
Semenjak hari di mana Adrian melihat Mamanya bersama seorang laki-laki, semenjak itu Adrian menghilang. Dedi dan Revan ikut-ikutan menghilang. Tiga sahabat itu kembali bersama.
Dedi dan Revan menemani Adrian ke mana pun pergi. Empat bulan Adrian menghilang hingga membuat heboh sekolah.
Orang tua ketiganya menekan pihak sekolah agar tetap menganggap anak mereka masuk sekolah.
"Pokoknya kami tidak mau tahu bagaimana cara sekolah ini! Saya hanya mau anak saya tetap bisa sekolah dan mengikuti ujian akhir!" tekan Papa Dedi saat di ruang kepala sekolah.
Mereka hari ini diminta datang ke sekolah untuk kesekian kalinya karena ketiga anak mereka yang tak ada kabar dan tak tahu kapan akan sekolah.
"Iya, dan jaminan lulus untuk anak kami!" Papa Adrian ikut menimpali.
Kepala sekolah yang hanya sendiri tampak terdesak berhadapan dengan tiga pasang orang tua di hadapan dirinya.
Orang tua Dedi adalah pejabat sekaligus pengusaha, Orang tua Adrian adalah pengusaha sukses, sementara Orang tua Revan juga pengusaha di bidang otomotif.
Kepala sekolah terdiam. Dia hanya memandang enam orang di hadapannya yang wajahnya tampak mengintimidasi.
"Kami orang sibuk, Bu! Seharusnya bisa diselesaikan masalah ini lewat telepon saja. Saya permisi dulu, pekerjaan saya masih banyak," ucap Mama Adrian pamit. Dia langsung keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Saya juga pamit. Terima kasih sudah mengundang kami ke sekolah," cetus Papa Revan yang mengangguk hormat lalu keluar ruangan diikuti istrinya.
"Ibu tenang saja, kami akan mentransfer sejumlah uang ke rekening ibu. Kami permisi ya," tutur Papa DDediyang juga keluar bersama istrinya.
"Saya permisi dulu," ucap Papa Adrian yang keluar ruangan terakhir.
Kepala sekolah akhirnya sendirian di ruangannya. Dia menghembuskan nafas lega, meski hatinya gelisah.
Tak lama suara ponselnya berbunyi, sebuah notifikasi masuk. Ketiga orang tua mengabarkan mereka sudah mentransfer sejumlah dana.
Segera kepala sekolah mengecek. Ternyata benar, uang berjumlah ratusan juta masuk ke rekeningnya. Kepala sekolah makin mendesah, bingung memilih. Apakah harus memilih hati nurani atau membiarkan dan menutup mata.
***
Laura melalui hari-harinya dengan tenang. Doa-doanya yang panjang meminta Dedi, Revan, Adrian dan Angel tidak mengganggunya terkabul.
__ADS_1
Ancaman Dedi dulu sepertinya sudah dilupakan Dedi. Dia bahkan tak masuk sekolah. Shabila melalui hari-hari di sekolah dengan normal. Belajar dengan nyaman dan sempat dua kali pergi mewakili sekolah untuk perlombaan matematika dan kimia. Hasilnya dia kembali menjadi juara.
Laura mendapatkan hadiah lomba berupa uang dan piala. Uang diberikan untuknya, sementara piala diminta oleh pihak sekolah untuk dipajang.
Angel tak berani mengganggu karena tak ada Dedi yang mendukungnya. Dia hanya terlihat ketus jika bertemu dengan Laura di sekolah.
Beberapa minggu ini, Tiara tak mengizinkan Laura untuk pulang pergi naik mobil angkot. Tiara membonceng sahabatnya itu setiap hari.
"Ayo Ra, cepetan naik nya!" seru Tiara saat mereka pulang sekolah.
"Iya, ini udah naik loh!" sahut Laura
"Hah, udah naik?" Tiara terkejut dan menoleh ke belakang, melihat Laura yang ternyata benar-benar sudah naik ke atas motor.
"Loh, kapan lu naik Ra? Ringan banget badan lu. Elu punya ilmu meringankan tubuh?" sambung Tiara terkekeh.
Tiara segera menyalakan mesin motor dan melajukan motornya keluar dari sekolah.
