
Adrian sudah menduga, kalau Dedi akan marah besar saat tahu Papanya sudah mulai menjalin hubungan kembali dengan wanita yang dulu hampir merusak kebahagiaan keluarganya.
Dedi masih beberapa kali mengamuk. Dia menendang kayu-kayu tua bahkan sampah-sampah di tempat pembuangan. Dinding belakang sekolah juga tak luput dari amukan Dedi.
Adrian dan Ivan hanya saling pandang. Mereka membiarkan dahulu Dedi melampiaskan emosinya yang tak terkontrol.
"Gue nggak terima! Rupanya nggak cukup diberi peringatan. Perempuan murahan itu harus menerima pembalasan gue!" erang Dedi dengan nafas memburu dan wajah memerah marah. Urat-urat di lehernya sudah menyembul keluar.
"Di, sabar Ini di sekolah. Entar ada yang dengar," Revan berusaha menenangkan.
"Gue marah, Van. Gue juga benar-benar kecewa dengan Bokap gue. Apa coba kurangnya selama ini? Kita udah punya segalanya. Nggak ada, yang nggak kita punya. Buat apa sih, Bokap gue cari penyakit di luar? Aarkhhhh," erang kesal Dedi.
"Emang rada gila semua Bokap kita. Enggak jijik apa mereka. Entah apa reaksi mereka saat tahu wanita yang bersama mereka selama ini adalah wanita yang sama," papar Adrian tak habis pikir. Dia sampai duduk dan meluruskan kakinya di rerumputan.
Dedi dan Revan juga ikut duduk di rerumputan. Mereka sama-sama menghela nafas dalam. Berusaha membuang beban di dalam hati.
Hening beberapa saat. Mereka bertiga sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Gue jadi takut. Jangan-jangan bokap gue juga sama," celetuk Revan yang mulai berpikir negatif.
"Semoga enggak. Kayaknya Bokap lu paling alim dah daripada bokap nya kita berdua," papar Adrian.
"Semoga keluarga elu nggak berantakan kayak keluarga kita berdua, Van. Sakit banget, Van. Rasanya nggak kuat dan yang pasti nggak ada anak yang bisa terima, kalo orang tuanya berpisah dan keluarga berantakan," jelas Dedi.
"Aamiin. Semoga Bokap gue nggak aneh-aneh," cetus Revan.
"Kalian merasa enggak sih, kita tuh mulai banyak masalah setelah kita jahatin Laura," ungkap Adrian sambil menatap kedua temannya.
" Laura ? Apa hubungannya, Bro?" tanya Dedi dengan heran.
"Ada benarnya sih, Dit. Coba lu pikir, kita tuh udah menyakiti anak yatim piatu. Setahu gue bahaya banget kalo menyakiti anak yatim piatu, kita bisa susah, terus dosanya berat," jelas Revan.
"Ah, nggak percaya gue yang gitu-gituan. Lagian kita awalnya cuma niat mengerjai si culun. Nggak ada niat sampe sejauh itu. Ini cuma kecelakaan yang nggak disengaja," kelit Dedi dari rasa bersalahnya.
"Walau nggak disengaja. Tapi, hasilnya nyata. Si Culun hamil, Bro! Gue dihantui rasa bersalah terus. Asal elu tahu, gue udah sering insomnia ditambah lagi masalah orang tua gue," ungkap Adrian.
"Elu juga terlalu banyak berpikir sih. Coba elu bawa santai, nggak bakal elu insomnia," cetus Dedi.
__ADS_1
"Bro, udah. Bagaimanapun kita emang salah sama laura Jangan mengingkari hati nurani kita," tutur Revan yang menunduk. Matanya menatap rerumputan hijau.
"Terus menurut lu gimana solusi masalah kita yang super banyak ini?" tanya Dedi yang sudah kebingungan.
"Hmm, beritahu orang tua kita video ini. Selanjutnya biar mereka yang menyelesaikan masalah mereka. Kita tinggal tunggu aja. Terus Adrian, sorry Bro, gue rasa elu harus tanggung jawab sama Laura " usul Revan dengan sangat hati-hati.
Adrian tampak terkejut dengan ucapan Revan. Sementara Dedi tampak menggeleng tak setuju.
"Usul elu nggak bisa gue terima, Van. Pasti Bokap kita melindungi tuh perempuan. Namanya orang suka, Bro. Mereka tuh lagi di mabuk cinta kotoran kucing, cuih," Dedi kembali geram.
Sementara Adrian tampak terdiam. Dia tahu perkataan Revan masuk akal Apa pun alasan mereka dibalik kehamilan Laura. Adrian seharusnya tetap bertanggung jawab. Tapi, Adrian masih belum bisa bergeming. Hatinya terlalu beku, tak bisa menyentuh betapa baiknya Laura untuk dirinya.
"Maaf, kalo usul gue elu anggap aneh. Gue cuma kepikiran sampe gitu aja sih," tandas Revan.
"Bro, jangan elu pikirin ucapan Ivan. Nggak mungkin juga kali, elu nikah sama si Cupu. Nggak cocok dong. Elu level atas dia level bawah. Dia masih belum mau menerima duit dari elu?" papar Dedi.
Adrian menggeleng cepat Laura tuh pemikirannya panjang, dia tuh udah kepikiran entar anaknya besar gimana tumbuhnya tanpa ayah. Gimana sekolahnya kalo tanpa ikatan pernikahan. Takut sulit mengurus administrasi gitu. Pokoknya banyak yang dia pikirkan. Seharusnya dulu kita nggak usah taruhan," sesal Adrian.
