TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Tanpa judul


__ADS_3

Hari yang mengharu biru bagi keluarga Papa Birru dan Mama Runi. Namun, melihat Laura yang kembali terpejam, Mama segera menekan tombol panggilan ke dokter.


Seorang dokter segera datang untuk memeriksa Laura dengan intens. Sang dokter menyatakan bahwa Laura sudah baik-baik saja. Hanya saja dia masih lemah dan kesehatan mentalnya perlu dipulihkan.


Mama Runi dan Papa Birru menunggui Laura dan tak mau keluar ruangan lagi. Sang Mama mencium wajah sang anak berkali-kali. Begitu pun sang Papa berkali-kali mencium tangan sang anak.


Ribuan hari mereka disiksa kerinduan. Dihujam kesepian. Luka bertemu cinta. Bahkan ranting pohon yang mengetuk jendela, diharapkan sang anaklah yang mengetuk pintu dan pulang.


Sang bayu seringkali berbisik pada hujan, diperintah sang maha kuasa, agar turun dan membasahi bumi. Menumbuhkan mawar putih di taman. Tapi, tetap tak bisa menghibur kedua suami istri.


Mama dan Papa mengucapkan kata maaf berkali-kali karena tak bisa menemukan Laura selama belasan tahun. Meski laura tak bisa mendengarkan sama sekali.


laura masih berada di alam mimpi,bermain di taman bunga bersama kedua orang tuanya. Laura tak ingin kembali ke alam sadarnya karena merasa kedua orang tua yang dia lihat tadi ada di alam mimpinya.


"Sayang, bangunlah Nak. Mama disini, Papa juga disini. Athan kakak kamu juga ada, Sayang," lirih sang Mama memanggil.


Namun, laura tak bergeming. Matanya tetap terpejam meski bibirnya menarik seulas senyuman. Mimpinya belum berakhir.


Papa Birru akhirnya mulai melantunkan bacaan Alquran.


Membacakan tujuh surat Al-Qur'an untuk penyembuhan. Memanggil sang anak untuk kembali ke alam sadarnya.


Dimulai dari surat Al-fatihah, surat Al-isra ayat 82, surat Al- anbiya ayat 83, surat An-nas, surat Al-falaq, surat Asy-syu'ara ayat 80, dan surat Yunus ayat 57.


Bacaan Alquran yang fasih dan tartil menembus mimpi Laura. Seperti ada suara yang menuntunnya untuk pulang. Papa Birru adalah pengusaha sekaligus hafiz Al-Qur'an dari sebuah pondok pesantren.


Mama Runi menambahkan bacaan surat Al-Ikhlas untuk membantu proses penyembuhan laura. Hingga pelan-pelan mata Laura terbuka. Hal pertama yang dilihat Laura adalah semua serba putih sama seperti sebelumnya. Serta dua orang yang tersenyum padanya. Senyum yang sama dan wajah yang sama seperti pertama kali dia membuka mata beberapa jam yang lalu.


"Alhamdulillah, Laura kamu sudah sadar lagi, Nak," ucap Mama Runi terharu. Dia menyeka air matanya.


Sedang Papa Birru mengucap Hamdalah berkali-kali dan sujud syukur karena Allah sudah mempertemukan dan menyembuhkan putrinya.


"Alhamdulillah, Putri kecil Papa," suara Papa Birru bergetar. Mama Runi dan Papa Birru refleks langsung memeluk putri mereka.


Laura hanya diam, pelukan yang terasa hangat menjalar ke semua bagian tubuhnya. Seperti sebuah pelukan yang selama ini dia inginkan. Seperti inikah rasanya dipeluk dengan segenap sayang?


"Bapak dan Ibu siapa?" tanya laura lemah. Tubuhnya masih terbaring di brankar.


"Ini Mama dan Papa, Nak. Maafin Mama baru bisa menemukan Laura. Kami sudah mencari kamu belasan tahun, Nak," ungkap Mama Runi dengan deraian airmata.


Laura melihat mata Mamanya Mata yang berlinang air mata itu menyiratkan kerinduan yang mendalam.


