TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
TETAP MEMPERTAHANKAN JANIN NYA


__ADS_3

Revan hanya mengikuti perintah Dedi Mengikuti arah search lokasi yang sudah diberikan oleh Dedi.


Sementara Laura pergelangan tangannya sudah memerah. Dedi mencengkram kuat pergelangan tangannya. Meski Dedi eraung dan menangis, Dedi tak bergeming.


"Lu nggak punya hati, Di! Inget lu punya Ibu atau bahkan punya adik perempuan. Kalo suatu hari mereka ada di posisi gue, apa perasaan lu?" lirih Laura menatap sendu mata Dedi.


Dedi refleks melepaskan tangan Laura. Membayangkan orang-orang terkasih disakiti tentu saja Dedi tak mau.


Laura menyentuh tangannya yang nyeri di cengkeram Dedi Meski sebenarnya lebih terasa nyeri hatinya.


Tak lama, Ivan berhenti di suatu klinik. "Di ini klinik apaan?" tanya Revan.


Mata Revan melihat sekeliling, sebuah gedung klinik kecil yang tersembunyi di antara gedung besar di depannya. Harus melewati lorong panjang dan jalan yang tak terlalu besar untuk sampai di klinik ini.


Mereka bertiga turun dari mobil, Dedi kembali mencengkram tangan Laura.


"Ini tempat ilegal buat gugurin," jawab Dedi enteng.


"Hah? Gue nggak ikut-ikutan kalo gini," Revan terkejut.


"Lepasin gue, please gue nggak mau jadi pembunuh," lirih Laura sendu. Dia memelas meminta Dedi melepasnya lagi.


"Lu pikir dalam-dalam Ra. Elu masih sekolah, masa depan lu masih panjang. Cuma ini jalan buat masa depan lu. Kita bakal bantuin lu, biayain kuliah lu sampe tamat setelah ini, gimana?" tawar Dedi.


"Enggak! Gue nggak mau. Lepasin gue!" seru laura memberontak dan menangis.


Pipi Laura sudah basah oleh air mata. Suara Laura sudah parau. Hidupnya tidak mudah sedari kecil dan semenjak kejadian hari itu hidupnya tidak baik-baik saja.


"Kenapa lu nggak mau, hah?! Berarti lu sengaja biar bisa mengikat Adrian kan dengan kehamilan lu?" hardik Dedi.


Laura hanya menggeleng lemah. Kepalanya sudah terasa pusing, telinganya mulai berdengung. Suara yang masuk ke telinganya mulai terdengar seperti suara kumbang. Kehamilannya membuat tubuh Laura mudah letih. Nyeri mulai menjalar ke perutnya.


"Dediiiii!" teriak Adrian turun dari mobilnya.


Dedi dan Revan menoleh. "Rian, ngapain lu ngikutin kita ha?" tanya Dedi


"Seharusnya gue yang nanya, kalian ngapain di sini?" seru Adrian yang kesal.


"Gue nggak ikut-ikutan ya. Gue juga nggak tahu kalo Dedi ngajakin gue ke klinik ilegal ini," Revan menaikkan bahu dan tangannya sebagai kode dia tidak benar-benar terlibat.


"Gila lu ya!" seru Adrian.


"Gue cuma usaha bantuin lu! Daripada lu tanggung jawab sama si cupu Ini jalan satu-satunya," sahut Dedi meyakinkan.


Sementara Laura yang berusaha tetap berdiri tegak, sudah tak mampu lagi. Laura hilang kesadaran, dia pingsan.


Adrian dengan cepat menyambut tubuh Laura sebelum tersungkur di tanah. Wajah Laura terlihat pucat dan tubuhnya terasa dingin.


"Van, tolong buka pintu mobil gue," ucap Adrian yang menggendong tubuh Shabila dan membawanya ke mobil.


Revan dengan cepat membuka pintu mobil di tengah. Adrian masuk dan merebahkan tubuh Laura di kursi tengah mobil. Lalu segera menutup pintu mobil.

