TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
001


__ADS_3

"Ya udah kalo gitu. Jangan sampai ada yang tahu, kalo Laura ada di kost elu. Kita lihat entar deh. Gue harap ada keajaiban biar nggak terjadi kehebohan," harap Adrian.


"Sama. Gue harap nggak ada yang curiga, saat Laura nggak di panti asuhan," gumam Tiara yang menarik nafasnya. Berusaha tetap tenang meski cemas melanda.


Tak lama, mereka sudah sampai di depan lorong panti asuhan. Mobil-mobil parkir di pinggir jalan. Seorang guru menunggu didepan lorong. Beberapa murid sudah berkumpul.


"Apa sudah semua berkumpul?" tanya bu guru.


Semua murid saling pandang. Melihat teman mereka apakah sudah ada semua.


"Sueb, Bu. Sueb belum sampai," sahut Tiara.


"Oh ya sudah, kita tunggu dulu. Loh, Rian. Ibu kira kamu nggak mau ikut?" cetus sang guru terkejut.


"Ini, Bu. Saya mengantarkan Tiara," celetuk Adrian asal.


"Waduh, ngamuk nih pasti Angel," celetuk temannya yang langsung diiringi anggukan teman-teman yanglain.


"Gaes, gue cuma nebeng doang sama, Rian. Bukan tipe gue dia mah," sahut Tiara mencibirkan bibirnya.


"Iya, nih. Tipe Tiara kayak gue. Iya kan, Ra?" canda Ikhwan yang sebenarnya berharap dijawab iya oleh Tiara.


"Cieee," seru teman-temannya kompak.


Sementara Tiara hanya menggedikkan bahu. Tak mau menjawab. Sementara sang guru hanya tersenyum simpul melihat anak muridnya. Ibu guru juga pernah muda.


"Tuh, Sueb!" seru Adrian saat melihat Sueb datang mengendarai motor Tiara.


"Lama banget lu, Sueb!" ucap Tiara.


"Maaf teman-teman. Tadi gue salah masuk lorong. Tadi malah belok ke lorong satunya," sahut Sueb yang berjalan ke arah teman-temannya.


"Ya sudah, ayo. Jalannya jangan bergerombol. Lorong ini sempit," ucap sang guru yang memimpin perjalanan mereka. Mereka akhirnya berjalan kaki menelusuri lorong itu.


"Iya, Bu," kompak anak-anak. Sementara Adrian dan Tiara sempat saling melirik sekilas. Mereka berdua sama-sama tegang dan cemas. Memikirkan bagaimana nanti di panti asuhan.


Tak lama mereka sampai disebuah panti asuhan. Sebuah bangunan tua yang terdengar ramai oleh riuh suara anak-anak bermain.


"Assalamualaikum," seru sang guru saat tiba di pintu panti asuhan.


"Wa'alaikumsalam," sahut ibu panti dari dalam.


"Oh, ibu guru. Silahkan bu, masuk dulu. Silahkan semuanya duduk dulu," ucap ibu panti ramah.

__ADS_1


Ibu guru dan beberapa murid yang hadir segera duduk. Kemudian ibu panti meminta salah satu anak panti yang remaja untuk membuat minuman.


"Kedatangan kami ke sini sebenarnya mau menjenguk Laura. Bagaimana Bu, keadaan Laura?" tanya ibu guru menyampaikan kedatangannya.


"Laura? Sebenarnya Laura tidak tinggal disini lagi. Dia tinggal bersama saudara jauh saya. Namanya Sri," ucap ibu panti yang sedikit bingung. Apalagi teman-teman Laura sampai membawa parcel buah.


"Oh, begitu. Kami pikir Laura masih disini. Dari kemarin Laura tidak masuk sekolah. Kabar yang datang karena kecelakaan," jelas sang guru.


"Hah, kecelakaan? Ya Allah, saya justru tak tahu. Sungguh saya terkejut mendengar ini," ucap ibu panti yang terlihat cemas dan wajahnya terkejut luar biasa.


"Jadi, ibu nggak tahu kalau anak asuh ibu kecelakaan?" ibu guru ikut terkejut.


Adrian dan Tiara saling lirik. Jantung mereka berdebar hebat.


"Saya benar-benar tidak tahu. Saudara saya tidak memberi informasi apapun," sahut ibu panti.


"Tapi, surat dari dokter sudah sampai ke kami. Itu artinya Laura memang benar kecelakaan," ucap ibu guru.


Iya, saya sungguh sedih. Apa yang terjadi pada anak asuh saya. Astaghfirullah, saya benar-benar merasa teledor tidak tahu kabar ini," sesal ibu panti.


