TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Tanpa Judul


__ADS_3

"Wa'alaikumsalam," Laura dan Tiara kompak menjawab.


Mereka masih berdiri di halaman sampai mobil Adrian tak terlihat lagi.


"Ayo, masuk bestie. Anggap rumah elu sendiri. Jangan sungkan," ucap Tiara tersenyum.


"Makasih ya, Ra. Gue nggak kepikiran tempat lain selain kost elu," jujur Laura .


"Dari dulu gue udah ngomong sama lu bestie, tinggal di kost gue aja ," celetuk Tiara.


"Iya, seharusnya gue dengarkan elu aja ya," sesal Laura yang kembali menghela nafasnya.


"Tunggu ya, gue kunci pintu pagar dulu," kata Tiara yang melangkah ke pagar. Sementara Laura mengangguk dan mulai menenteng tasnya.


Tak lama, kedua sahabat itu masuk ke kamar Tiara membawa buku dan baju milik Laura.


"Elu mandi deh. Entar baru cerita ke gue," celetuk Tiara.


"Iya, eh kayaknya handuk gue nggak sekalian dilempar sama Om Herman. Nggak ada, Ra. Mungkin karena gue gantung dibalik pintu kali ya, nggak ketahuan," ucap Laura membolak balik pakaiannya yang berantakan.


"Jangan panik bestie gue ada handuk baru cadangan nih. Untuk elu aja," sahut Tiara membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah handuk baru.


"Makasih ya, Ra. Sorry gue bakal sering ngerepotin elu ke depannya," lirih Laura.


"Kayak sama siapa aja lu! Udah sono mandi lu," omel Tiara.


"Iya, nih gue pergi," ucap Laura tersenyum.


Masuk ke kamar mandi Tiara, .Laura tertegun sebentar saat sudah masuk ke dalam kamar mandi. Tempat ini mengingatkannya pada kenangan dia pertama kali tahu kalau dia hamil. Tiga testpack sekaligus dan semuanya positif.


Laura menghembuskan nafasnya, berusaha mengusir gusar. Menata pikiran positif.


"Gue kuat, gue nggak lemah! Gue hebat bisa melalui semua ini sudah sampai sejauh ini. Gue pasti bisa!"Laura berusaha menanamkan pikiran positif.

__ADS_1


Setelah merasa lebih tenang, Laura mulai mandi.


"Tuh, bestie. Gue udah atur


lemari gue biar kita bisa berbagi tempat. Elu bisa meletakkan baju-baju lu di sebelah sini ya," ucap Tiara saat Laura sudah keluar dari kamar mandi.


"Makasih ya, Ra. Sampe baju gue aja udah lu lipat," sahut Laura tak enak.


"Yang bersih gue lipat. Tapi, yang kotor kena tanah banyak juga. Tuh udah gue masukkan ke keranjang pakaian kotor," jelas Tiara.


"Makasih ya," Laura terharu dengan kebaikan Tiara.


"Makasih terus lu, bisa ditukar sama voucher gratis ongkir nggak?" ucap Tiara terkekeh.


"Sayangnya nggak bisa, hehehe," Laura ikut terkekeh.


"Ohya, elu punya banyak baju baru, Ra?" tanya Tiara.


"Iya, dari Adrian," jujur Laura


Laura akhirnya menceritakan dari pertemuan tak sengaja dengan Adrian hingga akhirnya dia terusir dari rumah tante Sri.


"Gue nggak bisa berkata-kata lagi. Gue bingung mengomentari yang mana dulu," ucap Tiara yang bengong setelah mendengar cerita Laura


"Iya, gitu deh. Hingga akhirnya gue sekarang di sini. Gue bingung gimana gue mau mengajar les, terus gimana gue jelasin semuanya ke ibu panti," desah Laura


"Serius, bestie. Gue tuh nggak nyangka Adrian punya masalah seberat itu. Gue jadi kasihan sama dia, mana gue tuh jutek banget kalo ketemu dia," ucap Tiara.


