
Mereka akhirnya sampai beberapa rumah sebelum rumah Farida. Adrian menghentikan mobilnya. Melihat suasana depan rumah besar itu yang tampak sepi.
Adrian mengambil hapenya. Dia menekan tombol panggilan telepon.
"Dit, gue udah sampai di lokasi. Elu dimana?" tanya Adrian di telepon.
"Gue juga udah sampai bareng Rvan. Kita naik mobil sewaan kesini," jawab Dedi.
"Gue juga sama. Mobil gue yang warna silver di depan rumah pagar putih," jelas Adrian.
"Gue tepat disebelah rumah perempuan nggak tahu diri itu. Dibawah pohon jambu," sahut Dedi.
"Oh iya, gue lihat mobil lu. Gimana selanjutnya?" tanya Adrian.
"Elu kan tahu jalan rahasia masuk rumah ini. Kita lewat situ lagi," usul Dedi.
"Oh, oke. Elu berdua kesini kalo gitu. Jalannya ada disamping rumah kosong disebelah sini," papar Adrian.
"Oke, tunggu. Kita ketemu di jalan kosong itu. Elu duluan kesitu. Kita nyusul," perintah Dedi
"Oke, Bro," sahut Adrian menutup teleponnya.
Adrian kembali melihat situasi sepi tak ada orang yang lalu lalang Bahkan mobil lewat pun tak ada.
"Ra, inget omongan gue ya. Jangan keluar dari mobil. Kalo elu lapar, makan aja. Kalo lu haus minum aja, oke!" cetus Adrian.
"Tunggu dulu. Elu mau ke mana ?" tanya Laura bingung.
"Gue nggak ke mana-mana. Cuma mau mengintai ke rumah tuh penipu. Nggak lama kok. Tunggu ya," ucap Adrian yang segera keluar tanpa mendengar ucapa Laura lagi.
Laura yang tadinya meminta Adrian mengurungkan niatnya tak bisa lagi bicara. Dia hanya menghembuskan nafasnya. Lalu menggelengkan kepala saat melihat Adrian keluar dan berjalan dengan cepat masuk ke balik jalan sempit disebelah rumah kosong.
"Semoga elu baik-baik aja, Rian," harap Laura yang melihat Adrian sudah hilang dari jalanan sempit tertutup semak belukar.
Sementara Adrian segera mematikan suara hapenya dan mengubah jadi mode senyap.
[Bro, gue udah nunggu diujung jalan. Aman sampai sini] Adrian mengirim pesan pada Dedi.
"Van, ayo gerak. Nih Rian udah kirim pesan," ucap Dedi menunjukkan pesan Adrian pada Revan.
__ADS_1
"Gue deg-degan gila! Elu yakin sama tindakan kita ini," sahut Revan yang wajahnya sudah tegang.
"Yae lah, bro! Ngapain mesti takut sih! Bokap lu pengusaha, bokap gue pengusaha plus pejabat, bokap Rian pengusaha. Gampang kita mah, zaman sekarang duit bisa bicara. Apa yang elu takuti sih," omel Dedi.
"Tetep aja cemas, Bro!" sungut Revan.
"Ah, cemen lu. Deking kita kuat, santai aja! Kecuali kita miskin, nggak salah aja kita bisa jadi salah. Apalagi kalo salah habis dah," papar Dedi sambil bersiap-siap.
Kali ini Dedi membawa tali, tas kain yang dia lipat dan hape yang suaranya pun sudah dimatikan.
"Bro, untuk apaan itu?" tanya Revan.
Baik Revan maupun Adrian sebenarnya tak tahu rencana pasti Dedi.
"Cuma buat jaga-jaga. Kita nggak tahu apa yang terjadi didalam," Jelas Dedi.
"Elu jangan bertindak gegabah ya. Gue ngeri," cemas Revan.
"Ck, takut amat sih lu! Udah santai aja. Ayo, turun," ajak Dedi yang melihat keadaan luar lewat kaca mobil yang gelap lalu membuka pelan pintu mobil.
Ivan yang hatinya cemas, mau tak mau demi persahabatan mengikuti langkah kaki Dedi. Dia mengikuti Dedi dengan jarak beberapa langkah.
