TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Di temukan Sang penculik


__ADS_3

Kedua saudara kandung penipu itu terlihat semakin ketakutan. Mereka berdua makin melangkah mundur ke belakang.


"Kalian harus segera mengosongkan rumah ini. Kami tunggu dua jam dari sekarang. Cukup bawa pakaian kalian!" seru orang berpakaian putih.


"Ta... tapi kenapa?" tanya Farida terbata.


"Rumah ini sertifikatnya masih atas nama pemilik yang sah dan ada di tangan kami. Kalian bukan pemilik rumah ini," papar orang tersebut.


Kedua adik beradik itu memperhatikan surat yang ada di tangan orang berbaju putih. Seharusnya surat itu aman tersimpan di brankas mereka.


Farida dan Niko sempat mendebat kalau surat-surat dan barang berharga mereka telah dicuri. Namun percuma, Farida dan Niko tak berkutik saat melihat dua orang berbadan kekar dibelakang orang berbaju putih yang ternyata utusan Papa Adrian.


Mereka berdua segera mengemas pakaian mereka, Niko menjerit kesal dan marah saat berkemas sementara Farida menangis tersedu-sedu. Mereka tak tahu setelah ini mereka harus kemana.


Fraida turun dari undakan tangga dengan pelan. Melihat dan menatap dengan lamat segala sudut rumah. Kemewahan yang harus mereka tinggalkan.


Namun, saat mereka sampai di pintu utama, sebuah kejutan lain menunggu. Polisi sudah berdiri di depan pintu.


Mereka berdua sudah dilaporkan dengan kasus penipuan. Apalagi tiga sekawan punya bukti kuat, sebuah berkas yang disiapkan Farida untuk pengalihan aset orang tua Adrian ke Farida.


Nasi sudah menjadi bubur. Mereka berdua akhirnya naik ke mobil polisi.


***


Pagi ini, Tiara pergi sekolah sendiri. Dia melihat pemandangan aneh di sekolahnya. Tak ada mobil mewah yang berjajar di halaman sekolah. Di parkiran berjajar dan terparkir motor-motor tua.

__ADS_1


"Gue salah masuk sekolah enggak ya. Baru hari ini Laura nggak masuk sekolah. Nih sekolah kenapa jadi berubah?" celetuk Tiara sendiri yang keheranan melihat parkiran. Dia kemudian berjalan menuju kelasnya.


"Ra, kok lu sendirian? Mana Laura?" tanya Ikhwan yang sudah lebih dulu di kelas.


" Laura kecelakaan dia nggak bisa sekolah hari ini," ucap Tiara berbohong.


"Hah, serius lu? Gimana ceritanya?" Ikhwan tampak terkejut.


"Hmm... anu gitu maksudnya, hmm... jatuh dari motor gue. Hilang keseimbangan terus kakinya masuk ke selokan gitu. Terus kakinya sakit gitu," ucap Tiara mengarang cerita.


"Ya ampun kasihan banget temen kita. Entar pulang kita besuk ramai-ramai yuk ke panti asuhan!" ajak Ikhwan yang membuat Tiara melototkan mata.


"Aduh, kok nggak kepikiran sejauh itu gue. Gimana kalo ada yang besuk beneran." batin Tiara.


"Eh, Ikhwan nggak usah di jenguk Laura tuh lagi dibawa berobat ke luar kota gitu. Soalnya disini nggak lengkap fasilitasnya. Oh ya itu kok di parkiran nggak ada mobil mewah?" tanya Tiara mengalihkan pembicaraan.


"Wah, pantes nih di hape gue postingan temen-temen kita yang biasanya suka pamer juga hilang. Ck... ck... ck... ternyata," decak Tiara yang tak menyangka semua kemewahan yang selama ini ditampilkan hingga rakyat biasa seperti mereka silau saat melihatnya ternyata didapat dari hal yang tak halal.


"Yah gitu deh... Kalo duit bapaknya nggak halal," cetus Ikhwan.


Tiara hanya mengangguk setuju. Setidaknya, Tiara bisa menarik sebuah kesimpulan. Bahwa kita tidak usah insecure dengan kemewahan yang diperlihatkan orang. Tetap bersyukur apapun yang diberikan oleh Allah


Tak lama, Adrian tampak melangkah masuk ke kelas. Tiara yang melihat Adrian datang segera berjalan cepat ke arah Adrian dan menarik tangannya keluar kelas.


"Eh, apa-apaan lu! Maen tarik tangan aja!" protes Adrian yang terpaksa mengikuti langkah kaki Tiara.

__ADS_1


"Diem lu! Ikut gue!" tegas Tiara yang membawa Adrian ke tempat sepi.


Sementara Ikhwan yang ditinggal Tiara di kelas merasa cemburu. Dia sudah lama menaruh hati pada Tiara.


"Rian, lu mikir nggak dampaknya apa kalo Laura nggak masuk sekolah karena kecelakaan?" tanya Tiara.


"Apa? Kan biar bisa punya alasan nggak ikut pelajaran olahraga dan nggak dipanggil ke depan kelas," jawab Adrian enteng.


"Eh, maksud gue gimana kalo guru dan teman-teman jengok Laura besok?" tutur Tiara.


"Hmm... Gue pikir Laura gak mungkin di jenguk sih, Kan orang-orang taunya dia tinggal di panti. Lagi pula Laura nggak terlalu diperhatikan murid lain karena statusnya yang cuma anak panti," papar Adrian tak enak.


"Ya ampun, Rian. Elu lupa Laura tuh murid paling cerdas di sekolah ini sudah puluhan piala yang berjejer di sekolah siapa penyumbangnya. Laura penyumbangnya tau nggak! Dia memang bukan anak orang kaya kayak kalian, tapi otaknya lebih kaya dari kalian," rutuk Tiara kesal.


"Ya, maaf. Entar gue cari cara lagi deh biar orang-orang nggak jadi jenguk Laura," sahut Adrian.


Bukkk!


"Aduh, sakit Ra. Bar-bar banget sih lu jadi cewek," jerit Adrian yang kakinya ditendang Tiara.


"Syukurin lu gue yang mewakili Laura hari ini. Biasanya juga elu kan di pukul Laura," cibir Tiara.


"Iya cukup Laura aja. Elu jangan ikut-ikutan," rutuk Adrian yang mengelus kakinya yang sakit.


"Biarin, wekkk!" cibir Tiara segera berlari meninggalkan Adrian kembali ke kelasnya.

__ADS_1


Hari ini di sekolah mereka bahkan ada beberapa teman mereka yang tak masuk sekolah termasuk Dedi. Sepertinya masalah keluarga Dedi belum selesai.


__ADS_2