TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
BERITA 18 TAHUN YANG LALU


__ADS_3

Adrian memacu mobilnya ke jalan tanpa tahu arah tujuan. Hingga tak sadar dia sampai ke kawasan sebuah pantai di Jakarta.


Adrian turun dari mobil, menuju bibir pantai dan berteriak sekencang-kencangnya. Adrian lalu menjatuhkan dirinya ke pasir pantai. Tersungkur dan meraup wajahnya. Butiran air mata menetes. Dadanya terasa sesak. Hantaman masalah dari luar dan dari dalam keluarga menggoncang dirinya.


Adrian merasa dihancurkan, dia kehilangan arah dan pegangan hidup.


"Kenapa harus gue? Kenapa... aaarkhhhh." Adrian menjerit.


"Rian!" seru suara dari belakang.


Adrian menoleh. Ternyata papanya menyusul. Papanya terlihat turun dari mobil. Berjalan melangkah ke arah Adrian.


"Stop! Ngapain papa ikuti Rian!" jerit Adrian frustasi.


"Tenang Adrian, papa khawatir sama kamu. Jangan terlalu dekat dengan pantai. Ayo, ke sini," bujuk sang papa yang melangkah pelan mendekati Adrian.


"Papa egois! Mama juga! Kalian tidak menyayangi, Rian!" hardik Adrian. Matanya kembali berkaca. Adrian tak terima jika orang tuanya harus berpisah. Langkah kakinya justru mulai masuk ke dalam air.


"Ayo, ke sini. Papa akan jelaskan sama kamu," bujuk papanya lagi agar Adrian tak melangkah lebih jauh ke dalam air.


"Jelasin apa lagi sih, Pa! Tindakan Papa dan Mama tidak akan bisa dibenarkan. Kalian hanya memikirkan diri sendiri," teriak Adrian. Air pantai sudah membasahi kaki Adrian hingga ke lutut.


"Kamu nggak mengerti, Adrian! Ini masalah orang dewasa," papar sang papa yang melangkah lebar mendekati Adrian.


"Oh, jadi Adrian bodoh, Pa? Tak paham masalah Papa dan Mama?" tekan Adrian sambil menatap lekat mata papanya. Air pantai sudah sebatas pahanya.


Adrian berhadapan dengan papanya. Kali ini Adrian bisa memandang wajah papanya cukup lama. Jarak mereka kini sekitar tiga meter. Biasanya, Adrian hampir tak pernah bisa memandang lama Papanya. Sang Papa terlalu sibuk. Bahkan hanya untuk mengobrol pun, papanya tak sempat.


Adrian berjalan mundur makin masuk ke dalam air. Dia berharap dalamnya air bisa menghilangkan segala masalahnya. Untuk apa dia hidup, jika keluarganya sudah tak utuh lagi?


Selama ini, Papa dan Mamanya selalu bekerja. Mereka jarang bertemu karena kesibukan. Tapi, Adrian masih bisa memaklumi. Setidaknya dia punya keluarga utuh.


Namun, kalau harus tak bertemu karena sudah tak bersama lagi, Adrian tak terima.


"Kamu anak kebanggaan Papa, Rian! Papa sayang sama Rian. Maafin Papa kalo Papa mengecewakan Rian," sang Papa terlihat mengalah. Papanya tidak menyangka reaksi Adrian akan seperti ini.


Papanya pikir, Adrian yang selama ini cuek, tidak pernah protes meski dia jarang di rumah akan menerima saja keputusan yang dia buat. Toh, rasa cinta pada istrinya sudah tergantikan oleh wanita lain.

__ADS_1


Adrian dia limpahkan dengan materi berlimpah, apa pun yang Adrian mau akan dikabulkan. Bahkan hadiah ulang tahun Adrian tahun kemarin dibelikan mobil Rubicon.


"Mama dan Papa nggak sayang dengan, Rian! Kalo kalian sayang keluarga, kalian pasti berpikir sebelum bertindak!" geram Adrian, urat-urat di lehernya menyembul.


Antara emosi dan kesedihan berbaur jadi satu. Sakit tak terperih, masa depan gelap sudah membayangi.


"Bunuh saja Rian, Pa! Rian nggak mau lihat Mama Papa berpisah!" jerit Adrian.


"Papa sayang dengan Adrian. Ayo sini, Nak!" rayu sang papa lagi.


"RIAN!" jerit sang mama. Ternyata sang mama ikut menyusul dengan mobilnya.


"Jangan mendekat!" ucap Adrian histeris. Tangannya membentang meminta kedua orang tuanya jangan mendekat.


