
"Adrian, sebentar lagi pantai ini mungkin akan ramai. Malu dilihat orang," ucap papanya.
"Lebih malu mana, Pa? Adrian di sini atau kelakuan Mama dan Papa di luar sana?" lirih Adrian menatap sendu Papanya.
Mama dan Papanya terdiam dan menunduk. Kedua orang tua itu menghela nafas. Bingung cara menghadapi Adrian yang keras kepala.
"Kenapa diam? Adrian benar, bukan? Mama dan Papa egois. Kalian sudah menghancurkan perasaan Rian!" raung Adrian.
"Rian, tenang dulu. Kita pulang ke rumah, lalu bicarakan baik-baik," ajak sang Mama berusaha membujuk Adrian.
"Rumah yang mana, Ma? Rumah mama atau rumah Papa? Kalian selama ini jarang pulang, Rian pikir karena sibuk kerja. Tapi, setelah Rian pikir-pikir Mama dan Papa bukan sibuk bekerja. Kalian punya rumah lain, bukan?" cecar Adrian.
"Kamu ngomong apa sih, Rian? Makin ngawur aja! Ayo, pulang!" hardik sang Papa yang mulai tak sabar menghadapi tingkah Adrian.
Tangan sang Papa memaksa tubuh Adrian untuk berdiri dan menyeretnya ke mobil. Pantai mulai ramai. Keluarga mereka yang orang terpandang dan sang Mama seorang ningrat akan malu jika ada bidikan kamera mengarah pada mereka.
Adrian yang tubuhnya sudah lemas, tak dapat melawan tenaga papanya. Dia memberontak sekuat tenaga, tapi tak ayal dia tetap kalah tenaga.
Adrian tak ingin pulang ke rumah lagi, dia benci rumahnya yang besar tapi sunyi. Dia benci melihat pertengkaran orang tuanya di rumah tadi. Dia ingin pergi, tapi tak tahu ke mana hendak berlari.
"Masuk!" seru sang Papa mendorong tubuh Adrian masuk ke dalam mobilnya.
Sang Mama hanya mengekori dari belakang. Rasanya tak tega melihat anaknya diperlakukan dengan keras oleh suaminya. Tapi, mau bagaimana lagi. Adrian memberontak sementara pantai semakin ramai.
"Adrian, Mama akan mengikuti dari belakang ya," kata Mamanya yang terlihat cemas melihat keadaan Adrian.
Adrian tak menggubris. Dia duduk di kursi belakang mobil. Pandangan matanya tetap kosong. Hatinya sakit, tubuhnya lelah setelah mengeluarkan segala emosinya.
Sang Papa menutup pintu mobil, lalu berjalan ke depan, masuk ke dalam mobil dibalik kemudi. Sementara Mamanya melangkah cepat ke mobilnya. Lalu mengikuti arah jalan mobil suaminya.
Sepanjang perjalanan, hanya ada kesunyian. Papanya fokus menyetir, sementara Adrian membuang pandangan ke arah luar kaca mobil.
__ADS_1
Tiba-tiba Adrian mengingat Laura. Gadis yatim piatu yang besar di panti asuhan. Adrian tersenyum getir mengingat Laura.
"Lu beruntung, Laura. Setidaknya elu nggak harus lihat orang tua lu bertengkar apalagi berpisah. Lebih baik tidak tahu sama sekali siapa orang tua, daripada harus berakhir menyakitkan kayak gue." batin Adrian.
Tiba-tiba ponsel papanya berbunyi. Sang Papa mengambil ponsel dari saku celana. Adrian yang berada di bangku belakang, tepat di belakang kursi kemudi Papanya melirik sekilas. Di layar ponsel tertulis nama "Sekretaris Kesayangan".
Mata Adrian melebar membaca tulisan di layar ponsel papanya. Dia menelan ludahnya, nafasnya memburu menahan emosi.
Sang Papa memasukkan kembali ponselnya. Tidak berani mengangkat panggilan telepon. Namun, beberapa saat kemudian ponsel kembali berbunyi. Sang Papa tetap tidak mengangkat telepon.
Panggilan ketiga, Papa Adrian tetap tidak mengangkat telepon. Dia berpura-pura fokus menyetir mobil. Adrian yang sudah tak sabaran, menyambar ponsel dari saku papanya.