"Gue ngapain sih sampe kesini lagi, seharusnya gue ngotot aja tadi minta turun sama Adrian. Kalo gini, gue jadi cemas sendiri. Semoga nggak terjadi hal yang nggak menyenangkan didalam sana," cemas Laura
Lauraa segera mengatur posisi kursinya agar sandaran kursi sedikit kebelakang. Dia akan beristirahat. Pinggangnya mulai sering nyeri.
"Sabar ya, Nak. Kita disini dulu sebentar. Ibu juga capek banget, kita tiduran aja disini ya." ucap Laura sendiri sambil mengelus perutnya yang terlihat membesar jika sedang tiduran.
"Pasti asyik banget kalo kamu udah lahir. Ibu nggak bakal sendirian lagi. Ibu udah ada kamu. Kita akan selalu berdua nggak akan ada yang bisa pisahkan kita. Ibu harap kamu nggak mirip wajah dia." Laura masih berbicara sendiri.
Berusaha mengusir kebosanan dengan berbicara pada bayi dalam kandungannya.
Sementara di jalan belakang. Adrian, Dedi dan Revan sudah bertemu. Mereka berbisik dan saling berembuk.
"Kita cuma mengintai kan, Bro?" tanya Adrian.
"Lihat situasi, Bro. Jujur gue pengen lebih dari mengintai. Gue pengen bikin perhitungan dengan mereka," jujur Dedi pada kedua temannya.
"Gue nggak ada keberanian, Bro. Emang rencana lu apaan sih?" bisik Revan.
__ADS_1
"Kita ambil apa yang sudah mereka ambil dari kita," usul Dedi.
"Gue sebenernya pengen melakukan itu juga, Bro. Tapi, apa nggak bahaya buat kita?" tanya Adrian bicara lamat-lamat.
"Iya. Gimana kalo mereka lapor polisi, Bro?" timpal Rean berbisik.
"Kartu AS mereka ada di tangan kita. Elu punya rekaman tentang mereka, Rian. Gue dan Revan juga udah merekam banyak tadi. Kalo mereka macem-macem. Kita bisa ancam mereka, iya kan?!" Jelas Dedi
Adrian dan Revan terdiam. Mereka sedang menimang masak-masak ucapan Dedi.
"Bro, orang tua kita tuh pengusaha, Bokap gue pejabat. Nggak akan ada masalah ke depannya. Percaya sama gue," ucap Dedi meyakinkan kedua temannya.
Melihat keduanya masih diam, Dedi sampai berdecak kesal.
"Elu pegang kain ini, Rian," ucap Dedi memberi Adrian tas kain.
Sementara Adrian mengernyit bingung diberi tas kain dari Dedi
"Nah, elu pegang tali ini, Van," tambah Dedi ke Revan. Revan pun hanya melongo bingung.
"Ini apaan, Bro?" tanya Adrian sambil menunjuk tas kain.
"Kita bakal ambil barang yang mereka ambil dari keluarga kita. Kalo sampai ketahuan kita ikat mereka," jelas Dedi.
Ivan dan Adrian melotot terkejut. Mereka terdiam antara ingin melakukan karena sakit hati tapi juga ketakutan.
Sementara Dedi kakinya melangkah ke semak-semak mencari batang kayu besar dan kuat.
"Nah, dapat!" cetus Dedi senang mendapat kayu yang pas sesuai keinginannya.
"Bro, itu untuk apaan?" tanya Revan pelan.
"Untuk berjaga-jaga aja. Kita nggak tahu mereka didalam punya senjata apa. Kita harus siap kalau ketahuan," papar Adrian sambil menimang-nimang berat kayu ditangannya.
Revan dan Adrian menelan ludahnya. Apa yang mereka lakukan ini, tentu saja berbahaya. Tapi, rasa sakit hati pada kedua orang yang sudah menghancurkan keluarga mereka, membuat pikiran Adrian kacau dan tidak bisa berpikir jernih.
Sementara Revan, atas nama persahabatan mereka, dia akan ikut saja.
"Ayo, Bro. Kita bergerak! Sebentar lagi magrib, mereka pasti lengah," ajak Dedi menganggukkan kepala kembali meyakinkan teman-temannya.
__ADS_1