
Adrian masih bengong. Matanya masih menatap kosong. Tak bisa membedakan mana nyata dan khayalan. Adrian bahkan tak menyadari kalau yang masuk ke ruangannya dan berjalan menuju brankarnya adalah mamanya.
Bayangan-bayangan seorang bayi di inkubator yang melewatinya saat dia ada di lift rumah sakit berkelebat di pelupuk matanya lalu bergantian foto bayinya yang ditunjukkan pria bermasker malam itu. Persis wajahnya.
Mata Laura yang terlihat sangat terluka dengan ucapannya saat terakhir mereka bertengkar dan ucapan Laura yang meminta dia tak mencari bayinya suatu hari nanti, terngiang di telinga Adrian. Membuat kepalanya semakin terasa berdenyut sakit. Seperti ada sebuah tangan besar dan kuat sedang mencengkeram kepalanya. Sakit!
"Rian, ini mama datang. Rian," panggil sang mama menggoyangkan pelan bahu Adrian.
Adrian menoleh pada mamanya. Adrian langsung menangis.
"Mama... Adrian salah, Ma," raung Adrian.
"Kamu kenapa, Rian? Kamu mimpi buruk? Garis bawah mata kamu menghitam kamu nggak tidur ?" mamanya memberondong pertanyaan. Sang mama terlihat khawatir.
Adrian yang bahkan belum bisa duduk itu, hanya terlentang di atas brankar. Airmata saja yang mewakili perasaannya saat ini.
"Ma, tolong Rian. Cari Laura untuk Rian," racau Adrian.
" Laura siapa? Mama nggak tahu yang mana orangnya?" tanya mamanya bingung.
"Ma, Rian melakukan kesalahan. Apa mama akan memaafkan Rian dan mau menolong, Rian?" tanya Rian dengan tatapan sendu.
Mamanya mengernyit heran, menyadari dari wajah sang anak yang terlihat frustasi dan tertekan.
"Kamu pasti belum sarapan, mama panggil perawat dulu minta sarapan," ucap mamanya mengalihkan pembicaraan.
"Ma, please. Rian lagi serius," ucap Adrian memohon. Tangannya menahan tangan sang mama agar tak pergi.
Sang mama menghela nafasnya. Pikirannya sudah terasa berat. Masalah dia dan suaminya saja belum kelar. Belum lagi perusahaan mereka yang tengah goyang. Sebagian karyawan bahkan sudah di PHK oleh mereka. Sekarang, masalah apa yang ingin Adrian katakan?
"Ma... Adrian sudah punya bayi," ungkap Adrian jujur.
Satu kalimat yang mampu membuat mamanya langsung menoleh pada Adrian dengan tatapan melotot tajam.
"Apa kamu bilang? Mama nggak denger!" tanya mamanya tak percaya. Mungkin saja gendang telinganya salah mendengar.
"Rian sudah punya anak, Ma. Dia baru lahir," ucap Adrian lagi. Kali ini suaranya terdengar parau.
Adrian tak takut lagi mengungkapkan rahasianya. Dia sudah terlalu tertekan, dia tak sanggup menyimpan rahasia lagi. Dia dihantui rasa bersalah.
Sang mama menggeleng tak percaya. Menatap penuh selidik ke anaknya.
__ADS_1
"Kamu lagi mengigau, Rian! Mama akan panggil dokter dulu," ucap sang mama tak percaya.
"Ma, Rian sadar dengan apa yang Rian katakan! Rian tertekan, Ma. Please bantu Rian, Ma!" erang Adrian yang semakin frustasi melihat reaksi mamanya yang tak percaya.
"Rian, kamu lagi sakit. Umur kamu bulan kemarin baru genap delapan belas tahun. Bagaimana mungkin kamu punya anak? Apa kepalamu terkena pukulan keras, Nak? Kamu masih sekolah, belum menikah," tutur sang mama yang menganggap ucapan Adrian masih dibawah kesadarannya.
"Ma, Rian beneran punya anak. Bantu Rian cari Laura, Ma. Laura sudah melahirkan. Rian nggak tahu kondisinya sekarang bagaimana," ungkap Adrian memohon.
"Laura siapa sih Rian? Gimana mungkin kamu umur segini sudah punya anak. Nggak mungkin Rian, kamu sudah sejauh itu. Mama nggak percaya. Anak mama, anak baik-baik !" sahut sang mama menggelengkan kepala. Dia menolak percaya ucapan anaknya.
Orang tua mana pun pasti syok anak yang dikira baik dan tidak pernah macam-macam, tahu-tahu mengaku sudah punya anak.
"Adrian pernah melakukan kesalahan satu kali, Ma. Itu karena Adrian hanya setengah sadar. Tapi, Laura hamil, Ma. Dan sekarang dia sudah melahirkan, Ma. Bayi itu mirip sekali dengan Adrian," jelas Adrian.
"Nggak, mama nggak percaya. Anak mama anak baik-baik. Kerjaan kamu tiap hari cuma main game bareng Dedi dan Revan. Gimana mungkin!" raung sang mama tak percaya.
"Ma, tolong dengarkan Adrian dulu Rian nggak bohong!" tekan Adrian frustasi.
"Mama akan panggil dokter sekarang. Kamu sudah berhalusinasi, Rian. Mungkin kepala kamu dihantam benda keras. Bila perlu kita akan rontgen ulang," putus Mama nya yang langsung berlari keluar ruangan.
"Mama!" jerit Adrian Namun, jeritan Adrian percuma.