"Gue juga nggak nyangka, ternyata harta nggak bisa jadi jaminan buat bahagia," papar Laura


"Iya, kalo nggak dibarengi iman, kayaknya harta malah jadi ujian yang berat ya. Kasihan juga tuh anak, hancur dah keluarganya gara-gara pelakor," ucap Tiara sambil menggelengkan kepala.


"Ra, menurut lu tante TlSri bakal mengadu nggak ya ke ibu panti, soal kehamilan gue? Gue nggak siap, pasti ibu asuh gue kecewa banget," tutur Laura

__ADS_1


"Hmm... bisa jadi iya bisa jadi enggak. Kalo pun dia mengadu, dia pasti menyalahkan elu. Sabar ya Bila, ibu asuh elu kan bijak plus sabar gitu. Elu tenang aja, kalo memang tante Sri mengadu, elu bisa jelasin segalanya ke ibu panti," papar Laura


"Iya, semoga dia nggak mengadu. Mungkin sementara gue nggak usah kasitau dulu ya ke ibu panti kalo gue diusir?" tanya Laura meminta pendapat.


"Nah, itu juga bisa jadi senjata kita. Tante Sri mengusir lu malam-malam. Gue rasa dia juga mikir deh, takut lu ember buka rahasia kelakuan dia ke lu, kalo dia mengadu tentang elu," ucap Tiara berargumentasi.


"Gitu ya? Semoga nggak ada masalah ke depannya. Gue pengen ibu panti tahunya gue baik-baik aja. Kasihan beliau sudah sepuh," lirih Laura


"Iya, semoga beliau nggak tahu masalah ini. Entar juga tante Sri dan Om Herman pasti menuai karma bukan kurma dari perbuatannya," jelas Tiara.


"Iya, gue serahin semuanya sama Allah. Tinggal gue mikir gimana gue mengajar Soni dan teman-temannya. Sayang banget kalo berhenti, Ra. Gaji gue lumayan," ucap Laura


"Hmm... bentar gue pikirin," sahut Tiara tampak berpikir keras.


"Ra, kalo gue mengajar via online kayak pertemuan lewat video gitu, kira-kira mereka mau nggak ya? Lagian perut gue nambah besar. Gue takut ibu-ibu murid gue curiga," papar Laura


"Nah itu, solusinya itu aja bestie. Elu bilang aja, gajinya boleh dipotong lima persen gitu biar mereka tertarik dan tetap mau belajar dengan elu," usul Tiara.


"Hmm... boleh juga tuh. Besok gue bakal coba telepon Mama soni ya. Semoga mereka mau," harap Laura


"InsyaaAllah, mau. Gue yakin juga nih, kalo mereka nggak bakal potong gaji lu. Lima persen mah kecil bagi orang kaya seperti mereka," jelas Tiara.


"Semoga saja, Ra. Gue butuh duit untuk ke depannya. Apalagi ada si kecil nanti, banyak butuh duit kali ya," Laura meringis membayangkan kebutuhan seorang bayi.


"Iya, pasti banyak banget bestie. Elu tenang aja, gue udah beberapa bulan ini menyisihkan duit jajan gue. Entar gue bantu beli perlengkapan bayi," ucap Tiara menenangkan Laura


Laura segera menubruk tubuh, Laura terharu Di antara banyaknya orang yang menyakitinya, Allah kirimkan Tiara sebagai pelipur hati dan penolongnya.


"Makasih ya, Ra. Elu baik banget. Pantes elu jajan agak sedikit sekarang. Gue pikir elu kenapa jadi hemat jajan kayak gue," harus Laura yang menyeka air mata.


"Aelah, lu. Jangan nangis dong. Gue cuma mau ponakan gue pakai baju dari gue. Rasanya bangga banget kalo ponakan gue pake baju dari gue," papar tiara


"Tetap elu bestie dan auntie terbaik buat anak gue, Makasih banget bestie gw. " lirih Laura.

__ADS_1


"Iya, deh. Eh, ada mangga nih. Elu mau makannya malam ini nggak? Kebetulan ada kacang dan gula aren di belakang. Kalo lu mau rujak, ayo kita buat," ajak Tiara.


"Boleh, deh. Biar mood gue balik lagi," ucap Laura tersenyum.


__ADS_2