
"Gue akan bantu cari jalan keluar, biar elu nyaman ke sekolah," sahut Adrian.
"Elu harus cepat cari solusi buat gue lusa ada pelajaran olahraga, gue harus punya alasan yang pas biar nggak ikut pelajaran olahraga," ucap Laura.
"Iya, elu tenang aja. Habisin aja makanan elu," ujar Adrian.
Hingga istirahat hampir selesai, Adrian kembali ke kantin menyerahkan dua mangkuk kosong ke tempat penjualan.
"Bro, ada kabar demo masyarakat di gedung pejabat, mereka meminta papa Dedi di pecat dan di periksa harta kekayaan punya keluarganya," bisik Revan saat mereka berjalan di tempat sepi.
"Serius lu? Terus Dedi dimana sekarang?" tanya Adrian terkejut mendengar berita dari Revan.
"Dia barusan pergi , dia ditelepon Mamanya diminta pulang," sahut Revan.
"Semoga Dedi dan keluarganya bisa melewati ini semua," harap Adrian.
"Aamiin. Kalo perusahaan bokap gue kayaknya udah mulai kondusif keadaannya. Apalagi berita tadi, Farida sudah menarik kembali laporannya," papar Revan.
"Iya, Nyokap Bokap gue juga tadi pagi sarapan bareng gue. Momen langka yang kadang cuma gue rasain pas lebaran hari pertama," ungkap Adrian.
"Gue harap setelah ini, nggak ada masalah lagi ya Bro. Ohya, apa kita jadi menggugat balik dua penipu itu?" tanya Revan.
"Kayaknya jadi, sih. Kita tunggu kabar dari Dodit aja," jawab Adrian.
"Penipu berdua itu pasti nggak nyangka kalo kita menuntut balik mereka," timpal Revan.
"Mereka berdua tuh harus dibuat kapok. Bagaimanapun cara mereka salah, semoga dengan dipenjara mereka jadi sadar," ucap Adrian.
"Gue jadi inget, Laura andai dia berani, kita saat ini juga bakal di penjara, Bro," ungkap Revan.
"Orang tua kita nggak bakal tinggal diam. Kalo Laura berani mengadu ke pihak berwajib. Laporan dia kemungkinan ditolak, dan dia bakal nggak aman di sekolah ini. Justru bagus dia tidak melaporkan kita. Dia hanya akan menambah masalah," papar Adrian.
"Iya sih, elu benar juga. Tapi, bayinya gimana, Bro? Kasihan loh. Gimana pun itu anak lu, darah daging elu," tutur Revan yang kasihan pada nasib Laura juga anak yang ada di dalam perut nya.
"Gue tahu. Tapi kok berat ya mau nyebut itu anak gue. Karena gue melakukan itu bukan atas kemauan gue. Semua diluar kendali pikiran dan tubuh gue," kelit Adrian yang merasa tak nyaman jika membahas janin yang ada di kandungan Laura.
"Entah lah, Bro. Gue cuma kasihan sama dia. Laura juga nggak salah apa-apa. Tapi, dia yang menanggung semuanya," sahut Revan dengan wajah sedih memikirkan nasib Laura .
"Udahlah, Bro. Kita pikirin nanti aja ya. Udah bel masuk. Ayolah kita ke kelas," ajak Adrian.
Ivan akhirnya mengangguk. Mereka berdua melangkah ke koridor sekolah dan kembali ke kelas.
Dua pelajaran mereka lewati setelah jam makan siang. Setelah itu, bunyi bel pulang berbunyi.
"Rian, mana Dedi ?" tanya Angel saat Adrian mengemasi buku-bukunya.
"Elu nanya gue?" tanya Adrian cuek.
"Enggak, gue nanya sama dinding di pojokan!" ketus Angel.
"Oh, ya udah. Bye," sahut Adrian keluar kelas. Adrian tadi sempat mengirim pesan pada Laura untuk menunggunya. Adrian akan pura-pura ke mobilnya. Menunggu sepi, dia akan kembali ke kelas. Tak mau ada yang curiga.
