TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Menggambarkan Lukisan Laura Yang Di Lukis oleh Mama


__ADS_3

Jalanan terlihat macet seperti biasanya. Ibukota selalu menyajikan pemandangan yang berhiaskan gedung-gedung pencakar langit dan asap-asap dari knalpot motor tua maupun mobil tua.


Dua orang didalam mobil terlihat sudah tak sabar ingin segera sampai ke tempat tujuan. Hingga beberapa belas menit kemudian setelah melewati kemacetan mereka akhirnya sampai juga ditujuan.


Tante Chacha dan Om Leon segera turun dari mobil. Mereka sampai didepan sebuah toko yang ingin mereka datangi.


Om Leon dan Tante Chacha saling menatap dalam kebingungan, saat melihat bangunan toko dihadapan mereka.


"Apa kamu yakin kita tidak salah jalan? Ini toko yang berbeda?" tanya Tante Chacha kebingungan saat melihat toko yang ada dihadapannya.


"Saya rasa tidak. Lihat bangunan disekelilingnya. Bukankah ini bangunan yang sama?" jawab Om Leon yang memperhatikan bangunan disekitar.


"Tapi, toko bunga itu sudah tidak ada," lirih tante Chacha yang terlihat kecewa.


"Ayo, kita masuk saja. Kita tanyakan, mungkin saja pemiliknya berganti usaha," sahut Om Leon tetap berpikir positif.


Tante Chacha hanya mengangguk pasrah. Mereka berdua melangkah memasuki sebuah toko yang berisi begitu banyak mainan anak-anak.


"Selamat datang, Pak, Bu. Mau mencari mainan apa?" tanya si pemilik toko.


"Maaf, saya sebenarnya pelanggan toko bunga disini. Bukankah sebelumnya disini adalah toko bunga?" tanya Om Leon yang berpura-pura sebagai pelanggan.


"Ah, begitu. Bapak orang kesekian yang datang dan menanyakan bunga. Tapi, pemilik sebelumnya sudah menjual tokonya pada kami. Toko bunga sudah ditutup oleh pemiliknya," papar si pemilik toko mainan.


"Jadi benar sebelumnya disini toko bunga kan?" tanya tante Chacha meyakinkan.


"Benar, Bu. Sebelumnya disini toko bunga," ucap pemilik toko meyakinkan.


"Kalo boleh tahu, pindah ke mana tokonya, Pak? Kami sudah biasa membeli bunga dari toko ini," tanya Om Leon lagi.


"Kabarnya ibu Laksmi kembali ke India pemilik toko bunga pernah berkata pada saya, dia dan suaminya akan menghabiskan masa tua di negara asal sang istri. Mereka sudah tak berminat meneruskan usaha toko bunganya disini," jelas pemilik toko mainan.


Bahu tante Chacha merosot, dia menghembuskan nafas kecewanya. Tante Chacha sudah sangat berharap tadinya, tapi dia dihempas oleh kenyataan.


Om Leon juga sangat merasa kecewa. Selama belasan tahun mereka seringkali bertemu jalan buntu saat berusaha mencari keberadaan Shabila.


Sementara pemilik toko tampak heran dengan reaksi kedua orang didepannya ini. Apa sebegitu kecewanya hanya karena ingin membeli bunga, padahal masih banyak toko bunga yang lain, bukan?


"Kalo begitu, saya ucapkan terima kasih. Permisi," pamit Om Leon.


"Sama-sama," sahut pemilik toko mainan.


Tante Chacha dan Om Leon keluar dari toko mainan tanpa semangat. Mereka kembali ke mobil.


"Jalan, Pak," perintah om Leon pada supirnya.


"Siap, Tuan," patuh sang supir yang segera menjalankan mobilnya.


"Tenanglah, kita tinggal sedikit lagi. Setidaknya kita hanya harus mencari Laura cukup di negara ini saja. Tidak harus menjelajahi setiap negara seperti dulu. Kita akan menemukannya, Insyaah Allah," papar Om Leon berusaha menenangkan tante Chacha.


"Seharusnya saya sadar kebiasaan di negara ini. Kalau di suatu tempat terjadi sesuatu yang dianggap tidak baik, seperti kejadian penembakan kemarin. Biasanya pemilik pasti akan menjual tempatnya karena dianggap tidak membawa keberuntungan," jelas tante Chacha.


