
Papa Birru menarik nafasnya dalam-dalam. Jika menuruti emosi, tentu saja Papa Birru bahkan ingin orang yang mencelakai anaknya tak bisa hidup dengan tenang.
Tapi, saat mengingat betapa besarnya kasih sayang Allah, dan Allah maha besar. Masalah apapun akan menjadi kecil dihadapan Allah yang maha besar.
Papa Birru menggamit lengan Athan dan mengajak anaknya duduk, sementara Athan hanya mengikuti Papanya.
"Istighfar seratus kali!" perintah Papanya.
Athan mengikuti perintah Papanya. Memulai istighfar dengan hitungan tasbih digital miliknya.
Setelah menguras tenaga dan emosinya dalam perkelahian, suhu tubuh Athan yang tadinya panas membara menjadi dingin.
"Apa Athan masih ingin marah?" tanya Papa Birru lembut.
Athan menggeleng, dia kembali tertunduk. Kharisma sang Papa membuat nyalinya menciut.
"Saat mendengar cerita dari Om Leon tentang Laiya. Papa syok dan tentu saja ada rasa marah. Papa bahkan harus berdiam diri di masjid beberapa jam, zikir tanpa henti untuk menenangkan diri," ungkap papa Birru memulai ceritanya.
Athan menoleh wajah papa yang teduh dan penyabar ternyata bisa juga merasakan kemarahan.
"Papa analogikan seperti meteran dan kepala kita. Saat mengukur suatu papan kayu, kepala kita berpikir ukuran kayu sudah pas. Tapi, menurut meteran ukuran kayu kelebihan sepuluh centimeter. Kira-kira yang betul ukurannya siapa?" tanya papanya lagi.
"Meteran, Pa," sahut Athan lagi.
"Artinya apa yang kita pikirkan belum tentu benar. Ada aturannya, ada hukum yang harus kita taati, Athaan, nasihat Papa Birru pelan.
"Maafin Athan, Pa," lirih Athan.
"Pedoman hidup kita itu Al-Qur' an dan hadis nabi. Antara akal dan Al-Qur'an mana yang harus dipilih?" tanya papanya.
"Al-Qur'an, Pa," sahut Athan.
"Alhamdulillah, anak Papa sudah mengerti. Jangan mengutamakan emosi. Ada Allah yang lebih tahu balasan apa yang pantas untuk mereka," tutur Papa Birru.
"Papa akan bertindak tapi setelah meminta petunjuk Allah. Saat ini, prioritas utama kita adalah kesembuhan adikmu. Dia mengalami kesedihan luar biasa," lanjut Papa Birru.
"Maafin Athan, Pa. Mereka berempat sungguh kelewatan," ucap Athalla akhirnya.
"Iya, kamu benar, Nak. Mereka kelewatan. Tapi, main hakim sendiri juga tidak dibenarkan," nasihat Papa Birru.
"Iya, Pa," jawab Athan.
"Ada banyak sekali orang-orang yang berbuat kejahatan, bahkan tetap melakukan dosa walau tahu salah. Apa Allah langsung menurunkan azab untuk mereka?" tanya Papa Birru.
Athan langsung menggeleng Kepala nya.
"Allah masih memberi kesempatan setiap kita untuk bertaubat. Mereka adalah remaja yang mungkin salah pergaulan atau kurang mendapat pengajaran. Papa akan cari tahu dulu sebelum Papa mengambil keputusan," putus Papa Birru.
"Iya, Pa. Apa Athan boleh kembali ke kamar sekarang?" tanya Athan
__ADS_1
"Iya, mandilah. Sholat sunah jangan lupa. Mohon ampun pada Allah. Papa mau kembali ke rumah sakit," putus Papa Birru.
"Iya, Pa," ucap Athan.
Mbok pengasuh muncul dari belakang, saat Papa Birru sudah pergi.
"Aden," panggil mbok pengasuh.
"Iya, Mbok. Atha mandi dulu, capek," sahut Athan
"Nanti mbok panggilin kang pijit ya. Mandi pake sabun yang bersih. Sikat gigi jangan lupa," nasihat sang mbok tak berubah. Masih menganggap Athan nya adalah Athan yang dulu saat masih kecil.
"Siap, mbok," ucap Athan tersenyum sambil merentangkan tangan hormat pada mbok pengasuh.
Mbok hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Memperhatikan Athan yang naik ke tangga menuju lantai dua.
"Cah bagus, udah besar kamu, Le ." lirih mbok pengasuh sendiri. Dia tetap bangga pada Athan meski seringkali badung dan mengambil tindakan sembrono.
***
Pagi itu, sekolah tetap sepi. Karena memang libur sekolah tiga hari untuk persiapan masa tenang sebelum ujian.
Penjaga sekolah tampak berjalan santai setelah minum kopi di rumahnya.