"Rian, ayo kita pulang! Kita bicara baik-baik," bujuk sang mama.


Adrian menggeleng-gelengkan kepala. Terlihat Mama dan Papanya yang berjauhan serta tatapan mata kedua orang tuanya yang tak lagi saling menatap penuh cinta justru makin menyakiti Adrian.


"Kamu lihat sekarang! Akibat ulah kamu, anak jadi korban," tuduh sang papa.


"Heh, kamu yang selingkuh malah memutarbalikkan fakta!" Mama Adrian tak mau kalah. Dia hanya membalas perbuatan suaminya.


"Gila kamu, Pa! Udah salah masih berkelit," geram mama Adrian.


"Lalu kamu, apa namanya? Lempar batu sembunyi tangan! Padahal kamu sama saja, bukan!" cibir papa Adrian pada sang mama.


"Kamu yang duluan memulai, saya hanya membalas perbuatan kamu! Kamu pikir hanya kamu yang bisa bermain di belakang, heh! Saya bukan wanita lemah! Sakit bukan rasanya dikhianati?" Mama Adrian mencecar sang suami.


"Cuih! Saya tidak bisa bersama wanita yang tidak menghargai saya lagi! Kamu terlalu sibuk dengan teman-teman sosialita kamu, tahunya menghabiskan uang saja!" sembur Papa Adrian.


"Ingat asal kamu! Anak supir biasa yang saya angkat jadi suami! Kamu pikir dari mana sumber kekayaan kita sekarang? Saya yang memodali sedari awal!" Mama Adrian tak mau kalah. Dia menunjuk sang suami dengan jari tangannya.


"Oh, saya akui memang modal usaha dari kamu! Tapi, saya berhasil mengembangkan perusahaan jadi sebesar ini, kamu nggak bisa menampik itu. Saya kerja keras untuk sampai di titik ini!" erang Papa Adrian.


Adrian yang melihat pertengkaran orang tuanya justru makin melangkah mundur ke dalam air. Berharap semua yang dia lihat di depan mata saat ini hanya mimpi. Dia hanya mau punya keluarga utuh. Dia hanya mau hidup bahagia bersama keluarganya.


"Hei," teriak seseorang dari arah samping. Berlari-lari menyelamatkan Adrian yang berusaha menenggelamkan diri.

__ADS_1


Mama dan Papa Adrian yang sedang bertengkar terkesiap. Mereka menoleh ke arah asal suara. Seorang penjaga pantai sedang menyelamatkan putra mereka.


"Adrian..." jerit Mama.


"Rian..." Papa ikut berteriak.


Mereka berdua menghambur berlari ke dalam air. Penjaga pantai tadi berhasil menarik Adrian dari dalam air. Berusaha membawanya ke tepian.


Papa Adrian yang berlari lebih cepat, langsung membantu petugas penjaga pantai menarik tangan Adrian ke tepian. Sementara sang Mama sudah menangis melihat kondisi sang putra yang terlihat frustasi.


Adrian dibaringkan di atas pasir pantai. Seluruh tubuhnya sudah basah. Beruntung dia cepat ditarik ke pantai.


Adrian terbatuk-batuk. Nafasnya belum teratur. Petugas tadi mengecek keadaan Adrian.


"Alhamdulillah, kamu baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi," ucap petugas penjaga pantai.


"Terima kasih, Pak," ucap Papa dan Mama Adrian kompak.


"Sama-sama," ucap petugas tadi yang kemudian pamit dan pergi.


"Rian, kamu baik-baik saja? Yang sakit yang mana, Nak?" panggil mamanya pelan.


Tapi, Adrian hanya diam, dia sudah terduduk di pasir pantai dengan pandangan kosong.


"Rian, kamu bisa dengar Papa kan? Apa ada yang sakit dari tubuh kamu?" tanya Papanya.


"Hati, Pa! Hati Rian yang sakit!" jawab Adrian dengan suara yang bergetar.


Mama dan Papanya saling pandang lalu sejurus kemudian sama-sama membuang pandangan.


"Ayo, kita ke rumah sakit. Kita cek dulu kesehatan kamu," ucap papanya.


Adrian menggeleng. Dia menolak.


"Sudah Adrian bilang, hati Adrian yang sakit! Dokter tidak akan bisa menyembuhkan Adrian, Ma, Pa," lirih Adrian. Pandangan matanya nanar.


"Kalo begitu ayo kita pulang dulu ya," bujuk Mamanya yang merangkul Adrian dan berusaha mengajak Adrian berdiri.

__ADS_1


Adrian menyingkirkan tangan Mamanya. Dia menolak diajak pulang.


Bersambung.........


__ADS_2