
" Yank, aku mohon jangan seperti ini. Aku tau aku yg menyebabkan kita kehilangan buah hati kita, aku juga sedih sama seperti kamu. Ku mohon kita mulai semua dari awal ya. Demi anak-anak. Aku ga mau kehilangan mereka."
" Maaf tuan Zayn yg terhormat, aku sudah ga butuh lagi kamu mau sedih, senang atau menderita sekalipun. Aku ga peduli."
Aku segera menuju tempat tidur menarik selimut dan ga mempedulikan Zayn masih ada di kamar ini atau ga. Aku sudah ngantuk dan pengen secepatnya tidur. Tak lama kemudian ranjangnya bergetar, aku tau Zayn tidur di sebelahku dan memelukku dari belakang. Aku terlalu malas menanggapi. Biarkan saja anggap aja perpisahan sebelum aku meninggalkannya besok pagi. Aku sudah memutuskan untuk pergi ke Bali bersama anak-anak. Karena menurut dokter, Alva dan Alvi sudah cukup kuat untuk diajak naik pesawat. Aku sudah meminta Fandi membelikan tiket pesawat. Lusa aku akan berangkat bersama Alva, Alvi, Lisa dan Sari. Zavi dan Zae akan menyusul bersama Oma dan opanya.
Tak terasa pagi menjelang aku sengaja menunggu Zayn pergi ke kantor lebih dulu. Setelah d rumah hanya ada Bi Marni, pak Sapto dan mang Nurdin. Aku segera mengeluarkan koper dan beberapa barang pribadi yg aku miliki. Aku meninggalkan semua barang pemberian Zayn kecuali beberapa perhiasan hadiah ulang tahunku. Sebagai kenang-kenangan untuk Alvi.
" Nyonya mau kemana, kenapa membawa koper segala." tanya bi Marni.
__ADS_1
" Aku harus pergi, bi. Tolong jaga Zayn ya. Ingatkan dia kalau belum makan malam. Aku juga minta maaf pada bibi, mang Nurdin dan pak Sapto kalau aku punya salah."
" Nyonya orang yg baik. selama kami kerja disini, kami merasa dihargai dan dianggap keluarga sendiri. Nyonya kenapa pergi?"
" Bibi pasti tau apa yg terjadi pada rumah tangga kami, aku hanya ingin menenangkan diri,bi. Doakan aku semoga selalu sehat dan bisa menjalani kehidupan yg lebih baik lagi."
Bi Marni memelukku sambil menangis.
" Bi, Clara titip Zayn ya. Mang Nurdin dan pak Sapto tolong tetap disini menemani Zayn meskipun saya tidak disini lagi. Terimakasih semuanya, Clara pergi dulu ya. Oiya ini ada sedikit untuk kalian, semoga bermanfaat ya."
__ADS_1
Aku memberikan amplop pada mereka. setelah itu aku pergi naik taksi menuju rumah mas Fandi. Di sana anak-anak sudah menungguku. Mas Fandi segera mengambil koper ku lalu mengajakku masuk. Kami berkumpul di ruang tamu. Aku segera memangku Zavi. Sementara Zae duduk di pangkuan Fandi. Alvi dan Alva dalam gendongan mama Siska dan papa Arman.
" Kamu yakin mau pindah ke Bali setelah perceraian mu dan Zayn?" tanya papa Arman.
" Iya pa. Sambil menunggu surat cerai itu, Clara akan mengontrak rumah sementara waktu."
" Kenapa harus mengontrak rumah. Tinggal saja disini. Ini juga rumah kamu, nak."
" Maaf pa, sampai sekarang statusku masih istri Zayn, aku ga mau ada salah paham jika aku tinggal di rumah mas Fandi. Aku ga mau keluarga papa dan mama dalam masalah karena aku."
__ADS_1
" Ya sudah kalau itu keputusan kamu, tapi mama harap kamu tetap mengijinkan mama dan papa sering-sering jenguk kalian ya."
" Tentu saja ma. Mereka kan cucu mama dan papa. Aku ga akan bisa melarang mama dan papa ketemu anak-anak."