
Dari sebuah mobil sedan berwarna merah terdengar suara tangisan. Tangisan itu berasal dari Laura. Dia menangis, menjerit dan memohon belas kasihan dari Adrian. Tapi, sayangnya Adrian yang dibawah pengaruh obat tidak bisa berpikir waras lagi.
"TOLONGGGG!" teriak laura
"Tolong Adrian, jangan lakukan itu!" ucap Laura dengan pilu. Berkali-kali dia memohon dengan suara memelas.
Pakaian Laura entah tergeletak dimana, Adrian merobeknya dengan cepat tadi. Mobil itu menjadi saksi kejahatan Adrian pada laura Setengah jam yang lalu Adrian tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.
Laura menyesali kebodohannya, mau saja diajak Adrian jalan-jalan. Hingga tak terasa mereka sampai di pinggir kota yang sepi. Kiri kanan jalan hanya ada pepohonan dan lampu jalan yang minim. Tak ada rumah penduduk.
Jeritan Laura tak ada artinya. Isak tangisnya telah terhenti saat Adrian telah selesai dan melepaskannya.
"Ra, maafin gue. Sumpah gue nggak niat. Lupain aja semuanya. Anggap tak terjadi apapun ya hari ini ," Adrian tampak panik dan menyesal. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya tadi.
Tangan Adrian tampak gemetar. Lalu mengeluarkan isi dompetnya." Ini ambil semua duit gue. Lupain hari ini, anggap kita nggak pernah ketemu ," Adrian menarik tangan Laura lalu menyerahkan sepuluh lembar uang berwarna merah ke telapak tangan Laura.
Laura memandang uang di tangannya lalu memandang Adrian. Laura tidak menyangka Adrian memandangnya sangat rendah.
"Apa maksud lu, Rian? Elu harus tanggung jawab, elu baru saja mengambil paksa hal yang paling berharga bagi gue!" jerit Laura dengan pandangan mata nanar. Bibirnya gemetar.
"Gue nggak cinta sama lu! Gue cuma manfaatin lu biar menang taruhan! Puas lu," Adrian ikut menjerit. Apa yang terjadi saat ini diluar keinginannya. Bukan seperti ini yang Adrian mau. Dia hanya ingin memanfaatkan Laura tidak lebih.
Isak tangin Laura kembali pecah. Tangan Laura meraup wajahnya. Rambutnya yang berantakan sudah tak dihiraukannya lagi.
Plakkkk...
Laura melayangkan tamparan ke pipi Adrian. Tubuhnya terasa sakit, tapi hatinya tak kalah sakit. Hancur, semua hancur. Mulai hari itu hidupnya tak lagi sama.
"Gue benci lu Adrian atmaja!" pekik Laura yang mengenakan rok abu-abunya, lalu jaket Adrian. Baju sekolah SMA nya sudah tak bisa dipakai lagi.
Adrian hanya terdiam. Pikirannya kalut. Dia benar-benar dalam masalah besar.
"Gue bakal ngelaporin lu ke polisi!" sembur Laura yang hendak keluar dari pintu mobil. Tapi tangannya dicekal Adrian.
__ADS_1
Mata Adrian menatap tajam Laura. Membuat tubuh Laura beringsut ketakutan. Pipi Laura di cengkram kuat tangan Adrian. Wajah Adrian yang biasanya tersenyum manis pada Laura berubah menjadi sangar.
"Berani lu lapor polisi, semua dana dari perusahaan bokap gue untuk panti asuhan bakalan ditarik! Adik adik panti lu nggak akan makan enak, nggak ada biaya sekolah, mau lu?!" ancam Adrian.
Wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa centimeter, hembusan nafas Adrian terdengar di telinga Laura. Adrian menatap tajam manik mata Laura yang menyendu.
Laura meringis kesakitan, cengkeraman tangan Adrian menyakiti tulang pipinya. Bulir-bulir air mata kembali menetes. Entah kekuatan darimana, Laura menghantam kepala Adrian dengan kepalan kedua tangannya.
Laura kemudian dengan cepat keluar dari mobil, berlari secepat mungkin tanpa alas kaki.