"Rian... ih tunggu dong!" sahut Angel mengejar langkah kaki Adrian.
Sementara Tiara dan Laura hanya melihat saja tingkah Angel dan Adrian.
__ADS_1
"Muak gue lihat dua sejoli itu," cibir Tiara yang sudah duduk di bangku sebelah Laura.
Sementara Shabila hanya menggedikkan bahunya. Mau bagaimana lagi. Dia harus tetap diam. Tak mau terlihat.
Laura tadi sempat membalas pesan Adrian untuk tak menunggu dirinya. Dia akan pulang bersama Tiara. Tadi pagi pun, Laura pergi sekolah naik motor bersama Tiara. Tapi, pesan Laura belum dibaca Adrian.
"Adrian tadi kirim pesan ke gue," ucap Laura.
"Pesan? Apa pesannya?" tanya Tiara penasaran.
"Nih, lu baca sendiri aja," jawab Laura memberikan hapenya pada Tiara.
Tiara segera mengambil hape Laura dan membacanya.
"Oh, bagus dong! Lebih aman lu naik mobil. Entar gue giring dari belakang," ucap Tiara.
"Kok, bagus? Males banget gue. Tau nggak tiap satu mobil dengan dia tuh, bawaan gue mau marah aja. Nggak tahu kekuatan darimana? Gue tuh bisa tiba-tiba kuat gitu mukul dia. Nggak habis pikir dengan kelakuan gue sendiri," ungkap Laura.
Tiara sampai terkekeh mendengar ucapan Shabila. Membayangkan Shabila memukul Adrian.
"Nih anak malah ketawa. Gue ikut lu pulang aja ya!" pinta Laura memohon.
"Enggak. Kalo elu naik motor, jilbab elu terbang terbang. Mending ikut Adrian deh, lebih aman dari mata-mata orang yang melihat kita di jalan. Elu tenang aja, gue ada dibelakang mobil Adrian," ucap Tiara meyakinkan Laura
"Ya udah. Gue ikut kata elu aja," ucap Laura akhirnya.
Menunggu beberapa belas menit, Adrian akhirnya kembali ke kelas.
"Sorry, lama. Angel tadi resek banget, dia maksa ikut," ungkap Adrian.
"Ayo, kita pulang. Udah sepi," ajak Adrian.
Laura hanya mengangguk. Dia kembali menutupi sisi kanan tubuhnya dengan tas saat berdiri. Sementara Tiara berada di sisi kiri tubuh Laura, Sementara Adrian ada di depan Laura
Mereka bertiga berjalan cepat ke parkiran. Sesekali mata Adrian menoleh ke kiri dan ke kanan. Melihat jangan sampai ada orang lain yang berada didekat mereka.
Hingga sampai di parkiran, Adrian membukakan pintu mobil dan Shabila segera masuk. Sementara Tiara sudah berada diatas motornya.
Adrian segera menghidupkan mobilnya. Mereka segera melesat ke jalan keluar dari area sekolah.
"Hmm, Laura," panggil Adrian.
"Apa?" sahut Laura dengan ketus.
"Gue udah pikirkan masalah yang lu keluhkan. Gue punya ide," ungkap Adrian.
"Oh ya, apa?" tanya Laura yang ingin tahu.
"Jadi, besok elu nggak usah masuk sekolah dulu. Entar surat sakitnya gue yang urus," papar Adrian.
"Hah... gimana sih lu? Gue kan masih mau sekolah! Malah lu suruh nggak usah sekolah!" rutuk Laura kesal. Mulutnya sampai mengerucut sangking kesalnya.
"Denger dulu gue ngomong. Cuma sehari aja kok elu nggak masuk sekolah. Pura-pura kecelakaan gitu. Entar surat gue yang urus. Nah, mulai lusa elu datang ke sekolah dengan kaki diperban tebal gitu terus pake kursi roda," jelas Adrian.