"Oh, bisa jadi. Harapan kita sekarang hanya dari pencarian panti asuhan," ucap Om Leon.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita membawa pak tua itu keliling kota? Mungkin saja memang benar, Laura ada di kota ini," usul Tante Chacha.


"Baiklah kalau begitu. Kita berhenti disebuah restoran, dan menunggu orang kita membawa pak tua," putus Om Leon akhirnya.


Om Leon segera menelepon anak buahnya di rumah untuk membawa pak tua yang menjadi penculik Laura om Leon kemudian meminta supirnya berhenti di sebuah restoran. Mereka akan menunggu sebentar.


Hingga akhirnya selesai makan di restoran, Om Leon dan Tante Chacha kembali ke parkiran dan masuk ke dalam mobil yang lain.


Mereka sengaja masuk ke mobil satunya, dimana ada pak tua yang sudah menunggu didalam mobil bersama anak buah Om Leon.


Mobil Alphard mewah ukuran keluarga itu, segera meluncur ke jalanan Ibukota.


"Katakan, jika kamu mengingat sesuatu," celetuk Om Leon saat mereka sudah di jalan.


"Saya sungguh bingung. Semua jalanan berubah. Dulu gedung-gedung tidak setinggi ini.


Banyak bangunan yang bahkan tidak ada saat dulu. Entahlah apakah di kota ini saya meletakkan bayi itu atau di kota lain?" sahut pak tua itu kebingungan.


Pak Tua itu terlihat lebih segar. Kumis dan jambangnya sudah dicukur. Rambutnya yang berantakan sudah tersisir dan terikat rapi ke belakang. Bahkan pakaiannya sudah lebih baik dari saat dia datang.


"Tolong bantu kami. Berusahalah mengingat lebih keras tempat itu. Kami sungguh sudah rindu pada bayi kecil kami," ucap Tante Chacha yang matanya sudah berkaca.


Tante Chacha bukan yang mengandung Shabila, tapi dia yang menjadi saksi suka duka sang sahabat, Mamanya Athan dan Laura dari mereka kecil hingga menua bersama.


"Saya akan berusaha lebih keras, Nyonya. Tapi, ini jalanan sungguh berbeda. Tempat yang saya datangi dulu jalan nya sempit, mobil tidak bisa masuk ke jalan itu. Masih banyak pohon dan rumah-rumah yang berdekatan," jelas pak tua.


"Apa mungkin maksudnya di daerah ya? Atau mungkin pinggiran kota?" Tante Chacha menebak.


"Siap, Tuan," jawab sang supir yang segera mematuhi perintah Om Leon. Mereka meluncur ke pinggiran kota.


Sementara itu, dibelahan bumi yang lain. Sepasang suami istri sedang berada di rumah peristirahatan mereka di atas perbukitan yang indah.


Setiap kali, kesehatan sang istri menurun karena memikirkan anak mereka, sang suami akan membawanya kesini. Tempat yang tenang, berudara segar, pemandangan hijau dan penuh bunga.


"Sayang, saatnya minum obat," panggil sang suami pada sang istri yang terlihat sedang duduk di teras sambil melukis.


Beberapa tahun belakangan, sang istri mulai belajar melukis. Menuangkan segala keresahan lewat lukisan. Sang istri terpaksa beristirahat dari mimpinya menjadi seorang sutradara yang sudah dalam genggaman. Demi tak terlacak jejak mereka oleh penjahat yang menculik Laura.


"Iya, sebentar lagi, Bang. Lukisan ini harus diselesaikan dulu," sahut sang istri.


"Kenapa menangis lagi, hmmm," ucap sang suami yang datang dan segera menghampiri sang istri.


Sang suami mencium pipi sang istri berkali-kali. Berharap air mata yang ada di pipi segera mengering. Sudah terlalu banyak air mata yang mereka tumpahkan selama ini.


Musim silih berganti, ribuan hari telah dilalui. Tapi, buah hati tak kunjung kembali. Jutaan rindu belum terobati. Sekeping hati itu entah dimana harus ditemui. Kembalilah, Nak! Mama dan Papa ada disini, bahkan mencari mu disetiap belahan bumi.


"Rindu, Bang. Rindu Athan dan Laura" lirih sang istri yang matanya sudah mengabur oleh air mata. Ah, pilunya hati disiksa rindu yang dihujam oleh waktu.