Suara Mamanya yang bergetar menandakan luapan bahagia sekaligus kesedihan yang selama ini menderanya.


Laura kemudian menoleh ke samping kirinya. Seorang laki-laki tampan meski tak lagi muda. Warna mata nya persis seperti warna mata Laura. Hidung mereka juga sama, hampir keseluruhan wajah yang ditatap Laura persis wajahnya.


Tatapan mata mereka bertemu, ada rindu dan luka dari sorot mata sang Papa.

__ADS_1


"Kau tahu Nak, selama ini kami bahkan lebih mencintai khayalan daripada kenyataan. Karena hanya dengan khayalan kami bisa bertemu dan memelukmu," ucap sang Papa.


laura masih diam, ia masih memperhatikan wajah kedua orang tuanya.


"Tapi, sekarang kami lebih mencintai kenyataan. Karena kami benar-benar sudah menemukanmu," lanjut sang Papa.


"Jadi, kalian benar-benar ayah dan ibu Laura?" tanya laura meyakinkan dirinya.


Mama dan Papanya mengangguk kompak. Wajah mereka bertiga sudah basah oleh air mata.


"Iya, ini Mama," jawab Mama Runi.


"Dan ini Papa," jawab Papa Birru.


Laura merentangkan tangannya lebar, Mama Runi dan Papa Birru tak menyia-nyiakan waktu. Menyambut hangat Laura. Mereka bertiga berpelukan. Suara tangis haru dan bahagia memenuhi isi ruangan.


Sungguh, janji Allah itu pasti. Dibalik kesulitan akan ada kemudahan.


Seperti janji Laura pada dirinya sendiri setiap kali menatap cermin. Dia tidak akan mempertanyakan kenapa dia ada di panti asuhan. Dia sudah sangat bahagia bisa bertemu Mama dan Papa.


Apalagi, saat melihat orang tuanya yang sangat menyayanginya, rasanya tidak mungkin kalau dia dibuang kedua orang tuanya. Pasti ada alasan kuat kenapa mereka sampai terpisah.


Pelukan mereka bertiga semakin erat. Menyalurkan segala rasa yang selama ini terbelenggu dalam kata sepi dan sendiri.


Sementara diluar ruangan, Om Leon dan Tante Chacha tampak sedang berkomunikasi dengan anak buahnya.


Mereka bersyukur, mereka yang menemukan Laura bukan orang-orang jahat.


Melihat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, Athanmenarik tangan Tiara. Dia mengajak Tiara keluar dari rumah sakit menuju taman rumah sakit.


Para bodyguard hanya berjaga dan mengikuti dari kejauhan. Tiara yang sebenarnya sejak beberapa jam lalu hanya diam dan bengong akhirnya bisa menghembuskan nafas lega saat duduk di kursi taman.


"Makasih ya, elu pasti bestie adik gue. Tangan lu luka?!" ucap Athan ikut duduk di ujung kursi. Sementara Tiara duduk di ujung kursi satunya.


Tiara langsung melihat tangannya. Dia sendiri sampai lupa kalau tangannya terluka.


"Oh iya, tangan gue luka ya," ucap Tiara yang memperhatikan tangannya.


"Gue tadi udah panggil perawat, tunggu ya," sahut Athan


Tak lama, seorang perawat datang sambil membawa kotak p3k. Dia segera mengobati tangan Tiara dan membalutnya dengan perban.


"Terima kasih, suster," ucap Athan tersenyum sopan.


"Sama-sama, permisi," sahut perawat tersebut.


Athan tersenyum manis dan mengangguk sopan.

__ADS_1


Tiara tak lepas melihat segala tingkah Athan. Mulai dari penampilan dan sikapnya.


"Kayaknya ini anak sultan ya dari tampilannya. Tapi, sopan banget. Beda sama rombongan Adrian. Real anak orang kaya sebenarnya gini ya. Nggak pamer dan menghargai orang." puji Tiara dalam hati.


"uyyy, lu kok diem? Tangan lu masih sakit?" tanya Athan. .


