TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Di Usir Dari Rumah Tante Sri


__ADS_3

Laura menelan ludahnya dia tak bisa berkata-kata apa lagi. Kakinya kembali mundur ke belakang, jantung Laura sudah berdebar hebat. Dia sendirian dan terdesak. Hanya pertolongan Allah yang Laura harapkan. Lantunan doa Dzun nun dibaca Laura tanpa suara.


لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ


  laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimii


artinya : tidak ada Tuhan yang berhak di sembah kecuali engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang teraniaya.


Tante Sri dan Om Herman maju selangkah Masih keheranan melihat perut Laura.


"Ternyata kita memelihara gadis mu-rahan!" cecar Om Herman yang memasang wajah sangar.


"Jadi, ini adalah hasil kamu ju-al diri kamu Laura heh! Kegiatan kamu selain sekolah ternyata seperti ini ya!" hardik tante Sri dengan mata melotot marah dan jari telunjuknya menunjuk perut Laura


Laura menggeleng lemah dengan berderai air mata, tangannya refleks memegang perutnya. Seperti gerakan seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.


"Siapa bapak dari bayi ini? Jawab Laura?" geram Om Herman


"Siapa, Ra? SIAPA?!" jerit Tante Sri.


" Laura tidak menjual diri Om dan Tante. Laura dipaksa, Laura tak sanggup melawan waktu itu," suara Laura bergetar dan terputus-putus.


" alah mana ada maling mau ngaku!!! Kalo maling ngaku, penuh penjara tau nggak!" seru Om Herman.


"Dasar wanita murahan, wanita ****** dirimu sudah mengotori rumah kami saja! Cuih... kamu memanfaatkan kebaikan kami selama ini, bersembunyi di sini ya," geram Tante Sri.


"Ini baju buat kamu, wah... bagus-bagus banget ya! Pasti mahal nih! Mana mungkin ada yang memberi ini, kalo kamu nggak menawarkan tubuh kamu!" sembur Om Herman sambil menunjuk baju-baju baru yang dibelikan Adrian tadi.


" Laura nggak seperti yang kalian duga Saya tidak serendah itu, Om... Tante, sungguh!" lirih Laura lemah.


"Kita nggak percaya kamu! Mulai malam ini kamu pergi dari rumah ini !" putus Om Herman sambil jarinya menunjuk arah luar.


"Satu lagi jangan kembali ke panti asuhan, kasihan keluarga saya harus memelihara gadis murahan seperti kamu!" cecar Tante Sri.


"Terserah kamu mau tidur di kolong jembatan, di jalan atau goa sekali pun. Kita nggak peduli, bawa pakaian dari duit haram punya kamu ini," bentak Om Herman yang melempar baju-baju yang tadi dibeli oleh Adrian.


"Saya akan pergi. Tapi, saya tidak terima tuduhan tante dan Om. Saya hamil bukan karena saya gadis murahan!" ucap Laura tetap berusaha membela harga dirinya.


"Oh, masih berusaha membela harga diri, heh! Benar-benar gadis kurang ajar kamu ya!" hardik Om Herman

__ADS_1


Tante Sri melangkah maju ke depan dan menarik tangan Laura dengan paksa hingga keluar dari rumah.


"Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah kami lagi! Bikin sial aja kamu ini, huh!" usir tante Sri sementara om Herman berdiri di pintu dengan wajah sangar.


" Laura akan pergi tapi tolong kembalikan buku-buku sekolah saya!" Laura tetap berusaha tegar.


Tubuhnya sudah berada di halaman rumah, angin malam mulai terasa menusuk tubuhnya yang tak berhijab.


"Ambil Mas, semua barang dia yang nggak berharga itu! Ngapain juga menyimpan barang gadis pembawa sial ini!" pekik tante Sri.


"Tunggu, saya ambilkan!" jawab Om Herman kembali masuk ke dalam.


Laura berdiri di luar, sedang Tante Sri berdiri tak jauh dari Laura. Matanya melotot tajam ke arah Laura, sementara Laura pikirannya sudah menerawang jauh. Ke mana malam ini kakinya harus melangkah?


Tak lama, Om Herman melempar baju-baju yang tadi dibeli beserta kantong paper bag. Shabila bergeser ke kiri dan ke kanan menghindari lemparan baju.


"Ambil tuh semua barang kamu!" hardik Om Herman sementara wajah tante sri terlihat marah dan dia mendengus kesal.