Mamanya tak mau mendengarkan. Dia segera ke ruangan dokter.
Tak lama, seorang dokter datang bersama mamanya. Sang mama menatap khawatir pada Adrian.
"Dokter, saya dalam keadaan sadar," lirih Adrian memohon saat sang dokter datang.
"Apa kamu tidak tidur semalaman?" tanya sang dokter khawatir melihat kondisi Adrian.
"Tidak, dokter. Saya tidak bisa tidur," jawab Adrian.
"Kalau begitu kamu harus tidur dulu. Jangan banyak berpikir saat ini. Tubuh kamu harus pulih dulu. Setelah itu, baru berpikir lagi ya," nasihat sang dokter lembut yang tanpa disadari Adrian. Sang dokter sudah memberikan obat tidur.
Sang dokter sangat pintar, bertanya hal-hal yang ringan pada Adrian. Seperti kebiasaannya, makanan kesukaannya, hobinya hingga warna yang disukai. Hingga Adrian tanpa sadar terlelap tidur dengan cepat.
"Tolong, ditunggu anaknya ya, Bu. Mungkin anak ibu sedang dalam masalah yang berat. Kalau dia cerita nantinya dengarkan saja, jangan dibantah dulu," pinta sang dokter.
"Iya, dokter. Terima kasih," balas mama Adrian.
Dokter pun akhirnya keluar dari ruangan dan sang mama duduk disamping brankar. Mengelus wajah anaknya dengan hati-hati. Jangan sampai mengenai luka-luka memar di wajah anaknya.
__ADS_1
Ucapan sang anak tadi, sungguh mengusik pikiran sang mama. Dia masih berharap ucapan Adrian hanyalah sebuah halusinasi. Tak nyata dalam kenyataan.
***
Orang tua Tiara, hari ini tiba di rumah kost. Mereka baru saja sampai dari Sukabumi, Jawa Barat.
Mama Tiara dan Tiara saling berpelukan. Melepas rindu.
"Mama, kok tiba-tiba? Nggak kasih kabar lagi," rutuk Tiara pura-pura kesal.
"Mama tuh ke Jakarta karena mau ketemu sama orang tuanya Laura," ungkap Mama Tiara yang kemudian duduk di sofa.
"Kok mama tahu Laura?" tanya Tiara mengernyitkan kening. Dia duduk di sofa disamping mamanya.
Papanya Tiara bahkan sudah duduk di lantai dan menghidupkan kipas angin. Membuka kancing baju batiknya dan melepasnya. Hanya memakai kaos oblong. Seperti kebiasaan bapak-bapak di Indonesia pada umumnya.
"Jakarta mah panas. Aduh, sudah menyalakan kipas angin masih panas. Mana lagi kipas angin yang lain, Ra?" celetuk sang Papa menyeka keringatnya.
"Bentar, Pa. Tiara ambilkan di kamar," sahut Tiara. Dia segera berdiri dan menuju kamarnya.
Tak lama, Tiara keluar dari kamar sambil membawa kipas anginnya.
"Ya ampun, kecil banget kipas angin kamarmu, Nak. Bentuknya juga kayak boneka," rutuk papanya sambil memperhatikan kipas angin bentuk pinguin.
"Ih, Papa mah. Makanya pasang AC aja," omel Tiara manja.
"Mahal listriknya di kota besar gini! Udah, Papa mau berkipas dulu," ucap Papanya yang menyalakan dua kipas angin.
"Ma, tau darimana mama tentang Shabila?" Tiara bertanya ulang. Dia penasaran.
"Orang tua Laura telepon Mama dan Papa. Mereka mau ketemu tapi katanya anaknya masih di rumah sakit nggak bisa ke Sukabumi. Ada karyawannya yang mewakili datang. Tau nggak kita dikasih kebun, tanah satu hektar terus Papa juga dapat peternakan sama modal usaha buat nambah kost-kostan katanya," ungkap sang mama takjub.
"Hah, Masyah Allah. Baik banget mereka, ya Allah," ucap Tiara terkejut. Dia terharu sampai matanya berkaca.
"Tapi, tau dari mana ya orang tua Laura nomor hape papa? Katanya Laura itu teman kamu, Nak. Kamu katanya banyak bantu Laura. Makanya orang tuanya kasih banyak banget ke kita sebagai ucapan terima kasih katanya," ucap Papanya menyambung ucapan mamanya.
"Kemarin ada karyawan Papa Laura minta nomor hape Papa. Katanya papa Laura mau ngucapin terima kasih gitu. Tapi, Tiara nggak nyangka sampai ke Sukabumi kasih tanah sama perkebunan," jelas Tiara terharu.
"Emang kamu teh ngapain, Tiara? Sampe keluarga Laura segitunya sama kita," tanya mama bingung.
"Nggak ada, Ma. Tiara sama Shabila tuh bestie. Best friend forever gitu pokoknya. Waktu Laura diusir sama tantenya yang jahat banget, nah Laura tidur disini. Daripada Tiara tidur sendiri juga kan. Lagian Laura itu pinter, Tiara bisa belajar dibantu Laura," jelas Tiara.
__ADS_1
"MasyaaAllah, tapi balasannya luar biasa gitu. Kalo jadi duit totalnya berapa milyar itu mereka kasih," tutur mamanya.
"Ma, Tiara juga dapat perhiasan berlian terus sekolah dijamin sampai lulus kuliah gratis, terus dapet jaminan kerja juga di perusahaan orang tua Laura. Bentar, Tiara ambilkan perhiasannya," ucap Tiara.