"Iya, gue pernah belajar ilmu kanuragan, percaya lu," Laura ikut terkekeh.
"Laura, badan lu nggak ngembang ya, padahal udah lima bulan loh," celetuk Tiara saat di jalan.
"Iya, gue bersyukur banget nggak ngembang kayak donat! Nggak kelihatan ya," ucap Laura yang lega perutnya tak terlalu kelihatan besar. Masih bisa tertutupi oleh baju rompi sekolah dan hijab lebar.
Tiara menghentikan motornya di sebuah taman. Mereka berdua membeli es krim dan duduk di bangku taman.
Kebetulan hari sabtu, Laura libur mengajar. Mereka bisa jalan-jalan dahulu.
"Ra, tapi lu harus ingat nasihat dokter. Katanya bayi lu berat badannya masih di bawah standar. Elu harus banyak makan yang bergizi ," celetuk Tiara sambil asyik menjilati es krimnya.
"Itu kan dua bulan yang lalu, paling sekarang juga udah nambah berat badan dedeknya," kelit Laura
"Bestie, usia kandungan lu udah lima bulan. Tapi, baru sekali diperiksa ke dokter. Kita ke dokter yuk, mumpung ada waktu," ajak Tiara menoleh ke arah Laura yang berada di sampingnya.
"Nggak usah deh. Malu, Ra," lirih Laura yang menghela nafas.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tiara.
"Lu ingat nggak banyak ibu-ibu yang lihatin kita waktu gue cek kandungan. Kayak gue apa gitu. Belum lagi ibu yang duduk di sebelah gue, kayak curiga gitu, nanya suami gue mana," Lauraa terlihat wajahnya sedih dan menunduk.
"Sabar ya, Laura. Entar gue coba cari klinik yang sepi. Biar lu nyaman," ucap Tiara.
"Makasih ya bestie, gue nggak tahu gimana nasib gue ke depannya. Pokoknya gue harus lulus dulu." ucap Laura sambil mengelus perutnya.
"Ra, entar kalo perut lu udah gede gimana? Udah tujuh bulan atau sembilan bulan nanti?" tanya Tiara yang sudah menghabiskan es krimnya.
"Hmm... nggak tahu. Gue cuma berharap si dedek nggak kelihatan. Makanya gue nggak makan daging, nggak makan tepung yang mengandung gluten. Lebih memilih buah biar nggak gendut. Gue lebih memilih kelaparan, Ra. Gue butuh ijazah biar bisa bekerja, lulus sekolah ini," papar Laura
"Tapi, elu pasti laper banget. Elu menyiksa diri lu, Bila. Gue takut lu kenapa-kenapa," ucap Tiara khawatir.
"Alhamdulillah gue sehat. Gue bisa sekolah, bisa mengajar, iya kan? Pokoknya gue mau sekolah sampai lulus!" tekad Laura
"Iya, deh. Gue selalu dukung lu, friend. Kita bakal cari cara agar tak ada yang curiga dengan kehamilan lu ," ucap Tiara mengalah.
"Makasih, bestie. Entar anak gue pasti sayang banget sama lu. Auntie Tiara..." sahut Laura gemas.
"Ah, ponakan gue. Jadi kebayang wajahnya gimana ya?" cetus Tiara yang membayangkan wajah anak Laura sambil melihat langit biru.
"Semoga nggak mirip Adrian. Rasanya tersiksa banget kalo wajahnya mirip dia," celetuk Laura sambil mengelus perutnya.
"Iya, semoga mirip lu. Entah ke mana tuh tiga orang yang nggak tanggung jawab!" Tiara meluapkan kekesalannya.
"Gue sampe sekarang merasa jadi manusia paling bego. Terlalu bucin sama dia. Mengabaikan peringatan Al-Qur'an kalo pacaran itu dilarang," desah Laura.
"Sekarang perasaan lu gimana?" tanya Tiara.
"Gue udah lebih baik. Gue udah mulai bisa menerima takdir gue. Setidaknya, gue sudah mengambil keputusan yang tepat. Gue nggak menggugurkan kandungan," tutur Laura.
"Elu kuat banget, Ra. Gue kagum sama lu," kata Tiara.
Bersambung......
__ADS_1
jangan lupa like dan komen juga follow nya makasih sahabat aq semua......