Sang suami menarik nafasnya. Menahan laju air mata. Dia tak boleh ikut menangis. Dia harus tegar dan menguatkan sang istri.


"Kalo sama abang, rindu juga dong," jahil sang suami mencolek pipi sang istri. Menghapus jejak air mata dan memeluknya hangat.


"Ih, enggak. Rindu sama Athan dan Laura aja," cebik sang istri mengulum senyumnya. Sang suami sedari dulu, memang selalu membuatnya tertawa.

__ADS_1


"Ya udah deh abang mengalah. Tapi, rasa abang takkan pernah berubah. Sama seperti pertama kali berjumpa," hibur sang suami.


"Makasih, Abang," sahut sang istri tersenyum.


"Hei, istri abang sedang melukis apa?" tanya sang suami yang menggeser sebuah lukisan hingga menghadap ke arahnya.


"Semalam saya bermimpi lagi, Bang. Tentang seorang gadis berhijab, mirip sekali dengan Athan," jawab sang istri yang kembali menyelesaikan lukisannya.


"Lukisan ini cantik sama seperti istri, Abang. Laura pasti sangat cantik, Sayang," ucap sang suami yang berdiri dibelakang sang istri dan tetap melingkarkan tangannya di perut sang istri yang duduk menghadap lukisan.


"Iya, Laura pasti cantik, berhidung mancung dan bermata indah seperti abang," sahut sang istri tersenyum.


Sang suami tak membalas, tapi justru melantunkan bacaan Al-Qur' an surat Al-Baqarah ayat 153-156 tentang kesabaran saat ditimpa musibah.


Hati sang istri merasakan ketenangan saat mendengar lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan suaminya yang hafiz Al-Qur'an.


Tak berapa lama, lukisan telah selesai. Lukisan Laura yang sangat mirip Athan Wajah setengah bule seperti sang Papa. Berhidung mancung, berhijab hijau dan berlatar langit biru yang indah.


"Mirip Athan, Insyaah Allah sebentar lagi kita akan menemukannya, sayang. Jangan putus doa dan harapan," ucap sang suami meyakinkan.


"Insyaah Allah ya Bang. Akhir-akhir ini hati saya sedikit cemas, Bang. Entah apa yang terjadi pada Laura Saya merasakan ada sesuatu yang membuat saya sedih," tutur sang istri yang menunduk sedih dan gelisah.


"Doakan, Sayang. Doa seorang ibu akan menembus langit. Doakan keselamatan dan kebahagiaan putra putri kita," nasihat sang suami mengelus sayang bahu sang istri.


Sang istri mengangguk berkali-kali. Menyeka airmata yang kembali menetes membasahi tak hanya pipi tapi juga hijabnya.


"Semoga Ramadhan kali ini kita akan berkumpul semua ya, Bang," harap sang istri.


"Aamiin. Oh ya sayang, bagaimana kalo lukisan ini abang foto dan kirim ke Leon. Mungkin saja bisa mempermudah pencaharian Laura" usul sang suami.


"Ah, ide yang bagus, Bang. Ayo bang cepat foto dan kirim ke Chacha dan Leon," sahut sang istri.


Sang suami akhirnya memfoto lukisan dan segera mengirimkan pada Om Leon.


Sementara sang istri mengirimkan foto lukisan pada sang sahabat sedari kecil, Chacha.


Tak lama, sebuah dering hape berbunyi. Dari Chacha.


"Assalamualaikum, Cha," sapa sang istri ditelepon.


"Wa'alaikumsalam, bestie. Ini foto Laura cantik banget. Seperti Athan versi cewek," seru tante Chacha ditelepon.


"Iya, saya bermimpi Laura remaja akhir-akhir ini. Semoga lukisan ini bisa membantu kita menemukan Laura," sahut sang istri.


"Tentu. Insyah Allah kita akan menemukannya. Tetap jaga kesehatanmu, bestie. Jangan sampai saat bertemu, kamu terlihat kurus," ledek tante Chacha terkekeh.


"Tentu. Terima kasih atas segalanya," jawabnya.


Setelah beberapa lama mereka saling melepas rindu lewat telepon.


Akhirnya panggilan telepon diakhiri dengan salam.


Pencaharian Laura diteruskan dengan foto saat dia bayi dan lukisan Laura dari sang Mama.

__ADS_1


__ADS_2