"Lauraaaaa..." teriak Adrian yang terlambat keluar dari mobilnya. Adrian meringis merasakan sakit di kepala bagian atasnya.
Pov Laura
Laura, gadis kutu buku dengan kacamata tebalnya baru saja tiba di sekolah. Kemarin dia baru saja menyabet gelar juara perlombaan matematika tingkat provinsi untuk sekolahnya.
Laura datang dengan baju sekolah lusuhnya walau masih terlihat bersih. Dia bisa bersekolah disini, karena beasiswa.
"Tuh si gadis cupu cewek lu udah dateng. Cepetan samperin," celetuk Dedi pada Adrian saat melihat Laura dari jendela kelas.
Adrian menghela nafas kesal. Sebenarnya dia sama sekali tidak menyukai Laura. Tapi, karena sebuah taruhan sebuah motor sport dia menerima tantangan kedua temannya.
Menjadi pacar Laura selama empat puluh hari.
Untung saja, gadis yang bernama Laura itu memang sudah tergila-gila pada Adrian sedari dulu. Laura seringkali mencuri pandang pada Adrian meskipun akhirnya dia hanya menunduk malu.
"Ck, lama banget lu. Cepetan entar keburu bel masuk. Kita belum buat PR nih," revan berdecak kesal saat melihat Adrian masih duduk santai di kelas.
"Iya, bawel lu!" rutuk Adrian yang malas-malasan berdiri dari duduknya. Kemudian melangkah ke pintu kelas.
"Hai, Ayank Laura. Makin hari makin cantik aja nih," goda Adrian.
Wajah Laura langsung bersemu merah dipuji oleh Adrian. Dia tahu, tidak seharusnya dia pacaran tapi dia terlanjur bucin pada Adrian.
__ADS_1
"Kok diem? Udah ngerjain PR belom?" tanya Adrian dengan senyuman mautnya.
"Sudah. Rian belum ngerjain PR ?" tebak Laura
"Kok tahu? Ayank emang pinter deh," puji Adrian sambil menaik turunkan alisnya.
Laura segera membuka tasnya dan mengeluarkan buku PR. Menyerahkan pada Adrian dengan sukarela.
"Pinjem ya cantik," gombal Adrian lagi. Laura hanya mengangguk malu-malu kemudian melewati Adrian berjalan menuju meja belajarnya.
Adrian yang membelakangi Laura berakting seperti orang ingin muntah. Dia muak setiap hari harus memuji Shabila yang cupu. Sementara Dedi dan Revan tertawa terkikik melihat tingkah Adrian.
Adrian segera menghampiri kedua temannya, melemparkan buku Laura ke hadapan mereka.
"Nih, puas lo berdua!" sungut Adrian yang kemudian duduk dan mulai menyalin PR milik Laura.
"Santai, Bro. Tinggal sepuluh hari lagi," ucap Dedi menepuk bahu Adrian.
"Iya, nikmatin aja. Lagian lu kan untung. Bisa dapat motor keren dari kita plus nggak capek ngerjain PR sendiri," timpal Revan.
"Eh, Bro! Gue ada ide," cetus Dedi yang memberikan kode dengan tangannya agar kedua temannya mendekat.
Adrian dan Ivan kemudian mendekatkan telinga mereka ke Dedi.
"Gimana kalo hari minggu entar, ajak aja si cupu ke luar kota. Terus kita tinggalin dia disana. Gimana?" usul Dedi berbisik pada kedua temannya.
"Lu yakin? Entar anak orang kenapa-kenapa lagi?" tanya Adrian ragu.
"Dih, dia kan yatim piatu. Nggak bakal ada yang nyariin dia!" remeh Dedi sambil mencibirkan bibirnya.
"Tenang bro. Dia kan otaknya encer. Pasti bisalah dia balik lagi. Buat seru seruan aja sih," ucap Revan yang setuju dengan usul Dedi.
"Takutnya ada yang macem-macem di jalan sama dia. Kita juga yang kena. Gue nggak mau ya berurusan dengan hukum," Adrian merasa cemas membayangkan pinggiran kota yang sepi. Sudah pasti disana rawan kejahatan.
__ADS_1