
Mama Runi dan Papa Birru akhirnya duduk disebuah kursi kayu tua. Menunggu beberapa belas menit, hingga akhirnya kedua orang yang bersuara besar keluar.
Saat kedua orang itu keluar, terlihat keduanya menatap Papa Birru dan Mama Runi dengan tatapan tak bersahabat. Terlihat kedua orang itu masih menyisakan emosi dalam hatinya.
Kedua orang itu kemudian berjalan pergi menjauh keluar dari panti asuhan. Tak menghiraukan Mama Runi dan Papa Birru.
"Bang, kok wajahnya kayak nggak asing ya?" tanya Mama Runi pelan pada Papa Birru.
"Mereka berdua sepertinya orang tua salah satu remaja nakal yang sudah membuat anak kita seperti sekarang, Sayang. Foto mereka ada di map laporan dari Leon. Tapi Abang lupa nama anaknya siapa," ungkap Papa Birru.
"Pantes, pernah kita lihat di foto ya," sahut mama Runi.
"Mereka sepertinya sedang jatuh terpuruk, Sayang. Andai mengikuti ego, Abang bisa saja menyelesaikan masalah dengan kekuasaan dan menekan bisnis mereka. Tapi, Abang nggak mau," ucap Papa Birru.
"Kenapa, Bang? Mereka jahat banget. Runi sakit hati," jujur Mama Runi.
"Istighfar, sayang. Apa bedanya kita sama mereka kalo jahat dibalas jahat. Kita tunggu kondisi Laura stabil, kalo Laura mau laporkan, Abang akan buat laporan ke polisi," putus Papa Birru.
Mama Runi istighfar berkali-kali. Terkadang emosi memang lebih dominan di hati.
"Abang sudah sholat meminta petunjuk, hati Abang malah semakin jadi tenang. Biarkan mereka jadi urusannya Allah. Kita fokus ke anak kita dulu, Abang harap semoga Allah menjodohkan Laura dengan laki-laki soleh pilihan Allah," lanjut Papa Birru.
"Aamiin," sahut Mama Runi.
"Ayo, Sayang. Kita masuk dulu," ajak papa Birru.
Mama Runi mengangguk. Mereka berdua berdiri dari duduknya. Lalu melangkah ke rumah Panti asuhan.
"Assalamualaikum," sapa Mama Runi dan Papa Birru.
"Wa'alaikumsalam," sahut suara ibu panti yang terdengar suaranya parau dan habis menangis. Dia masih menyeka airmata yang keluar.
Papa Birru dan Mama Runi masih berdiri diambang pintu, sementara ibu panti yang duduk segera berdiri dan menyongsong tamunya.
"Silahkan masuk Pak, Bu," ucap ibu panti ramah. Padahal dia baru saja sedang menangis.
"Terima kasih," ucap Papa Birru dan Mama Runi. Mereka berdua kemudian duduk disebuah sofa tua.
Ibu Panti kemudian memanggil anak pantinya yang remaja dan meminta dibuatkan minum.
Mama Runi memperhatikan sekeliling ruangan. Banyak foto-foto di dinding. Foto anak-anak yatim piatu. Momen anak-anak panti, ada yang sedang bermain, ada juga ketika anak-anak panti bersama pejabat. Momen mereka berkumpul semuanya dan diabadikan dalam satu bingkai foto besar.
__ADS_1
Mama Runi bergerak refleks ke dinding. Memperhatikan foto-foto. Mencari foto anaknya. Mengais kenangan sang anak yang begitu banyak dia lewatkan.
"Itu foto Laura, salah satu anak asuh saya. Dia sangat cerdas. Bahkan loncat kelas dua kali. Seringkali mewakili sekolah dalam lomba. Pialanya di sekolah dari SD sampai SMA saya rasa sudah ratusan piala," ucap ibu panti bangga saat melihat Mama Runi mengelus sebuah foto lama hitam putih.
Foto Laura sendiri sambil memeluk sebuah piala tinggi, setinggi tubuhnya saat dia SD.
Mama Runi menangis tergugu. Foto itu diambilnya dan dipeluknya erat. Berkata maaf lagi, berkali-kali maaf. Mengelus foto Shabila seperti sedang berbicara pada anaknya.
Sungguh sakit jika mengingat segalanya. Orang tua yang kehilangan anak, tak akan ada kata yang bisa mewakili rasa kehilangannya. Menjalani hidup karena sebuah harapan akan bersatu. Setiap saat menawar waktu, bisakah bertemu?
"Kenapa menangis, Bu?" tanya Ibu Panti bingung.
" Laura anak kami, Bu. Waktu bayi dia diculik. Kami mencarinya bahkan diberbagai negara," ungkap Papa Birru.
"MasyaaAllah. Jadi kalian orang tua Laura?" tanya ibu panti meyakinkan dirinya.
"Iya, Bu. Kami kesini karena ingin mengucapkan banyak terima kasih pada ibu," sahut Mama Runi.
"Alhamdulillah, Laura masih punya orang tua. Tapi, saya belum bertemu Laura lagi. Beberapa minggu ini saya harus mengurus saudara saya di rumah sakit. Saudara saya suami istri, keduanya kecelakaan," jelas ibu panti.
" Laurabersama kami saat ini, ibu jangan khawatir," ucap Papa Birru.
"Iya, ibu tenang saja Laura sehat, boleh kami tahu bu, bagaimana Lauralama di panti asuhan ini? Bagaimana dia bisa disini?" tanya Mama Runi penasaran.
"Tentu, Bu. Saya akan ceritakan keseharian Laura dan bagaimana dia bisa disini," ucap ibu panti.
