
[Assalamualaikum, Ra. Gue mau minta maaf , gue salah sama lu sekarang elu dimana? Gue mau ketemu lu. Gue harap elu mau memaafkan gue. Gue akan turuti apapun permintaan elu.]
Adrian langsung mengirim pesan tersebut kendati pesan belum terbaca.
Tanpa Adrian tahu, pesan itu takkan pernah sampai ke Laura hape Laura berada ditangan Athan. Sudah dari kemarin Athan menghancurkan nomor hape Laura bahkan hape nya juga. Dia membelikan hape baru dan nomor baru untuk adiknya. Tentu saja hape tercanggih keluaran terbaru, hadiah kecil untuk sang adik.
Di nomor terbaru Laura hanya ada nomor tersimpan atas nama Mama, Papa, Athan, Om Leon, Tante Chacha dan Tiara.
Nomor baru itu bahkan sudah di setting Athan nomor Adrian sudah di blokir dari nomor Lauraa yang baru.
***
Laura saat ini sendirian di ruang bayi, mama Runi tadi mendorong kursi roda Laura menuju ruang bayi.
Mama Runi sengaja, dengan alasan mau sholat, dia meninggalkan Laura berdua dengan sang bayi.
Laura memandang bayinya yang masih didalam inkubator, ada beberapa alat masih terpasang di bayinya.
Bayi tanpa dosa itu tampak kecil. Dengan kulitnya yang masih keriput dan sensitif. Tangan mungil yang menggenggam kuat, bergerak-gerak seperti ingin menggapai Laura yang berada diluar dinding inkubator.
Air mata Laura jatuh di saat menatap sedih wajah bayinya.
Wajah itu.......
"Kenapa wajahmu harus sama dengan nya, Nak! Dia jahat, bahkan tak mau mengakui mu. Kenapa harus kau ambil wajah jahatnya! Bunda benci wajahnya, bunda sangat membencinya!" batin Laura.
Laura masih memandang bayinya, bayi itu tetap berusaha kuat dan bertahan hidup meski selama di dalam kandungan Laura dia sering tak mendapat jatah makan apalagi vitamin dan susu. Saat lahir dia bahkan disambut debu lantai dan gudang tua.
Kuasa Allah tak terbatas,bayi itu tetap tumbuh sehat tanpa kurang satu apapun. Hanya wajahnya yang menghujam hati Laura.
Mata Laura kemudian menoleh keluar kaca jendela melihat luasnya dunia.
Ada banyak gedung di luar sana ada banyak kehidupan dan ragam masalah diluar sana.
Duhai cinta...
Jangan pernah kembali lagi cukup sudah aku disakiti. Aku janji, tidak akan pernah meminta pertanggung jawaban lagi. Pergi, jangan pernah kembali.
Biarkan aku disini pura-pura lupa apa yang pernah terjadi sama ku. Bayi ini akan menjadi bagian masa depanku nanti. Pergilah, kemana kau mau pergi.
Dunia luas, mungkin kau ingin mengarungi. Tapi, jika kau lelah suatu hari, jangan pernah berpikir untuk menepi disini. Karena aku di masa depan takkan pernah menjadi dermaga yang akan kau singgahi.
Laura menarik nafasnya dalam-dalam dia kemudian memuji kebesaran Allah. Disaat dia hancur sehancur-hancurnya, disitu Allah mengangkatnya.
Saat tak tahu bagaimana ke depannya, Allah hadirkan keluarganya. Dia kini tak lagi sendiri. Ada keluarganya.
"Kamu beruntung, Nak. Saat lahir, ada nenek dan kakekmu. Meski bunda sangat tak suka melihat wajahmu!" cetus Laura sendiri.
Suara pintu diketuk, Mama Runi dan Papa Birru masuk mereka tersenyum senang. Mama mencium pipi Laura sementara Papa Birru tersenyum melihat cucunya.
"Hai, bunda. Assalamualaikum," suara Mama Runi menirukan suara anak kecil menatap cucunya. Seperti mewakili cucunya menyapa sang bunda.