"Nasi udah jadi bubur, Bro. Kita semua nggak menduga ini bakal terjadi kan?" sahut Dedi.
Tak ada yang menjawab semua kembali terdiam dan Wajah mereka bertiga kembali mengkerut untuk sama-sama mencari jalan keluar.
"Gue udah nggak tahu harus ngapain. Pikiran gue buntu! Elu jangan punya ide aneh-aneh ya," cetus Adrian.
"Rian, mereka berdua tuh licik banget. Cara mereka tuh udah nggak ngotak. Mereka pengen menguasai harta keluarga kita. Coba lu pikir kalo kita diam aja, udah habis semua yang kita punya. Bahkan keluarga kita bakal berantakan. Kita harus bergerak, Bro!" jelas Dedi.
"Gue mah serah lu, Di. Keluarga lu berdua harus utuh lagi," ucap Revan akhirnya. Dedi terlalu keras kepala tidak bisa dibantah.
"Makasih, Bro. Sampai kapan pun kita bertiga sahabat. Apapun yang terjadi, kita harus saling dukung ," ucap Dedi sambil menatap mata Ivan dan Adrian bergantian.
"Oke, kita bertiga emang sahabat yang harus saling dukung!" ucap Adrian akhirnya.
Mereka bertiga akhirnya menyatukan tangan, berjanji akan tetap kompak sebagai tiga sahabat.
Suara riuh murid yang mulai ramai berdatangan dari arah depan sudah terdengar. Mereka bertiga akhirnya melangkah kembali ke ruang kelas mereka.
Sementara di kelas angel yang menunggu Adrian tak juga kembali menjadi kesal. Dia berdiri dan menghampiri Laura yang duduk di kursi belajarnya.
__ADS_1
"Eh, Cupu! Nggak malu lu, naik mobil pacar gue!" bentak Angel sambil menepak meja belajar Laura
Laura sampai terkejut, tidak menyadari kalau Angel tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
"Apaan sih lu, ngagetin aja! Elu tanya sama PACAR lu itu, dia sendiri yang tiba-tiba muncul di depan rumah jemput gue dan Tiara," ucap Laura sambil menekan kata pacar.
"Ah, nggak percaya gue! Kalo pun Rian sampe jemput elu, pasti elu sudah godain cowok gue biar mau jemput elu. Ngaku lu, elu pasti kirim pesan kan minta dijemput!" tuduh Angel sambil bercakak pinggang.
"Sembarangan aja! Ngapain ngegodain cowok lu, mending elu tanya langsung dari pada menduga-duga," cibir Laura yang lama-kelamaan kesal dengan Angel yang arogan.
Tapi, S. Lauratetap duduk tak ingin berdiri. Dia takut Angel akan memperhatikan perutnya yang mulai membesar. Sepertinya dia memang harus mencari cara agar tak ada yang curiga.
"Heh, semua orang juga tahu gimana elu dari kelas sepuluh. Elu tuh sering curi-curi pandang ke Adrian. Dasar Cupu lu, berkelit lagi lu," cibir Angel sambil mendorong bahu Laura beruntung tak terlalu kuat.
Laura mendelik tak suka. Menyentuh bahunya yang cukup sakit didorong Angel.
"Heh, apaan lu! Ngomong ya ngomong aja, nggak usah pake dorong bahu orang. Bar-bar banget lu jadi cewek!" Tiara tiba-tiba datang dan membalas mendorong bahu Angel.
"Elu yang apaan! Kenapa elu ikut-ikutan, gue nggak ada urusan sama lu. Gue urusannya sama si Cupu!" bentak Angel yang mendorong bahu Tiara.
"Mending elu balik ke kursi elu. Bentar lagi guru pasti datang," tekan Laura sambil menunjuk kursi Angel dengan tangannya. Laura tetap duduk tak berani berdiri.
"Eh, lu siapa Cupu? Pake beri perintah ke gue buat duduk. Dih, ogah banget gue nurut elu," cibir Angel yang bersedekap dada.
Banyak murid di kelas yang mulai memperhatikan pertengkaran mereka. Mereka hanya diam dan memperhatikan, malas ikut-ikutan. Apalagi sudah berhubungan dengan Angel yang arogan.
"Angel udah jangan ribut. Mending elu balik ke kursi," ucap Ikhwan yang datang dan berdiri di dekat Tiara.
"Apaan sih lu, Wan? Gue masih belum puas ngomongin si Cupu!" rutuk Angel tak suka.
"Rian, pacar lu nih bikin ribut di kelas!" seru Ikahwan saat melihat Adrian masuk kelas.
Adrian yang merasa dipanggil segera menoleh. Adrian yang tak tahu apa-apa hanya mengernyit heran. Sementara Laura hanya membuang muka saat melihat Adrian masuk kelas. Sakit rasanya saat semua orang berkata Angel adalah pacar Adrian.
Lalu Laura siapa? Kekasih yang tak dianggapkah? Dia bahkan sedang mengandung benih laki-laki yang diakui pacar oleh Angel. Ah, Laura semakin merasa sakit hati. Andai bisa menenggelamkan diri ke dalam bumi. Dia tak ingin dilihat siapa pun lagi. Tak mau melihat Angel dan Adrian bersama lagi.
"Elu ngapain di situ, Angel?" tanya Adrian akhirnya.
__ADS_1
bersambung.....
Maaf semua lama update nya🙏