"Apa tempatnya jauh, Bu?" tanya ibu guru.


"Iya, Bu. Jauh tempatnya. Hampir satu jam perjalanan," jawab ibu panti.


"Eh, bener juga, Bu. Kalo terlalu jauh, kita bisa titip aja ke ibu panti. Takutnya kita pulang kemalaman," timpal Tiara dengan wajah tegang.


"Ya sudah. Ibu, maaf kami titip buah ini untuk Laura. Juga ini, mungkin bisa membantu walau tak seberapa," putus sang guru menyerahkan sebuah amplop dan parcel buah.


"Terima kasih banyak, Bu. Juga semua teman Laura. Saya mewakili Laura mengucapkan banyak terima kasih. Amanahnya akan saya sampaikan," papar ibu panti.


Tak lama, akhirnya rombongan guru dan murid berpamitan pulang. Di jalan, Adrian dan Tiara menghembuskan nafas lega.


Setidaknya mereka sudah selamat kali ini. Tapi, ibu panti sekarang tahu Shabila tidak bersama tante Sri lagi.


Adrian dan Tiara memelankan langkah mereka. Sedikit menjauh dari rombongan teman-temannya yang berjalan lebih dulu keluar dari lorong.


"Rian, selanjutnya gimana ini?" bisik Tiara yang berjalan disamping Adrian.


"Nggak tahu, gue. Yang penting pihak sekolah nggak tahu," cetus Adrian dengan suara sepelan mungkin.


"Tapi, ibu panti bakal tahu keadaan Shabila kalo sampe ibu panti ke rumah tante jahat itu!" ungkap Tiara dengan suara pelan juga.


"Gue yakin ibu panti nggak bakal ember walaupun tahu keadaan Laura," ucap Adrian meyakinkan.

__ADS_1


"Kalo itu, gue juga tahu. Tapi, Laura tuh berharap ibu pantinya nggak tahu. Dia nggak mau ibu asuhnya itu sedih kalo tahu keadaannya," ucap Tiara.


"Iya, mau gimana lagi, gue udah kehabisan ide," tutur Adrian yang sudah menyerah dengan segala rentetan masalah yang timbul semenjak kejadian waktu itu.


"Ck, andai sepi. Udah gue pukul kepala lu. Asli gue tuh kesel banget kalo inget yang dulu itu!" rutuk Tiara yang terlihat sangat kesal.


"Ya udah. Gue traktir makan seperti biasa. Gue ikut lu pulang ya. Kita mampir dulu ke restoran seperti biasa," putus Adrian.


"Serah lu. Laura pasti udah kelaparan sekarang. Gue pulang dulu ," sahut Tiara.


"Anak-anak, hati-hati pulangnya ," ucap ibu guru saat semua anak sudah berkumpul didepan lorong.


"Iya, Bu. Assalamualaikum," kompak anak-anak.


"Wa'alaikumsalam," jawab ibu guru yang kemudian naik mobilnya.


"Ra, ini kunci motor lu. Gue nebeng di temen lain aja," ucap Sueb menyerahkan kunci motor pada Tiara.


"Oke, hati-hati ya," sahut Tiara.


Teman-temannya hanya mengacungkan jempol kemudian pergi dengan kendaraan masing-masing.


Tiara segera naik ke motornya dan melesat pergi tanpa pamit pada Adrian.


Sementara Adrian memilih masuk ke dalam mobilnya melaju ke sebuah restoran dan membeli makanan. Setelah itu, dia menuju tempat kost Tiara.


"Assalamualaikum," seru Adrian saat sampai di kost Tiara.


"Wa'alaikumsalam," sahut Tiara dan Laura dari dalam.


"Rian, elu ke sini. Ngapain?" tanya Shabila bingung. Sementara Tiara baru saja selesai tadi mandi belum sempat memberitahukan Laura kalau Adrian akan datang.


"Gue bawain lu makanan. Elu pasti belum makan kan?" tanya Adrian.


"Belum. Hari ini ada pelajaran tambahan ya? Kok kalian pulang telat?" tanya Laura.


"Enggak. Kita dari panti asuhan lu," celetuk Tiara yang muncul dengan tubuh yang sudah segar. Lalu membawa tiga piring untuk makan.


"Hah, maksudnya?" Laura tampak terkejut.


"Entar, gue ceritain. Kita makan dulu deh," cetus Tiara yang sudah kelaparan.


Mereka bertiga akhirnya makan terlebih dahulu. Setelah makan, Tiara baru menceritakan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2