Laura hanya menyunggingkansenyum getir, air matanya kembali menetes antara kasih dan benci menyatu jadi satu.
"Wa'alaikumsalam," lirih Laura menjawab.
__ADS_1
"Dia sehat dan kuat banget loh, sayang. Mimik susunya juga kuat," ungkap Mama Runi tersenyum dan mengelus rambut anaknya.
Sang anak harus minum susu khusus untuk menambah bobot tubuhnya yang kecil.
"Kata dokter, seminggu lagi dia bakal lebih berisi tubuhnya. Lihat tuh sekarang, gerakannya aja kuat banget, Nak," puji Papa Birru pada sang cucu.
"Ohya, namanya siapa, Nak?" tanya Mama Runi.
Laura menggeleng dia dari kemarin tak terpikir. Siapa nama bayi itu.
"Papa aja yang berikan nama Laura tak terpikir apapun," ucap Laura akhirnya.
"Ya, sudah. Boleh ya kakek yang kasih nama?" tanya sang kakek muda itu pada cucunya.
Sang cucu menggerakkan kepalanya ke arah sang kakek seperti memberi persetujuan.
"Tuh, cucu kita setuju, Pa," seru Mama Runi dengan wajah bahagia.
Laura memperhatikan wajah kedua orang tuanya. Mereka menerima bayi itu, meski mungkin mereka tak tahu bagaimana bayi itu bisa hadir di dunia.
"Bismillah, nama cucu kakek Muhammad Dayyan Alhanan. Semoga Dayyan menjadi anak yang soleh, pemimpin yang amanah dan kesayangan semua orang, Aamiin," ucap sang kakek.
"Aamiin," kompak Mama Runi dan Laura.
"Dayyan, cucu nenek," panggil Mama Runi dari luar inkubator.
Dayyan merespon baik panggilan neneknya. Dia menggeliat senang.
Kedua kakek nenek itu tampak berseru gembira melihat gerakan cucunya. Mereka seperti melupakan waktu saat melihat Dayyan.
"Iya, sayang?" tanya Mamanya mendekati Laura yang duduk di kursi roda.
"Mama bahagia dengan kehadiran Dayyan? Padahal dia hadir tidak diinginkan siapapun, Ma," lirih Laura menahan air matanya.
Mama Runi menarik nafasnya dalam-dalam. Dia tahu anaknya sedang dalam kondisi tidak stabil. Anaknya butuh ditenangkan.
"Sayang, inget nggak dalam surat Al-Baqarah ayat 216?" tanya mamanya.
"Inget, Ma. Intinya kita tidak boleh membenci sesuatu, bisa jadi itu sesuatu yang baik buat kita. Allah lebih mengetahui, sedang kita tidak, Ma," papar Laura.
Mamanya tersenyum dan kembali mengelus rambut anaknya.
Laura bahkan melepaskan hijabnya di ruangan karena tak ada siapapun tadi.
"Dan sesuatu yang kita senangi, bisa jadi dia buruk untuk kita," sambung mamanya.
Deg!
Kesimpulan ayat Alquran yang makin membuka hati Laura. Dulu, dia sangat mencintai Adrian sampai mengabaikan ayat Alquran. Kini benar terbukti, sesuatu yang disenangi, bisa jadi dia buruk untuknya.
Jauhi pacaran sebelum menikah, jodoh adalah rahasia Allah tak harus pacaran untuk bisa mendapatkan jodoh.
"Ampuni hamba, Rabb!" batin Laura menyendu. Dia salah, dia akan memohon ampunan pada Allah.
"Allah maha mengetahui apa yang nggak kita tahu, sayang. Dayyan hadir, mungkin inilah cara Allah menghibur mama dan Papa yang kehilangan kamu waktu bayi. Mama belum puas menggendong kamu, belasan tahun cuma disiksa kerinduan, nak. Dayyan seperti mengobati dan mengembalikan waktu kami selama belasan tahun ini papar sang Mama penuh haru.