Login
Papanya terkejut saat Adrian tiba-tiba mengambil ponsel. Sang Papa menoleh ke belakang, tapi melihat mata Adrian yang menyalang merah, nyali Papa Adrian menciut. Anak laki-lakinya sungguh marah.
Adrian memencet tombol terima panggilan lalu terdengarlah suara seorang wanita yang terdengar lembut dan menggoda.
Adrian hanya diam mendengarkan. Dia mengingat dalam memori, nomor telepon yang tertera di layar ponsel Papanya.
"Sayang, kok diam? Kamu lagi di mana? Oh, atau jangan-jangan lagi sama istri tuamu yang jelek itu?" cibir suara di seberang.
Adrian semakin emosi. Nafasnya sudah memburu.
"Heh, wanita tak tahu diri! wanita Murahan..." Adrian mengumpat panjang lebar hingga menyebutkan semua nama hewan yang ada di kebun binatang. Semua hewan dia absen. Dia tumpahkan seluruh emosi lewat telepon.
Sang Papa menghentikan mobilnya mendadak di pinggir jalan. Menarik ponsel cepat dari tangan Adrian. Mematikan panggilan telepon dengan tergesa.
Wajah sang Papa sudah pias. Dia tertangkap basah langsung oleh anaknya.
Adrian menatap tajam papanya. Sungguh hatinya tercabik. Tak habis pikir dengan kelakuan sang Papa.
__ADS_1
"Rian, Papa bisa jelaskan ini," ucap Papa Adrian gugup.
Adrian diam. Berusaha mengontrol emosinya. Andai laki-laki di hadapannya ini bukan Papanya, sudah pasti saat ini juga sudah dia layangkan tinju ke muka laki-laki yang sudah menyakiti mamanya.
Darah Adrian mendidih. Butuh pelampiasan. Dia ingin menghantam apa pun. Akhirnya, jok mobil menjadi pelampiasan. Adrian memukul berkali-kali jok mobil. Hingga buku tangannya memerah dan mengeluarkan darah. Tangannya terasa sakit tapi lebih sakit hatinya!
"Rian..." Panggil Papanya.
"APA! Mau ngomong apa lu sama gue! Dasar laki-laki pecundang! Elu tuh mestinya sadar, udah tua, udah bau tanah bukannya ke masjid lu malah main gila," Adrian meradang. Tak ada lagi sikap hormat pada Papanya.
Adrian tak lagi menyebut Papa tapi sudah berganti dengan kata lu gue. Wajah Adrian tampak beringas. Dia mulai membenci Papanya.
"Jangan kurang ajar kamu! Saya ini Papa kamu, seharusnya kamu bisa hormat sama Papa!" bentak sang Papa yang ikut meradang.
"Hormat? Kepala keluarga yang bagaimana dulu yang harus gue hormati, hah? Apa lu mikirin gue waktu buat dosa sama sekretaris kesayangan lu itu? Jangan minta dihormati kalo kelakuan lu sendiri nggak pantas dihormati!" berang Adrian.
Darah Adrian mendidih hingga kepala terasa ingin meledak. Dadanya bergemuruh hebat.
"Adrian!" teriak sang Papa tak terima di hardik sang anak.
Anak yang sedari kecil dia banggakan sebagai penerus usaha. Anak yang dia timang selagi kecil, dibesarkan dengan kasih sayang. Karena kesalahannya kali ini, sang anak sampai tega membentak dan menghardiknya. Sang Papa tak terima.
"APA! Nggak usah teriak-teriak! Kuping gue nggak budek!" jerit Adrian.
"Kamu harus bisa terima keputusan Papa! Papa akan menikahi ..." belum selesai sang Papa bicara, Adrian segera keluar dari mobil.
Adrian tak mau mendengar apa pun lagi. Dia benci Papanya. Dia benci wanita penghancur keluarganya. Dia tidak akan tinggal diam!
"ADRIAN! Mau ke mana kamu?" jerit Papanya saat melihat Adrian dengan cepat keluar dari mobil.
Adrian tak peduli. Sebuah angkot melintas. Adrian segera naik mobil angkutan umum tersebut. Untuk pertama kalinya Adrian yang anak orang tajir naik angkutan umum.
__ADS_1
Bersambung.........