TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Rahasia


__ADS_3

Laura dan Adrian saling pandang. Mereka terperangah dengan apa yang mereka lihat.


Adrian terpana karena dia mengenal kedua orang yang ada di teras belakang. Sementara Laura terpana karena melihat perubahan Farida, sekretaris Papanya Adrian.


Laura sebenarnya ingin bertanya siapa laki-laki yang bersama Farida, tapi Laura takut ketahuan jika dia bersuara. Dia memilih diam dan melihat ke arah teras.


Laura dan Adrian memasang telinga mereka. Lalu Adrian mengeluarkan ponselnya, menekan tombol kamera dan rekam.


"Hahaha... emang bego kedua suami istri itu," tawa seorang laki-laki yang duduk di sebuah kursi.


"Apalagi si tua itu, jijik gue. Untung duitnya banyak, hahaha," ucap Farida dengan tawa berderai. Farida kemudian ikut duduk di kursi teras dengan kaki naik ke atas meja.


" ya, iyalah lu gak lihat apa pengen ke toko perhiasan, eh di jalan tuh bapak tua di telepon sekretaris dia yang satunya ada rapat gitu. Ya udah, dia janji besok juga nemenin belanja," cebik Farida kesal.


"Berapa sih yang sudah kita kumpulin dari mereka? Apa sudah dihitung?" tanya si laki-laki.


"Lumayan. Bisa untuk kita foya-foya lima tahun ke depan," ucap Farida sambil menggaruk perutnya yang gatal. Baru saja dia melepas bantal hamil dari perutnya.


"Berarti kita harus keruk lebih banyak. Masak cuma untuk lima tahun doang. Badan gue nggak semurah itu," desis si laki-laki.


"Ya iyalah. Elu nggak lihat apa pengen ke toko perhiasan, eh di jalan tuh bapak tua di telepon sekretaris dia yang satunya ada rapat gitu. Ya udah, dia janji besok juga nemenin belanja," cebik Frida kesal.


"Berapa sih yang sudah kita kumpulin dari mereka? Apa sudah dihitung?" tanya si laki-laki.


"Lumayan. Bisa untuk kita foya-foya lima tahun ke depan," ucap Frida sambil menggaruk perutnya yang gatal. Baru saja dia melepas bantal hamil dari perutnya.


"Berarti kita harus keruk lebih banyak. Masak cuma untuk lima tahun doang. Badan gue nggak semurah itu," desis si laki-laki.


"Ya iyalah. Elu nggak lihat apa pengorbanan gue bela-belain pura-pura hamil biar si tua nikahin gue. Setelah nikah dia harus tanda tangan surat pengalihan harta," sahut Farida.

__ADS_1


"Iya, Kak. Gue nggak mau balik ke kehidupan kita yang susah," ujar si laki-laki.


"Lu tenang aja, Niko. Om satunya yang dulu suka sama gue, ada nih menghubungi gue lagi. Kayaknya dia belum move on dari gue. Target selanjutnya Om Basuki, hahaha," tawa Farida lagi.


"Basuki yang mana? Pejabat itukah? Lebih kaya mana sama Om lu yang sekarang, Kak?" tanya Niko.


"Iya, yang anaknya pernah hampir nabrak lu gara-gara ugal-ugalan di jalan, si Dedi," papar Farida sambil mengambil ponsel di atas meja.


Adrian ternganga begitu juga Shabila. Mereka berdua tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar.


Adrian sampai mengepalkan tangannya, benar-benar terkejut mendengar pernyataan Farida dan Niko.


Laura sampai harus menutup mulutnya yang ternganga sangking terkejut mendengarnya.


Farida bukan hanya menjalin hubungan dengan Papa Adrian, ternyata dia juga pernah menjalin hubungan dengan Papa nya Dedi.


"Oh, anak yang sombong satu itu. Bapaknya putus sama elu gara-gara dia hampir mengiris pergelangan tangan itu ya?" tanya Niko sambil menghisap rokoknya.


"Gue setuju, Kak. Ambil aja bapaknya, biar dia nggak sombong lagi. Sebel gue lihat wajah sombongnya!" cemooh Niko yang kesal dengan Dedi.


"Iya, sabar aja. Kita buat tarik ulur dulu, biar dia makin penasaran sama gue. Untuk sementara, biar kita fokus ke suami istri tua ini dulu," papar Farida.


"Oke, gue nurut aja kak," putus Niko setuju.


"Bibi... tolong bawain makanan, lapar nih," jerit Farida dari teras rumah.


"Iya, Non?" tanya Bibi yang datang dari dalam rumah.


"Bawain makanan ke sini ya, sama buah juga. Ohya tas yang tadi saya bawa tolong bawa ke sini," perintah Farida.

__ADS_1


"Baik, Non," Bibi mengangguk patuh.


"Bi, sekalian bawain kopi ya," pinta Niko.


"Iya, Den. Bibi permisi masuk dulu," izin Bibi.


Niko tidak menjawab tapi hanya memberikan kode dengan tangannya yang mengayuh menandakan dia menyuruh si Bibi melaksanakan perintahnya. Si Bibi segera berbalik arah dan masuk ke dalam rumah.


"Kak, ngapain ambil tas? Elu dapat tas baru dari si Om? Mau pamer sama gue ya?" cibir Niko.


"Dih, kalo cuma tas bermerek mah, ngapain gue pamer ke elu. Gue penasaran, si Om ngasih gue berkas gitu tadi di mobil, nggak tahu apaan. Ini gue mau lihat," jelas Farida masih tetap main ponselnya.


"Oh, begitu. Gue jadi ikut penasaran," sahut Niko.


Tak lama si Bibi datang membawa makanan dan minuman. Lalu masuk kembali ke dalam rumah dan kembali membawa sebuah tas.


"Okey, Bibi boleh balik kerja," ucap Farida yang mengambil tasnya dari tangan si Bibi.


"Baik, Non," ucap si Bibi patuh. Bahkan tak ada ucapan terima kasih dari Farida.


Si Bibi segera kembali masuk ke dalam rumah.


Farida segera membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map warna biru. Niko hanya memperhatikan gerakan kakak kandungnya.


Mereka berdua adalah dua bersaudara kandung. Hidup dengan latar belakang penuh kekurangan membuat mereka gelap mata. Farida sudah menjadi simpanan seorang Om-om semenjak muda. Dia bahkan sekolah dan kuliah dibiayai seorang laki-laki.


Hingga akhirnya dia bekerja di perusahaan tempat Papa Adrian. Melihat kakaknya yang terlihat enak bisa membeli ini dan itu, tanpa capek bekerja keras. Niko akhirnya mengikuti jejak sang kakak.


"Wow, gue diberi butik nih sama si Om," jerit Farida senang menunjukkan sebuah surat kepemilikan sebuah butik atas namanya.

__ADS_1


"Mana... gila, keren lu!" seru Niko menarik map dan membacanya.


"Ah, tapi lu lihat nilai asetnya cuma dua milyar. Kecil banget," cibir sang kakak.


__ADS_2