"E-enggak. Nggak sakit lagi. Makasih sudah panggilin perawat buat ngobatin gue," jawab Tiara gugup.


"Aduh hati gue. Kirain cowok ganteng cuma ada di pilem oppa korea aja. Ternyata aslinya ada. Huaaaaa... sarangbeo oppa." batin Tiara jumpalitan.


"Ngelamun aja lagi. Gue ruqyah kalo lu masih melamun," canda Athan


"Eh, enggak. Nama lu siapa tadi ?" tanya Tiara kagok. Dia terlalu lemah tak berdaya. pikirannya tiba-tiba blank, berhadapan dengan makhluk super tampan dihadapannya.


"Athan. Panggil aja Atha atau athan" jawab Athan.


"Oh, gue Mutiara. Panggil aja Tiara," ucap Tiara.


"Hmm, Tiara. Gue sebenernya sengaja bawa lu ke taman ini. Biar elu bisa leluasa cerita ke gue. Jujur banyak sekali pertanyaan dalam hati gue. Gimana mungkin adek gue dengan pakaian seragam SMA, tau-tau hari ini melahirkan?" tanya Athan panjang lebar.


"Hmm, gue bakal cerita. Tapi, apa lu yakin Laura adik lu? Selain ya memang wajah kalian mirip, sih. Tapi, di dunia ini ada tujuh orang yang memang mirip kita kan?" papar Tiara meyakinkan Athan.


"Kalo hati gue yakin kalo Laura adik yang gue cari selama ini. Tapi, mungkin Om dan Tante gue bakal melakukan tes DNA biar lebih yakin lagi. Sekaligus sebagai bukti untuk memenjarakan orang-orang jahat yang sudah menculik Laura," ungkap Athan.


"Kalo lihat dari penampilan kalian, sepertinya Laura bukan berasal dari keluarga biasa. Gue jadi makin sedih. Selama ini Laura sering kali di bully karena dianggap anak panti dan nggak punya apa-apa," jujur Tiara.


Tangan Athan mencengkeram kuat pinggiran kursi yang terbuat dari besi, sakit hatinya mendengar kata bully.


"Please, ceritakan semuanya ke gue. Gue butuh tahu kehidupan bagaimana yang dijalani Laura selama ini," pinta Athan serius.


Tiara mengangguk. Dia akhirnya menceritakan sedari awal kejadian. Tiara menceritakan dengan sejujur-jujurnya.


Sementara Athan, nafasnya sudah turun naik. Kakak mana yang terima ketika adiknya disakiti.


"Maafin kakak, Ra. Kakak terlambat menemukanmu." batin Athan.


"Jadi, nama mereka Adrian, Dedi, Revan dan Angel?" tanya Athan meyakinkan.


"Iya, itu nama mereka," jawab Tiara.


Athan mengangguk, wajahnya sudah merah padam.


"Hmm... keluarga Adrian dan teman-temannya termasuk keluarga yang berpengaruh. Bahkan di sekolah mereka disegani. Yah, walaupun Dedi sekarang sudah jatuh. Bokapnya juga sudah diberhentikan tidak hormat sebagai pejabat negara," jelas Tiara.


Athan justru tertawa mendengar ucapan Tiara.


"Gue nggak takut meski mereka anak penguasa sekalipun. Elu nggak tahu, bahkan gue sudah melalui hal yang lebih mengerikan daripada mereka. Kalo dari cerita lu, sepertinya mereka hanya anak Mama Papa yang mengandalkan harta orang tua," ucap Athan.

__ADS_1


"Iya, lu bener. Karena merasa punya segalanya mereka justru berani pada siapa saja," tutur Tiara.


"Gue makasih banget sama lu, Keluarga kami nggak akan pernah bisa membalas semua kebaikan lu. Tapi, gue bakal cerita ke keluarga gue tentang kebaikan lu ini. Ohya kalo keluarga gue nanya apa yang terjadi, nggak apa-apa lu cerita kecuali ke Mama," pinta Athan.


__ADS_2