TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Sambungan


__ADS_3

"Andai waktu bisa balik lagi. Gue pengen nolak taruhan. Gue pengen nggak jahatin elu dulu. Sekarang gue nyesel banget, Ra" tutur Adrian.


"Tapi waktu nggak akan bisa balik lagi. Mungkin karena Allah pengen kita bertaubat dan menyadari kesalahan dan enggak melakukan kesalahan yang sama," gumam Laura.


"Iya, gue jadi banyak belajar semenjak muncul masalah kita terus masalah keluarga gue. Bentar gue ke counter dulu," ucap Adrian menghentikan mobilnya.


Laura hanya diam, dan memperhatikan Adrian dari kaca mobil. Adrian terlihat membeli buah lalu membeli pulsa di sebelah toko buah.


laura terkejut melihat pesan masuk di ponselnya. Ternyata ponselnya sudah terisi pulsa.


"Gue beliin lu mangga nih. Mangga muda, elu suka kan?" tanya Adrian sambil memberikan sekantong buah mangga pada Laura saat kembali ke mobil.


"Hmm... selama hamil, gue suka buah mangga muda. Makasih ya," sahut Laura mengambil kantong buah dari tangan Adrian.


"Sama-sama. Oke kita berangkat ," ucap Adrian kembali melajukan mobilnya.


"Elu isiin pulsa gue ya?" celetuk Laura


"Iya, gue isi kuota tadi. Sekalian aja gue isi pulsa elu. Biar elu nggak capek keluar beli pulsa," tutur Adrian.


"Makasih banyak ya Rian, Pulsanya banyak banget tapi gue jarang pake ponsel kecuali penting. Tapi, sekarang gue bingung," ucap Laura.


"Kenapa lu bingung?" tanya Adrian.


"Gue kan mengajar private. Gimana ya, kan jauh jadinya kalo nggak tinggal di rumah tante Sri," bingung mau


"Hmm... gimana ya? Gini aja, gue ada beberapa opsi pilihan untuk lu," usul Adrian.


"Apa?" tanya Laura dengan antusias.


"Pertama, gue beli rumah terserah elu mau di kawasan mana, yang kedua elu tinggal bersama Tiara biar elu ada teman, kalo lu masih mau mengajar gue bakal antar jemput elu. Ketiga elu berhenti mengajar, tinggal di tempat yang elu nyaman, gue yang bakal biayai semua kebutuhan elu," papar Adrian.


"Cuma tiga itu pilihannya? Sepertinya ketiga pilihan semua berhubungan dengan elu. Nggak asyik benar pilihannya. Gue nggak mau tiga-tiganya," tolak Laura


"Terus gimana, dong? Please, beri gue kesempatan buat bantu elu. Minimal mengurangi rasa bersalah gue ke elu," pinta Adrian memohon.


"Sampai kapan pun, kesalahan elu nggak bakal terhapus, Rian. Apalagi akan ada bayi yang lahir. Seumur hidup dosa dan kesalahan akan membayangi gue, elu, bahkan kedua teman lu," lirih Laura


"Maafin gue," ucap Adrian untuk kesekian kalinya.


"Gue capek sih dengar lu minta maaf. Rian gue tanya satu hal, pernah nggak lu kepikiran nanti kalo anak ini lahir terus dia besar. Dia akan mulai mengenal dunia. Dia akan tahu dia berbeda. Dia nggak punya ayah, gue nggak tahu apa yang harus gue katakan kalo dia nanya siapa ayahnya," ungkap Laura yang menghela nafasnya.


Mata Laura jauh menatap jalanan di depan. Gelap yang hanya diterangi lampu jalan dan sinar-sinar terang dari gedung-gedung yang dilewati.

__ADS_1


"Jujur, gue belum berpikir sejauh itu. Kayaknya pikiran gue dangkal banget nggak kayak lu yang sudah berpikir sejauh itu," ungkap Adrian.


"Gue nggak tahu Adrian, gimana nasib gue ke depannya, apa yang bakal gue lewatin di masa depan. Gue cuma tahu gue nggak bakal sendirian lagi. Akan ada seorang anak yang akan mengikuti gue ke mana pun pergi. Seseorang yang akan menemani setiap langkah kaki. Bayi ini yang akan mengurus kala gue tua dan tak berdaya," ucap Laura dengan bibir bergetar dan mengelus perutnya.


"Gue sedih elu ngomong kayak gitu. Kayak di hidup lu cuma ada kalian berdua. Nggak ada gue yang menjadi bagian dari kalian," papar Adrian.


"Pada kenyataannya lu memang nggak ada untuk kita di masa depan," jujur Laura.


"Gue bakal membiayai kehidupan kalian. Itu yang selalu gue bilang ke elu. Elu jangan menganggap gue nggak pernah ada dong, sedih gue," lirih Adrian.


"Kita berbeda sudut pandang, Rian. Elu melihat rasa tanggung jawab hanya dari materi. Sementara gue nggak sesimpel itu memandang tanggung jawab. Seorang anak butuh keluarga yang lengkap untuk tumbuh kembangnya, butuh pengakuan dari negara untuk mempermudah masuk sekolah dan lain-lain," jelas Laura.


"Maafin gue. Gue nggak terpikir sama sekali ke sudut itu. Jujurly, gue belum siap untuk tanggung jawab lebih dari sekedar materi," ucap Adrian hati-hati.


"Gue sudah duga itu alasan elu. Mungkin kami memang harus melalui semuanya berdua," tandas Laura akhirnya.


"Gue harap elu dapat jodoh laki-laki yang lebih baik dari gue. Lebih segalanya," ucap Adrian dengan suara bergetar.