Ibu panti kemudian menceritakan semua tentang Laura. Papa Birru dan Mama Runi terkadang tertawa mendengar hal lucu tentang Laura kecil. Lalu merasa bangga dengan pencapaian prestasi anaknya.
Semua hal baik diceritakan oleh ibu panti pada kedua orang tua Laura hingga tak terasa hampir satu jam mereka bercerita.
"Saya sangat berterima kasih, Bu. Setidaknya kami bisa tahu bagaimana anak kami melalui hari-harinya, meskipun kami tidak ada didekatnya," ucap Mama Runi setelah ibu panti selesai bercerita.
"Sama-sama, Bu. Saya sungguh senang Shabila akhirnya bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia tidak harus menunggu lagi di jendela itu," ucap Ibu Panti yang menceritakan bahwa Laura sering menunggu dan mengharapkan orang tuanya menjemput dirinya.
Mama Runi mengangguk pelan. Membayangkan sang anak dengan mata berbinar dan penuh harapan duduk didekat jendela menunggu kedatangannya. Sungguh, nelangsa hati Mama Runi.
"Bu, sebagai ucapan terima kasih kami. Kami akan menyiapkan panti asuhan yang layak untuk anak-anak panti ini. Mungkin dua hari lagi siap. Untuk sementara ibu bisa beres-beres dulu. Mempersiapkan kepindahan," ungkap Papa Birru langsung tanpa menanyakan keadaan panti lagi.
Rasanya pertengkaran yang tadi mereka dengar cukup memberikan gambaran tentang apa yang terjadi.
"Surat menyurat tanah dan rumah akan dibuat atas nama panti, Bu. Suratnya ibu yang akan pegang bukan kami," lanjut Papa Birru.
__ADS_1
Ibu panti sampai terkesiap dan menangis terharu. Dia tak menyangka diberi Allah solusi melalui tangan orang-orang baik. Padahal baru sejam yang lewat dia menangis kebingungan.
"Alhamdulillah ya, Rabb. Terima kasih Pak, Bu. Saya tidak tahu mau bagaimana membalas jasa bapak ibu ," tutur ibu panti yang menangis.
"Justru kami yang sangat berterima kasih, Bu. Ibu sudah membesarkan anak kami, Laura," ucap Mama Runi tersenyum penuh haru.
"Ohya, untuk perabotan rumah yang baru akan saya siapkan semua di rumah panti yang baru, Bu. Jadi, cukup bawa barang yang sekiranya penting saja. Semua kami siapkan, mulai dari sofa, tempat tidur sampai keperluan dapur," papar papa Birru.
Ibu panti mengangguk senang Dan sangat bahagia.
"Lusa, pegawai saya akan kesini. Membawa ibu dan anak-anak pindah ke tempat baru," putus Papa Birru.
Ibu Panti mengucapkan terima kasih lagi. Bahkan berkali-kali terima kasih. Kemudian setelah mengobrol cukup lama, Mama Runi dan Papa Birru pamit.
Sore itu, Ibu Panti dan anak-anak panti diberi kejutan. Mereka dijemput oleh pegawai Papa Birru dan menginap di hotel bintang lima. Mereka makan malam beramai-ramai di hotel. Anak-anak panti asuhan sungguh senang.
Sementara Mama Runi dan Papa Birru sudah kembali ke rumah sakit.
Nenek kakek muda ini sudah sangat rindu pada cucunya dan anak mereka. Padahal hanya dua jam mereka keluar.
"Assalamualaikum, Dayyan. Cucu kakek, anteng banget kamu. Udah kenyang ya?" sapa Papa Birru yang menyapa Dayyan didalam inkubator.
"Wa'alaikumsalam, kakek. Dayyan udah mimik cucu ya. Iya ya? MasyaaAllah gemesnya cucu nenek," sahut mama Runi ikut memandangi sang cucu.
Sementara Dayyan hanya menggeliatkan tubuhnya. Bibirnya yang mungil membentuk huruf O. Sungguh menggemaskan.
"Apa? Mau denger kakek mengaji ya? Dayyan mau hafiz Al-Qur'an juga seperti kakek?" tanya Mama Birru terkekeh sendiri. Kedua nenek kakek itu berlomba mengartikan gerakan mulut cucunya.
"Nenek juga pinter ngajinya. Hafal juga Al-Qur'an. Hayo, sambung ayat aja sama nenek ya. Dayyan dengerin ya, kalo sudah denger, nanti bobok anteng ya," papar kakeknya.
Kedua nenek kakek muda itu sama-sama tersenyum. Dimulai dari Papa Birru membacakan surat Alfatihah, lalu disambung Mama Birru membacakan surat Al-Ikhlas, disambung lagi surat Alqadr dan surat Ali Imran. Empat surat yang sangat baik diperdengarkan untuk bayi yang baru lahir.
Sementara Laura ikut mendengarkan dari sudut ruangan. Hatinya sungguh terharu. Dia tidak pernah membayangkan dan berekspektasi tinggi. Dia hanya berharap bisa bertemu orang tuanya selama ini. Tapi, saat tahu keluarganya adalah orang-orang yang taat pada agama sungguh Laura merasa sangat beruntung.
Dayyan tertidur pulas. Lantunan ayat-ayat suci Alquran membuat bayi mungil ini tersenyum dalam tidurnya.
"Sayang, ayo mama bantu naik ke brankar," ucap Mama Runi saat melihat Shabila masih duduk di kursi rodanya.
bersambung......
next mau tau kelanjutan ceritanya jangan lupa dong follow, komen, ulasan, dan serta like nya. jangan pelit pelit loh.
__ADS_1