"Hah... harus sampe segitunya?" tanya Laura bengong membayangkan dia harus berakting.
__ADS_1
"Iya, gimana lagi. Cuma begini cara yang terpikir saat ini sama gue. Biar elu nggak harus ikut olahraga atau nggak bakal sampai disuruh ke depan nulis di papan tulis," terang Adrian.
Laura tampak diam dan berpikir.
"Iya juga sih. Cuma ini jalannya," ucap Laura.
"Bener kan? Atau kalo mau lebih meyakinkan elu nggak usah masuk tiga hari kek. Kesannya elu tuh sakit parah banget gitu," tutur Adrian.
"Kalo gitu, butuh surat keterangan dokter dong?" tanya Laura bingung.
"Iya, lu tenang aja kalo soal surat keterangan. Gue bisa kok bantu lu. Elu cukup di rumah aja dulu sementara," papar Adrian.
"Entar gue pikir dulu ya," putus Laura akhirnya.
"Iya, tapi ini menurut gue jalan terbaik saat ini. Lusa sudah pelajaran olahraga, Ra," ucap Adrian.
"Iya, gue tahu. Malam ini gue pikirin," sahut Laura
"Ya udah. Kita mampir beli makan dulu ya. Habis itu gue mau belajar. Elu kan guru les gue," cetus Adrian.
"Eh, emang gue setuju jadi guru les elu?" tanya Laura bingung.
"Kan elu sudah nggak mengajar les lagi di tempat Soni. Berarti gue aja sekarang jadi murid elu. Gue butuh banget guru les biar bisa lulus sekolah," papar Adrian.
"Bukannya kalian bertiga pasti lulus ya!" cibir Laura.
"Setelah kasus ini, perusahaan orang tua kita bertiga sempat goyang. Elu nggak lihat berita apa? Masyarakat lagi demo supaya Papa Dedi di turunkan dari jabatannya dan di usut segala harta kekayaan keluarga mereka!" ungkap Adrian.
"Hah? Serius lu?" tanya Laura terkejut.
Adrian hanya mengangguk setuju. Adrian kemudian berhenti disebuah rumah makan. Membeli makanan dan kembali ke mobil. Sementara Tiara Hanya menunggu di motornya.
Setelah itu, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke kost Tiara.
***
Di lain tempat, Frida yang sudah pulang dari rumah sakit mengamuk di rumah. Begitu juga Niko, dia menjerit kesal.
Sebenarnya tubuh mereka belum benar-benar pulih. Tapi, mereka sudah tidak punya biaya untuk berobat.
"Jadi bener kak, mereka menggugat balik kita?" tanya Niko frustasi. Dia tampak duduk di sofa ruang tamu dengan kaki masih terasa sakit.
"Iya. Barusan pengacara kita menelepon!" seru Farida yang terlihat cemas.
"Mereka benar-benar licik, Kak. Mereka menjebak kita. Setelah kita menarik laporan, mereka balik melaporkan kita, Aarghhh," jerit histeris Niko.
"Kita nggak bisa macam-macam Karena kita sudah menandatangani surat pernyataan kalau kita bersalah dan mau menarik laporan," tutur Farida yang kemudian duduk disamping adiknya.
"Selamat siang," ucap seseorang dengan pakaian kemeja putih. Ornag tersebut berdiri di depan pintu yang terbuka ditemani dua orang berbadan kekar dan berotot besar. Membuat Niko meringis ketakutan.
"Si-siapa kalian? Mau apa?" tanya Niko ketakutan.
Tiga orang itu maju ke depan. Membuat dua saudara kandung itu semakin dicekam ketakutan. Tubuh mereka saja belum pulih. Masih terasa remuk redam dihajar Dedi.
Apa mungkin kali ini orang-orang ini datang diutus untuk memukul mereka lagi?
__ADS_1