
"Gue nggak bisa, Ra. Gue nggak bisa maafin Bokap gue apalagi melupakan," lirih Adrian bicara sambil tetap menyetir dan mengikuti mobil di depannya.
"Nah, nggak gampang kan! Elu harus bisa tempatkan diri lu di posisi orang tersebut sebelum elu komentar. Jadi, omongan lu nggak asal ceplos," papar Laura.
"Maksud lu gimana?" Adrian yang menyetir tak fokus dengan penjelasan Laura.
"Sebelum elu komentar tentang orang lain, coba elu bayangin kalo elu adalah dia. Sakit nggak hati elu kalo di omongin seperti itu? Enak nggak diperlakukan orang seperti itu? Pasti nggak enak kan?" jelas Laura.
"Iya, maafin gue," sahut Adrian mengalah.
"Masih jauh ya tempatnya?" tanya Laura.
"Enggak, paling bentar lagi sampai," jawab Adrian.
"Ohya, Bokap lu jadi sekarang tinggal di rumah perempuan itu?" tanya Laura penasaran.
"Hmm... kadang-kadang aja gue lihat. Bokap gue kadang juga tidur di hotel atau rumahnya yang lain. Pengusaha emang gitu, kadang nggak sempat pulang. Sarapan pagi di Jakarta, makan malam nanti bisa saja di Singapore," papar Adrian.
"Sekretaris Bokap lu berarti selama ini ikut terus dinas ke luar kota dan luar negeri, dong?" ucap Laura
"Iya, benar. Ternyata nggak baik punya sekretaris perempuan kalo harus dinas kerja ke mana-mana berdua," sahut Adrian.
"Iya, kan ada hadisnya kalo rosul melarang kita berduaan dengan wanita karena yang ketiga itu ya setan. Kayak kita ini berdua dalam mobil, sebenarnya nggak boleh,"ucap Laura.
"Elu banyak tahu agama sekarang, Ra. Tapi elu tenang aja, gue nggak bakal macam-macam," ujar Adrian.
"Semenjak kejadian dulu dengan elu, gue jadi banyak merenung dan banyak mendengar ceramah agama," ucap Laura.
Tak lama, mobil papa Adrian terlihat sampai di sebuah rumah besar bertingkat dua.
Adrian menghentikan mobilnya agak jauh dari rumah tersebut. Dia mengeluarkan sebuah teropong dan memantau pergerakan Papanya dari dalam mobil.
"Elu benar-benar udah siap segala peralatan ya?" Laura tampak tercengang.
"Iya, bahkan gue sering ganti mobil setiap hari supaya nggak ketahuan," jujur Adrian sambil tetap meneropong.
"Untung orang tua lu nggak membekukan kartu ATM lu, sampe elu bisa lama banget melarikan diri," balas Laura
__ADS_1
"Iya, gitu deh. Gue merasa mereka udah nggak memperdulikan gue lagi. Mereka cuma berpikir gue pasti hepi asal banyak duit," gumam Adrian.
"Duit bukan sumber kebahagiaan, sih. Tapi, nggak ada duit juga bikin perasaan kadang nelangsa bingung mau gimana," ceplos Laura terkekeh.
"Kok gitu?" Adrian ikut terkekeh melihat Laura yang tetap terlihat ceria.
"Karena kelaparan, nggak ada duit beli beras," Laura ersenyum getir.
"Berarti di dunia ini beneran ada orang kelaparan?" Adrian hampir tak percaya. Dia bahkan suka meninggalkan makanan.
"Ada orang kelaparan. Makanya elu kalo punya banyak duit, sedekah. Tau nggak, sedekah itu bikin bahagia orang yang memberi sedekah itu," tutur Laura.
Adrian langsung menoleh. Mengernyitkan kening heran.
"Sedekah bisa buat bahagia?" tanya Adrian.
"Iya, serius. Kalo nggak percaya nanti kita coba. Kasih duit ke pengemis di jalanan," Laura mengangguk dan menunjukkan wajah meyakinkan.
"Okey, nanti kita coba," Adrian tersenyum antusias. Dia penasaran dengan ucapan Laura.