Setetes air mata jatuh ke pipi Laura sakit hati, benar-benar sakit. Laki-laki di sampingnya ini bukan hanya tak mau tanggung jawab tapi sudah sangat jelas dia bahkan mendoakan Laura bersama orang lain.


"Ucapan lu nyakitin hati gue sampai ke bagian yang terdalam. Elu tau nggak sesakit-sakitnya dihina tante Sri dan Om Herman, lebih menyakitkan kata-kata lu tadi!" desis Laura dengan suara tercekat. Dia berusaha menahan laju air matanya.


Laura akan berusaha kuat sekuat apa pun demi buat hidupnya dan calon anak nya, dia akan tetap berusaha menjalani apa pun yang terjadi. Hingga mungkin suatu hari dia lelah dan kembali. Kembali pada siapa? Kembali pada sang pemilik jiwa dan raga.


Laura menarik nafas dalam-dalam. Mengambil tisu dan kembali menyeka air mata yang terlanjur jatuh. Mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal oleh butiran air mata nakal yang masih ingin mendobrak keluar.


"Nggak apa-apa! Mungkin ini memang nasib gue," lirih Laura dengan suara lemah.


Hening tercipta. Tak ada suara lagi di antara mereka. Hanya ada suara mesin mobil yang menderu menembus jalanan.


"Angin malam, sampaikan pada ibuku, aku rindu ingin bertemu. Aku masih sendiri bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Akan ada seorang bayi yang akan menjadi cucumu, Bu. Aku butuh dirimu ibu... ajari aku memandikan bayiku, ajari aku menggendong bayiku, ajari aku memberi asi pertamaku." batin Laura.


"Ayah... ayah di mana? Laura butuh ayah. Ajari Laura menjadi kuat menghadapi cobaan. Ajari Laura bahwa tak semua laki-laki itu hanya bisa menyakiti. Ayah, Laura butuh ayah!" jerit batin Laura lagi.


Mobil terus melaju hingga sampai di depan pagar rumah Tiara. Sahabat Laura itu bahkan sudah menunggu di teras kost nya.


Adrian menekan klakson mobil, Tiara dengan sigap membuka pagar kost hingga mobil bisa masuk ke halaman kost yang luas.


Laura segera keluar dari mobil saat mobil telah berhenti. Sementara Tiara sudah menunggu di samping mobil.


"Laura..." panggil Tiara.


Laura langsung menubruk tubuh Tiara, dia memeluk erat sahabatnya. Dia butuh tempat untuk mengeluarkan semua yang menghimpit hatinya. Sementara Adrian sudah keluar dari mobil. Dia berdiri tertegun di samping mobil.

__ADS_1


" Ra, elu baik-baik aja kan? Ada apa sebenarnya? Ayo, masuk," tanya Tiara khawatir.


Laura hanya menggeleng lemah. "Ra, gue sewa kost tempat lu boleh kan?" tanya Lauraa akhirnya.


"Elu mau pindah sini? Aelah lu, pake bayar sewa segala," omel Tiara.


"Gue yang bakal bayarin kost Laura Ra," celetuk Adrian mendekati tempat Laura dan Tiara berdiri.


"Laura bakal tinggal sekamar sama gue. Nggak perlu bayar dan gue nggak perlu duit lu," cetus Tiara.


"Makasih kalo begitu," ucap Adrian membuka pintu belakang mobil.


"Emang elu ngapain sih, sampai bestie gue datang-datang menangis?" rutuk Tiara menatap kesal Adrian.


"Gue diusir Tante Sri dan Om Herman Tiara. Kebetulan banget Adrian lewat, dia yang menolong gue ," Laura yang menjawab pertanyaan Tiara.


"Astaghfirullah, memangnya ada apa sampai elu diusir? Elu nggak di apa-apain kan sama Om dan Tante jahat itu?" ucap Tiara yang terkejut.


"Nggak. Gue nggak di apa-apain. Gue ketahuan kalo hamil, semua barang udah gue bawa," jelas Laura


Adrian terlihat mengeluarkan barang-barang Laura dari kursi belakang mobil. Sementara Tiara menyambutnya.


"Berantakan dan kotor gini barang lu? Kayak habis dilempar gitu?" Tiara memperhatikan buku-buku yang terkena pasir, bahkan ada rumput yang ikut di dalam baju Laura.


"Iya, emang gitu Ra. Mereka lempar ke halaman," ungkap Laura


"Wah, kacau bener emang dua suami istri itu! Sabar ya, Ra. " ucap Tiara yang melangkah membawa barang Laura, diikuti Adrian yang juga membawa barang-barang.


Setelah meletakkan barang-barang Laura di kursi teras, Adrian kembali ke mobil. Dia ingat Laura lupa membawa buah mangga yang tadi dia beli.


"Ra, elu lupa bawa ini," ucap Adrian menyodorkan sekantong buah mangga.


"Oh iya, gue lupa. Makasih ya," ucap Laura.


"Makasih juga ya, Rian. Udah nganterin sahabat gue dengan selamat," cetus Tiara.


"Iya, sama-sama. Gue pulang dulu ya. Kalo ada apa-apa, jangan sungkan hubungi gue. Jam berapa pun gue pasti datang. Gue akan berusaha selalu ada buat lu," janji Adrian.


"Masak sih? Jam berapa pun. Dulu lu ngomong suka sama bestie gue, akan selalu ada buat bestie gue. JAMBU lu, alias janjimu busuk! cibir Tiara yang mengingat saat Adrian dulu pura-pura menyukai Laura. Sementara Laura hanya diam tak bereaksi.


Adrian hanya diam dan menelan ludahnya sendiri. Dia takkan membela diri. Karena kenyataannya dia memang salah.


"Gue pulang ya,Assalamualaikum," pamit Adrian.

__ADS_1


__ADS_2