
"Gue nggak mau! Janin ini nggak salah! Kalian bertiga yang salah," tolak Laura yang wajahnya mulai pias.
"Oh, lu nggak mau! Kalo gitu selamanya elu nggak bisa balik ke panti asuhan, dan gue bakal mengeluarkan lu dari sekolah dengan kasus pencurian kemarin," Dedi kembali mengancam Laura
"Apa maksud lu? Adrian sudah mengakui, elu nggak bisa seenaknya!" kesal Laura menatap balik mata Dedi.
"Gue bakal buat Adrian sadar, dan menarik kembali pernyataannya !" cetus Dedi sambil berpura-pura membaca buku yang ada di hadapannya.
Laura menelan ludahnya. Dia berhadapan dengan orang-orang yang tak punya hati nurani.
"Bukannya sekolah ini punya CCTV! Gue bakal minta guru untuk membuka rekaman CCTV!" ucap Laura
Tawa Dedi berderai. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa tak henti. Seperti ucapan Laura adalah hal yang paling lucu yang pernah dia dengar.
"Elu pikir gue buat rencana, enggak pake mikir! Pintar di pelajaran doang lu. Tapi aslinya bego juga!" ejek Dedi.
Laura masih diam. Dia hanya menunggu ucapan Dedi selanjutnya.
"CCTV di kelas, di koridor,semua sudah gue rusak. Elu nggak punya bukti. Gue bisa memutar balikkan fakta. Kalo gue yang sengaja merusak CCTV!" papar Dedi menyunggingkan senyum. Merasa menang dari Laura.
Sementara Laura tercengang. Dedi sudah merencanakan segalanya dengan matang. Harapan dia hanya pada Adrian.
"Bahkan CCTV perpustakaan sudah gue rusak," bisik Dedi senang.
Sementara Laura matanya mulai berkaca. Apa yang harus dia lakukan. Membayangkan dirinya harus dikeluarkan dari sekolah. Tidak, dia tidak mau!
__ADS_1
"Elu jahat banget! Nggak ada rasa perikemanusiaan," Laura terisak.
"Gue nggak jahat kok. Gue cuma mau melindungi diri gue dan teman-teman gue!" sahut Dedi.
"Gue nggak pernah jahat dengan kalian. Kalian yang jahat ke gue," Suara Laura tampak bergetar. Bahunya merosot kebawah. Dia merasa lemah dan tak berdaya menghadapi Dedi dan teman-temannya.
"Jangan kebanyakan nangis lu. Airmata lu nggak guna bagi gue! Pikirkan baik-baik omongan gue, elu pilih sekolah atau anak dalam kandungan lu," tekan Dedi lagi.
Jantung Laura berdebar ketakutan. Cemas luar biasa. Dia mau dua-duanya. Dia mau tetap sekolah dan dia mau mempertahankan janinnya. Dia tidak bisa memilih salah satu.
"Please, Di. Gue nggak bakal ganggu kalian. Gue nggak bakal macam-macam. Gue nggak bakal menuntut apa pun!" Laura memohon dengan suara lirih.
Dia melawan pun percuma. Tetap dia yang akan kalah. Dia seperti sepotong kayu tua melawan sepercik api. Melawan bagaimanapun, dia yang akan terbakar. Sementara api akan membesar.
Laura menatap Dedi nanar. Matanya kembali berkaca. Laura tak habis pikir, laki-laki yang ada di hadapannya ini sungguh tega. Bukankah dia terlahir dari rahim seorang ibu bukan batu? Tapi ucapannya seperti dia tak memiliki empati bahkan rasa pilu.
"Dit, andai yang mengalami masalah ini adalah ibu lu di saat muda. Dia ditekan harus menggugurkan atau memilih elu tetap hidup tapi hidupnya terancam. Menurut lu, ibu elu bakal memilih apa?" lirih Shabila bertanya. Satu tetes air mata lolos lagi dari pelupuk matanya.
Laura berusaha membuka hati Dedi. Meraba sisi kemanusiaan dalam diri Dedi Mengiba pertolongan yang mungkin saja dia dilepaskan dari cengkeraman dan pusaran masalah yang diciptakan Dedi.
Dedi terkesiap. Namun, cepat-cepat dia mengubah raut wajahnya menjadi biasa lagi. Laura membawa ibunya. Dedi jadi kesal.
"Eh, Laura! Elu nggak usah pake andai! Faktanya ibu gue wanita baik-baik nggak kayak lu. Jadi nggak usah elu menyamakan diri lu dDodit ibu gue. Beda kelas!" sergah Dedi
"Gue nggak bisa, Di! Gue nggak berhak mencabut kehidupan. Bukan mau gue dia hadir dalam rahim gue," Laura menolak dan menggeleng lemah.
__ADS_1
"Berarti elu memilih menentang gue!" sembur Dedi marah.
"Gue bakal diam, Di!! Please, apa nggak cukup ancaman kalian, hah? Kalian mengancam akan menghentikan biaya sekolah dan makan adik-adik panti gue. Udah, itu udah cukup! Gue bakal diam, Di! Sungguh!" Laura kembali terisak.
"Ah, gue nggak percaya sama lu!" berang Dedi kesal kemauannya tak diturut.
"Di, apa lu pernah lihat gue membeberkan cerita ini ke orang-orang? Sampai hari ini tak ada satu pun orang yang tahu ini," jelas Laura masih berusaha membuka hati Dedi.
"Iya, sekarang enggak! Entar perut lu akan membesar, semua orang akan tahu dan mulai mencari tahu siapa bapak dari janin yang lu kandung! Otak lu nyampe nggak, sih ?!" ucap Dedi lagi.
"Gue pasti bisa menutupinya. Gue nggak bakal banyak makan, gue bakal pake baju besar. Pasti nggak ketahuan, kok!" Laura berusaha meyakinkan.
"Mudah banget lu ngomong! Elu egois cuma mikirin diri lu sendiri. Kehamilan lu bakal menghambat masa depan gue dan teman-teman gue. Elu bisa jadi benalu di masa depan!" hardik DEDI
"Benalu di masa datang? Maksud lu apa?" tanya Laura tak mengerti.
"Ah, pura-pura bego lu! Elu pasti sudah merencanakan semuanya kan! Iya kan?! Suatu hari elu pasti meminta pertanggung jawaban dengan alasan anak! Gila lu, di masa depan elu pasti memeras kita atau kalo nggak minta dinikahi saat Adrian sukses contohnya," cibir Dedi tak suka.
Laura menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Dedi.
"Pikiran lu kejauhan. Gue nggak berpikir sejauh itu! Gue cuma nggak mau jadi pembunuh, gue nggak berhak mencabut kehidupan yang ada di rahim gue! Elu ngerti nggak sih!" tekan Laura.
"Gue nggak mau tahu dan gue nggak mau mengerti! Gue cuma tahu, elu adalah ancaman buat gue dan teman-teman gue. Paham lu!" cecar Dedi tak peduli.
"Lu nggak punya hati, Di. Istighfar, semua perbuatan kita pasti diperhitungkan di akhirat," Laura berusaha menyadarkan Dedi lagi.
__ADS_1