Adrian kembali fokus melihat rumah punya Farida. Kali ini dia akan mengubah strategi. Apalagi ada Laura yang menemaninya. Setidaknya dia tidak akan bosan di sini.
"Elu salah. Rumah besar dan mobil yang berjajar di garasi itu pasti pemberian Bokap gue. Nggak mungkin punya si sekretaris gatal itu! Kalo dia banyak duit, nggak mungkin mau Ra, sama Bokap gue yang tua!" jelas Adrian.
"Iya, juga ya. Entah dia memang cinta atau cuma pura-pura. Gue nggak bisa menilai orang," Shabila menggedikkan bahunya.
"Udah pasti pura-pura dong, Ra. Dia tahu Bokap gue udah berkeluarga, dia tahu Bokap gue udah tua tapi dia tetap mau. Apa dong namanya kalo bukan perempuan nggak bener! Dia mah mengincar harta Bokap pasti!" papar Adrian merutuk kesal.
"Kayak elu, dong! Pura-pura cinta gue!" sindir Laura terkekeh.
"Gue merasa kayak melempar batu ke dalam air. Akhirnya kena percikan air di muka gue sendiri dengar ucapan lu," pungkas Adrian mendesah.
Sedari tadi dia di sindir laura. Dia tahu dia salah. Tapi, entahlah Adrian tak tahu harus bagaimana.
"Syukur deh kalo lu merasa," cibir Laura.
"Puas banget lu nyindir gue hari ini. Berasa kena balasan banget gue sekarang," desah Adrian.
__ADS_1
"Elu harus tahu kelakuan elu itu jahat ke gue! Apa kabar gue, yang cemas setiap hari kalo ke sekolah. Takut ada yang tahu, Tapi gue bersyukur punya sahabat seperti Tiara, siap siaga untuk gue," tutur Laura.
"Iya, gue jahat! Elu bebas hujat gue, maki gue, marahin gue. Nggak apa-apa. Elu berhak untuk itu. Lampiaskan segala keluhan elu!" ucap Adrian pasrah.
"Oke, kalo gitu. Besok lu harus mulai sekolah!" perintah Laura tegas.
"Kenapa gue harus sekolah? Males gue," tolak Adrian.
"Ck, elu ngomong gue bebas hujat lu, maki-maki lu, makanya elu harus sekolah dong! Masak hari ini aja gue hujat lu. Gue mau hujat elu tiap hari, paham lu," rutuk Laura sambil mengelus perutnya.
Adrian menoleh dan melihat perut Shabila yang membesar saat hijabnya bergeser kesamping.
"Elu ngidam hujat gue ya?" ringis Adrian yang melihat letupan emosi dari mata Laura.
"Bukan cuma ngidam hujat lu. Gue ngidam pengen bikin lu jadi rendang. Enak kali, ya," tekan Laura yang sudah kesal dengan Adrian.
"Seram amat ngidam lu," ringis Adrian.
"Iyalah, elu buatnya nggak pake doa, makanya ngidam gue aneh-aneh ," ceplos Laura.
"Dih, emang orang oh no oh yes pake doa? Mana sempetlah," cibir Adrian.
"Dih, ada doanya. Gue udah baca di buku, ada tata caranya!" sanggah Laura sambil mencibirkan bibirnya.
"Hah... serius, mau gituan ada doanya? Emang fungsinya apa baca doa itu?" tanya Adrian ingin tahu.
"Biar keturunan yang lahir itu jadi keturunan yang soleh dan soleha ," jawab Laura
"Semoga anak lu tetap jadi anak soleh kalo laki-laki, kalo perempuan dia jadi anak soleha" harap Adrian.
"Aamiin. Iya anak gue bukan anak lu!" tekan Laura, Terasa sakit di hatinya saat Adrian kembali mengucapkan kata 'anak lu'.
"Iya... dari gue juga sih sumbernya," ucap Adrian tak enak.
"Rian, gue lagi ngidam sesuatu, elu mau nggak mengabulkan?" tanya Laura. Giginya sudah gemelatuk sangking geramnya dengan Adrian.
"Hmm... boleh. Elu ngidam apa? Entar gue beliin deh," sahut Adrian.
__ADS_1
"Beneran ya? Elu bakal kabulin semua permintaan gue tanpa terkecuali?" tekan Laura.