat menyakitiku. Maafkan aku." Naira berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Lepaskan aku, mas. Aku haus.


Hafidz membalikkan tubuh istrinya itu agar menghadap ke wajahnya. Hafidz kemudian menatap wajah wanitanya. meraih tengkuk istrinya dan me****** dengan lembut. Naira membiarkan suaminya melakukan itu dan tidak membalasnya. Begitu lama Hafidz melakukan itu namun Naira sama sekali tidak membalas hal itu.

__ADS_1


" Sayang mengapa gak....dibalas?" Hafidz melakukan itu berusaha mengambil hati istrinya. Namun gagal. Naira tetap tidak membalasnya.


" Mas, apa kau tahu sikapmu seperti ini membuat aku kecewa. Aku seperti tidak mengenalmu mas. " Batin Naira berusaha untuk lepas dari pelukan suaminya.


"Mas lepaskan aku haus. Minuman panas ku dingin.


Hafidz pun melepaskan istrinya dan Naira pun mengambil minuman panas yang dibuatnya tadi. Duduk didepan meja makan menikmati secangkir kopi panasnya berharap hatinya sedikit membaik.


" Sayang aku tidak dibuatkan? aku juga mau lho." Hafidz berusaha menggoda istrinya.


"Buat sendiri!" ucap datar Naira.


Ingin Rasanya Naira marah dan mengungkapkan samua apa yang dipendam nya namun Naira sadar jika ini sudah tengah malam. Naira hanya bisa melihat punggung suaminya berlalu sambil air mata Naira kembali menetes.


" Peluk lagi kek, bujuk lagi kek, atau apalah biar hatiku luluh mas." Naira menghembus napas panjangnya dan kembali meneteskan air mata. "Mas kau berubah! " jeritan hati Naira


Membuka pintu kamarnya dengan pelan Naira tidak mendapati suaminya dikamar. Berjalan keluar Naira melihat lampu ruang kerja suaminya menyala, dengan pelan Naira membuka pintu itu dan melihat suaminya tertidur depan laptop dengan damai. Naira menyelimuti suaminya

__ADS_1


"Mas aku ikhlas jika itu yang terbaik. Aku rela melepaskan mu. Aku hanya wanita yang tidak sempurna selain cacat aku tidak bisa memberimu keturunan. Maaf kan aku mas. Naira menghapus air matanya dan berbalik tiba-tiba tangan Naira tertarik.


" Sayang jangan berkata seperti itu, kau wanita sempurna untukku. Aku menikahi mu karena Allah. Anak tidaklah menjanjikan rumah tangga itu akan bahagia, sayang. "


"Mas, kau belum tidur. " Naira berdiri mematung.


Hafidz langsung berdiri dan memeluk erat isterinya. "Jangan pernah berfikir untuk pergi dariku atau berharap aku akan melepaskan mu. Tidak akan sayang. Justru aku harusnya yang akan tanda tanya jika kau tahu, mungkin kau yang akan pergi meninggalkan aku." ucap Hafidz yang masih memeluk istrinya.


Naira mendengar itu tidak mengerti apa masud suaminya. Saat bibirnya ingin bertanya Hafidz mendaratkan bibirnya cukup lama.


Naira kembali dalam diamnya. Terpikir olehnya, apa maksud ucapan suaminya. Naira tidak paham. Hafidz masih memeluk dirinya.


"Mas...


" M.......


"Sampai kapan kau mau memelukku seperti ini. Lihatlah jam di sana sudah menunjukkan sepertiga malam. Aku sangat lelah mas, Kaki aku sudah tidak tahan untuk berdiri. Apa mas lupa, istrimu wanita cacat.

__ADS_1


Hafidz pun melepaskan pelukannya. Ada rasa perih mendengar ucapan istrinya ketika Naira merendahkan dirinya sendiri. Hafidz tidak bersuara dan hendak menggendong Naira namun Naira mencegahnya dengan cepat.


Naira keluar dari kamar itu tanpa menoleh kearah suaminya yang kini menatapnya. Hafidz menyusul sang istri. Ada rasa kecewa melihat sikap dingin Naira saat ini.


__ADS_2