"Pak, mau ke mana? Kok bawa gunting rumput?" tanya istrinya.
"Oh, ya sudah. Nanti ibu bawain minum sama gorengan ke sana," sahut istrinya.
"Iya, Bu. Bapak pergi dulu," pamit sang suami. Istrinya segera salim tangan. Rumah mereka tak jauh dari sekolah. Masih dikawasan belakang sekolah. Cukup berjalan kaki.
Penjaga sekolah berjalan ke arah ujung kiri sekolah. Tempat paling sepidatang letak gudang sekolah berada.
"Loh, Subhanallah," jerit penjaga sekolah yang langsung meletakkan gunting rumputnya.
Tiga orang pemuda masih tergeletak di rerumputan dari semalam mereka belum sadar.
"Den, bangun den," panggil penjaga sekolah sambil menepuk pelan pipi Revan.
Tapi Revan tetap tak bangun begitu juga Adrian dan Dedi Tak ada yang bangun meski sudah dipanggil.
Penjaga sekolah akhirnya berlari keluar dari sekolah. Dia ke rumah pak RT. Tak lama bersama pak RT dan warga sekitar, mereka datang ke sekolah.
Tiga mobil ambulance sudah terparkir di sekolah. Membawa tiga pemuda tadi ke rumah sakit.
Orang sekitar jadi heboh. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada ketiga pemuda tadi. Sayangnya, saat memeriksa CCTV tak ada petunjuk sama sekali. CCTV rusak.
Sementara Angel yang masih didalam gudang sekolah akhirnya sadar juga. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya tipis yang masuk lewat ventilasi udara diatas gudang.
"Gue dimana? Sssss... kepala gue sakit banget." desis Angel sambil memijit pelan kepalanya.
__ADS_1
Angel memperhatikan sekitar. Beberapa saat kemudian, dia tersadar kalau dia sedang di gudang sekolah.
"Ya, ampun. Semalam gue diculik, gue ada di gudang sekolah." seru Angel sendiri.
Sayup-sayup terdengar dari jauh suara ramai orang diluar. Angel mendekatkan telinganya ke pintu.
"Suara orang? Tolong... tolong!" jerit Angel dari dalam gudang.
Sayangnya, tak ada yang mendengar. Orang-orang yang tadi berkerumun di padang rumput sudah berduyun pulang ke rumah masing-masing. Suara Angel yang parau sudah tak terdengar oleh mereka.
"Hei, tolong gue! Siapapun please tolong!" jerit Angel lagi.
Namun, suara ramai diluar tadi sudah tak terdengar lagi. Kembali hening dan sepi. Hanya tersisa suara burung di dahan pohon tua.
Angel berusaha mendobrak pintu gudang sekolah. Namun, tak terbongkar sama sekali. Tanpa Angel tahu, pintu itu bukan hanya digembok, tapi sudah di palang dengan besi.
Angel masih berteriak tapi makin lama suaranya makin mengecil.
"Please, tolong gue. Gue laper... gue haus. Siapa pun tolong gue," jerit Angel dengan suara parau.
Tetap hening tak ada suara diluar. Angel akhirnya menangis. Tubuhnya meringkuk diatas matras tua. Dia kelaparan, kehausan dan ketakutan.
Sementara itu, Adrian, Dedi dan Revan sudah sampai dibawa ke rumah sakit. Mereka langsung ditangani oleh dokter.
Wajah mereka bertiga lebam dan bengkak. Darah di bibir dan hidung bahkan sudah mengering.
Mereka mendapatkan perawatan intensif bahkan harus melakukan rontgen untuk melihat organ dalam tubuh mereka.
Dedi ang paling parah Tapak tangan di dadanya yang awalnya berwarna merah sudah berubah menghitam.
Orang tua mereka sudah dihubungi. Ketiga pasang orang tua berlari-lari di koridor rumah sakit. Masuk ke bilik ruangan anak mereka masing-masing.
Namun, ketiga anak mereka belum ada yang sadar. Banyak alat yang terpasang di tubuh anak mereka. Leher anak mereka bahkan dipasangi penyangga leher.
"Dokter, anak saya kenapa?" tanya mama Dedi histeris melihat tubuh anaknya penuh luka dan lebam.
"Sepertinya habis berkelahi, Bu," sahut sang dokter.
"Tapi, ini di dadanya kenapa? Ada cap tangan gitu?" tanya sang mama kebingungan.
"Saya juga baru kali ini melihat hal ini, Bu," jujur dokter muda tersebut.
Dokter tersebut kemudian pamit keluar dari ruangan.
"Pa, ini kenapa ya?" tanya mamanya bingung.
Sang suami menggeleng. Terkadang ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika.
Menunggu beberapa jam, hingga akhirnya Adrian yang pertama kali sadar.
__ADS_1