__ADS_1


"Elu mau ke mana Adrian?" tanya Dedi.


"Minggir lu! Isi otak lu mengerikan, sebaiknya lu ke psikiater, berobat!" seru Adrian yang meminta Dedi menyingkir dari hadapannya.


Dedi menyingkir dan hanya menatap kepergian Adrian yang melesat cepat dengan mobilnya membawa Laura. Dedi tak ingin bertengkar dengan teman-temannya. Persahabatan mereka renggang semenjak hari kejadian waktu itu.


Adrian melajukan mobilnya ke jalanan. Sesekali menoleh ke belakang dan memanggil nama Laura. Tapi laura tak menjawabnya karna masih tak sadarkan diri.


"lauraaa.. lauu... bangun, raaa." seru Adrian sendirian sambil tetap fokus menyetir.


"Duh, gue harus gimana ini? Laura please bangun," seru Adrian lagi.


Hingga tak jauh Adrian melihat sebuah klinik kesehatan. Adrian akhirnya menuju ke klinik itu.


Sesampainya di klinik kesehatan, Adrian dengan cepat turun dan meminta petugas kesehatan membawa brankar. Laura diturunkan dari mobil dibantu perawat klinik.


Laura segera dibawa ke ruang UGD. Sementara Adrian duduk di kursi tunggu. Entahlah, melihat wajah Laura yang pucat dia jadi khawatir.


"Gimana dok, keadaan teman saya?" tanya Adrian saat dokter menghampirinya.


"Tekanan darahnya rendah. Dia juga mengalami syok. Wanita yang sedang hamil sebaiknya di jaga jangan sampai emosinya tidak stabil, juga pola makannya di perhatikan. Jangan bekerja berat juga," jelas sang dokter.


"Baik, Dok," ucap Adrian menganggukkan kepala.


Adrian kemudian masuk ke ruangan tempat Shabila di rawat. Sebuah selang infus terpasang. Laura masih tampak belum bangun juga.


Adrian menghela nafasnya. Menatap Laura yang pucat. Duduk di sebuah kursi di samping brankar.


Pikiran Adrian jauh menerawang. Memikirkan apa yang harus dia lakukan dan apa yang akan terjadi di masa depan. Kepalanya terisi penuh dengan segala kemungkinan. Adrian kalut, cemas dan tertekan. Rasa bersalah mendominasi pikirannya.


Rindu... tapi membayangkan wajah yang ingin di rindu pun tak bisa. Bagaimana rupamu Ayah? Bagaimana rupamu Ibu? Hanya dengan kaca, Laura menyalurkan kerinduan yang di rasa. Pantulan kaca yang memperlihatkan wajahnya. Tentu wajah ayah dan ibu mirip seperti wajahnya, bukan?


"Lauraa..." satu suara mengembalikan kesadaran Laura sepenuhnya. Shabila menoleh ke samping.


"Elu udah sadar?" tanya Adrian lagi.


Laura tersentak. Mengingat kejadian sebelum dia pingsan.


"Rian, perut gue! Kalian benar-benar melakukannya?" tanya Laura lemah. Wajahnya pias, tenaganya lemah tak mampu berontak.


Adrian dengan cepat menggeleng. Dia memang tak menginginkan anak ini. Tapi, sisi kemanusiaan Adrian tergugah. Dia tak memiliki keberanian untuk bertindak kejam.


"Nggak, Bila! Ini bukan klinik yang tadi. Ini tempat lain. Elu tadi pingsan," jelas Adrian.


Laura menarik nafas lega. Dia pun tak menginginkan kehidupan tumbuh dalam rahimnya. Tapi, mau bagaimana lagi?


"Elu harus di rawat satu hari di sini," ucap Adrian. Laura hanya mengangguk lemah.


" Laura, apa lu tetap ingin mempertahankan kehamilan lu?" tanya Adrian hati-hati.