Laura menghapus air matanya, dia berjongkok dan memungut berbagai baju yang tadi dibeli. Lalu memasukkan ke dalam kantong belanjaan.


Tak ada yang mendengar suara mereka, baik jeritan Tante sri ataupun hardikan Om Herman Apalagi tangisan Laura yang pilu tenggelam tak terdengar di antara tembok-tembok tinggi rumah elit.


"Nih buku-buku kamu!" seru Om Herman melempar buku-buku dan tas sekolah.


Laura dengan cepat memungut buku-buku pelajarannya. Mengecek jumlah dan buku apa saja. Apakah ada yang kurang atau tidak.


"Alah! Nggak perlu kamu cek lagi! Kami orang kaya nggak mungkin mengambil keuntungan dari kamu yang nggak punya apa-apa. Udah miskin nggak punya harga diri lagi!" cibir tante Sri.


Laura tetap diam dia masih berjongkok, memungut barang-barangnya.


"Awww!" jerit Laurayang terkena timpukan tas sekolah. Tangan Laura refleks memegang bahunya yang kena timpukan.


"Tuh barang kamu. Cuma ada tas sekolah dan beberapa baju lusuh kamu! Habis, udah nggak ada lagi," sembur Om Herman tanpa rasa iba.


"Dih, gitu aja kesakitan! Ayo Mas, kita masuk ke dalam rumah," ajak Tante Sri.


"Ada apa ini?" seru suara Adrian yang iseng-iseng lewat jalan arah rumah tempat Shabila tinggal.


Adrian mengikuti nasihat Laura untuk sholat dulu di masjid. Tadinya dia mau lewat jalan satunya, tapi kemudian dia berubah pikiran. Adrian memilih pulang lewat jalan pertama.

__ADS_1


Saat Adrian lewat, sengaja kaca jendela mobil dibuka, tapi dia mendengar suara ribut-ribut dari rumah tempat Shabila tinggal. Saat Adrian menoleh, dia terkejut ternyata Shabila sedang di luar.


"Heh, siapa pula kamu!" hardik Om Herman Suami istri itu urung masuk ke dalam rumah saat melihat ada pemuda yang datang.


"Oh, lihat mobil itu, Mas itu mobil yang tadi mengantar Laura pulang!!," celetuk tante Sri.


"Saya Adrian Laura elu baik-baik aja kan?" tanya Adrian khawatir melihat keadaan Laura.


Laura mendongak melihat wajah Adrian. Melihat Adrian khawatir padanya, hati Laura terharu.


"Duh... seperti Romeo dan Juliet tapi ini versi KW nya!" cibir tante Sri sambil ketawa


"Lihat tuh perutnya Laura! Jangan-jangan kamu yang menghamilinya! Dasar remaja nakal kalian ini!" hardik Om Laura bercakak pinggang.


Adrian tak menggubris ucapan Om Herman dan Tante Sri, Adrian ikut berjongkok dan memunguti barang Laura


"Ayo, Ra Kita pergi dari sini," ajak Adrian mengangguk pada Laura


Tak ada pilihan, Laura mengangguk setuju ini sudah malam, Laura tak berani naik kendaraan umum sembarangan. Bersyukur Allah kirimkan penolong lewat Adrian.


"Iya, pergi cepat sana! Dari tadi kek, bikin kotor rumah orang aja," gerutu Tante Sri sambil bersedekap dada.


"Jangan lama-lama. Cepat pergi sebelum pagar saya tutup!" usir Om Herman sambil tangannya menunjuk pagar.


Mereka berdua keluar dalam diam. Ingin berpamitan mengucap salam tapi bibir Laura keluh. Tak


Laura dan Adrian berdiri. Adrian membawa tas dan buku-buku. Sementara Laura menenteng kantong-kantong paper bag berisi baju.


Ada suara lagi yang bisa dia keluarkan.


Setelah Laura dan Adrian berada di luar pagar. Om Herman dengan cepat menutup pintu pagar dan menguncinya.


"Ingat, jangan pernah lewat sini lagi apalagi masuk rumah sini! Saya tidak sudi melihat wajah kalian lagi!" tekan Om Herman


Adrian tak menggubris sementara Laura hanya tertunduk pilu Laura mengikuti gerakan Adrian ke arah mobil. Adrian membuka pintu belakang mobil dan memasukkan semua barang milik Laura.


bersambung......


jgn lupa follow, like, dan komen nya klw da salah tolong bantu di perbaiki ya sahabat novel saya🥰

__ADS_1


__ADS_2