__ADS_1
"Mama dan Papa menerima Dayyan? Meskipun Dayyan lahir... diluar nikah?" tanya Laura dengan hati-hati bahkan ucapannya terjeda, takut orang tuanya terkejut.
"Tentu saja, Nak. Dayyan adalah anugerah dan berkah untuk keluarga kita. Terima dia sayang Dia yang akan menjaga Laura disaat kamu sudah menua. Dia yang akan mendoakan Laura agar bundanya menjadi salah satu bidadari surga. Dayyan akan menjadi anak yang soleh. InsyaaAllah hafiz Al-Qur'an ya, Nak," papar papa Birru ikut mengelus rambut anaknya dengan sayang.
Laura menangis tersendu, tangisan Shabila disambut tangisan Dayyan yang sepertinya lapar.
Mama Runi segera memanggil perawat. Dayyan akan minum susu.
***
Sore itu, Mama Runi dan Papa Birru menitipkan Shabila dan Dayyan di rumah sakit pada tante Chacha dan Om Leon. Ada Athan juga yang asyik mengobrol dengan Dayyan. Meski Dayyan hanya diam dan menggerakkan mulutnya yang mungil tanpa suara.
Sesuai dengan alamat yang diberikan Tiara, Mama Runi dan Papa Birru tiba disebuah rumah sederhana bertuliskan panti asuhan kasih ibunda.
Saat hendak masuk, terdengar suara menggelegar. Mama Runi dan Papa Birru saling pandang. Mereka urung masuk ke dalam. Sepertinya didalam sedang ada tamu.
"Pokoknya kami hanya beri kalian waktu tiga hari untuk berkemas. Kami sudah sangat baik memberi kalian waktu!" ucap suara seorang perempuan dari dalam rumah.
"Rumah ini sudah laku kami jual. Kami butuh uang. Usaha kami bangkrut. Anak kami masuk rumah sakit. Kami butuh biaya!" seru suara seorang laki-laki dari dalam.
"Tapi, tanah dan rumah ini sudah diberikan sejak lama bahkan belasan tahun yang lalu oleh kakek kalian," satu suara perempuan tua terdengar memelas dan parau. Sepertinya dia menangis.
"Suratnya ada pada kami kalian tidak bisa menuntut apapun!" tegas suara laki-laki lagi.
"Kami mau pindah ke mana? Kami belum ada biaya untuk pindah. Lagi pula kami harus cari dulu tempatnya. Anak-anak panti kami banyak, ada puluhan," ucap suara perempuan tua yang kebingungan.
"Mau bagaimana lagi? Kami juga butuh uang. Anak kami di rumah sakit," balas suara perempuan lain.
Mama Runi menggenggam tangan Papa Birru.
"Panti asuhan ini dalam masalah, Bang," bisik Mama Runi pada sang suami.
"Iya, sayang. Entah siapa orang didalam. Kita tunggu mereka keluar dulu. Baru kita masuk," putus Papa Birru.
Mama Runi mengangguk setuju. Mereka baru kali ini kesini. Rasanya tak pantas kalau mau ikut campur urusan orang.
Mereka akan menunggu dan akan membantu jika memang panti ini akan di gusur. Suara didalam rumah masih gaduh. Orang-orang didalam masih berdebat.
Sementara Mama Runi melihat halaman sekeliling. Ada ayunan tua, ada ban hitam yang diikat tali diatas dahan pohon. Ada mainan jungkat jungkit yang catnya bahkan sudah mengelupas.
Mama Runi meneteskan air mata. Membayangkan anaknya berada di panti ini. Bermain di halaman panti asuhan tanpa dirinya dan suaminya.
Kita pernah terpisah sejauh ini, Nak.
Ternyata selama ini kamu disini selama ini kamu pasti menunggu Mama dan Papa disini. Menunggu kami datang setiap hari.
Maafkan Mama sayang....
Mama terlambat menjemputmu.
Mama terlambat menemukanmu. Sayangku...
Belahan jiwa Mama dan Papa... Laura kami tercinta.
next mau ikuti lagi ceritanya jgn lupa dong follow, like, komen, dan juga ulasan biar semakin semangat.
__ADS_1