Laura tak menjawab ucapan adrian. Tapi, sorot mata Laura menatap tak suka pada Adrian.

__ADS_1


"Okey, maaf. Kalo lu memang mau mempertahankannya, gue nggak masalah. Tapi, gue cuma bisa bertanggung jawab untuk biayanya. Gue bakal membiayai semua kebutuhan lu dan anak lu," ucap Adrian.


Hati Laura mencelos. Kata ' anak lu' bukan 'anak kita' sungguh menghujam tepat di jantung Laura. Adrian tidak mengakui anak yang di kandungnya.


"Ini anak lu juga Adrian, kalo lu lupa!" protes Laura dengan tatapan tajamnya.


"Gue tahu... tapi gue nggak siap untuk itu. Maafin gue," lirih Adrian menunduk.


"Lu dan teman-teman lu pengecut semua lo semua b3r3ngs3k!" hardik Laura


"Sekolah lu gimana? Perut lu bakal membesar, Laura?" tanya Adrian pelan.


"Gue nggak tahu, tapi gue bakal tetap sekolah. Gue harus lulus dan dapat ijazah biar bisa bekerja atau kuliah," jelas Laura.


"Gue takut elu ketahuan," lirih Adrian.


"Gue bakal nggak banyak makan, biar perut gue kecil. Gue nggak mau jadi pembunuh, Rian," tekan Laura.


"Gue tahu Rian, rasanya sendirian dan tidak di inginkan siapa pun. Elu nggak bakal ngerti rasanya karena lu nggak pernah mengalami. Gue nggak bakal melakukan itu ke anak gue, setidaknya gue akan tetap ada untuk dia," sambung laura.


Adrian hanya diam dan menunduk. Tak ingin mendebat Laura lagi. Emosi Laura sedang tak baik-baik saja.


"Gue nggak butuh bantuan lu atau teman-teman lu! Pergi lu, tinggalin gue!" usir Laura. Hatinya benar-benar terluka dengan penolakan Adrian.


Adrian hanya mengangguk dan keluar dari ruangan. Dia duduk di kursi tunggu klinik. Menghembuskan nafasnya, berharap semua ini hanya mimpi.


Ponsel Adrian berbunyi, segera Adrian ambil ponsel di saku celananya. Tertulis nama Angel.


Adrian segera menekan tombol tolak panggilan. Dia sedang banyak pikiran. Rasanya malas harus meladeni Angel yang hanya memintanya ini dan itu. Tapi, Angel tiga kali menghubunginya.


Adrian akhirnya keluar dari klinik untuk mengangkat telepon.


"Halo, Angel," ucap Adrian.


"Halo, Rian! Apaan sih telepon gue lu tolak mulu! Elu lagi sama Cupu ya?" berondong Angel.


" Lu nelpon gue ada apaan?" Adrian berdecak kesal.


"Gue mau tanya sama lu.


Katanya lu dulu pernah pacaran dengan si Cupu? Bener nggak sih?" tanya Angel yang penasaran.


"Apaan sih lu? Enggaklah, ada-ada aja lu," kelit Adrian di telepon.


"Kalo gitu lu di mana sekarang? Kasih tau gue biar gue bisa nyusul lu," pinta Angel.


"Gue di jalan. Besok juga ketemu di sekolah," tolak Adrian.


"Tapi, gue mau ketemu lu. Kita jalan ya," rengek Angel.


"Enggak! Gue nggak bisa, gue capek!" cetus Adrian yang langsung mematikan panggilan teleponnya.

__ADS_1


Angel begitu kesal, panggilan teleponnya di matikan. Angel kembali menelepon. Tapi, Adrian mematikan daya ponselnya.


"Adrian, kalo lu ternyata ada hubungan dengan Cupu gue nggak bakal tinggal diam." Angel mengirim pesan pada Adrian. Emosi memuncak di kepalanya.


__ADS_2