
"Ada apaan?" tanya Adrian bingung.
"Gue sama Ivan menguntit dua penipu itu. Tadi sepulang sekolah, tuh perempuan sama Bokap elu. Sekarang dia lagi sama Bokap gue di cafe," jelas Dedi.
"Apa! Ah, dasar perempuan nggak tahu diri!" umpat Adrian.
"Eh, tunggu Rian. Mereka mau keluar dari cafe. Entar gue kabari lagi. Ikuti arahan gue ya. Hari ini kita bergerak," perintah Dedi.
"Bentar, elu punya rencana apa, Di? Gue lagi antar Laura dulu," jelas Adrian.
"Aduh, ajak aja si Cupu. Waktunya udah mepet nih. Entar biar dia di mobil, kita bergerak bertiga," tekan Dedi dari telepon.
Adrian menoleh dan melihat Laura yang masih terlihat kacau. Di satu sisi dia ingin menghibur Laura. Tapi, di sisi lain dia juga ingin memergoki kedua penipu itu di saat ada kesempatan.
Adrian tampak diam dan merenung. Menimang keputusan. Jika dia mengantar Laura terlebih dahulu, dia akan sangat terlambat mengikuti Dedi. Jika dia segera mengikuti Dedi, Laura saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Elu kenapa?" tanya Laura heran melihat Adrian diam termenung.
"Hmm... Dedi telepon tadi. Minta gue segera menyusulnya, penting banget ini soal orang tua kita," jawab Adrian.
"Oh, gitu. Ya udah, gue naik angkot aja ya," ucap Laura yang hampir saja membuka pintu mobil. Tapi, segera dicegat Adrian.
"Tunggu dulu, Ra. Jangan naik angkot, gue khawatir sama elu," tolak Adrian.
"Tapi, elu kan ada keperluan," sahut Laura .
"Iya, tapi..." ucapan Adrian terputus. Hapenya berbunyi lagi. Sebuah pesan masuk. Foto Farida yang keluar dari cafe bersama papa Dedi, foto mobil yang dinaiki beserta plat kendaraan. Dedi mengirim pesan agar Adrian mengikuti sekarang. Dedi bahkan memberikan search lokasi.
"Tapi apa? Gue nggak apa-apa naik angkot, udah biasa," ucap Laura.
"Tapi sekarang kan beda. Elu lagi hamil, Ra. Ikut gue dulu ya, entar gue anter pulang," putus Adrian akhirnya dan segera melajukan mobilnya.
"Emang mau ke mana sih?" tanya Laura bingung.
"Dodit kirim search lokasi. Dia minta kita mengikuti," jelas Adrian sambil fokus menyetir.
"Terus disana kita bakal ngapain ?" laurakembali bertanya.
"Aaarkhh, gue nggak tahu Ra. Gue pusing, gue kesel banget lihat foto Bokap gue sama perempuan itu, terus Bokap Dedi itu juga menjalin hubungan lagi dengan perempuan licik itu!" seru Adrian frustasi.
"Istighfar, Rian. Tenangkan diri lu, jangan sampe kalian melakukan tindakan gegabah," nasihat Laura.
__ADS_1
"Gue udah nggak bisa berpikir jernih, Ra. Emosi banget gue! Heran sama orang tua, apa sih yang ada dipikiran mereka?" rutuk Adrian.
"Kita lagi di jalan, jangan ngebut. Gue lagi hamil," ucap Laura memberi peringatin Rian.
Adrian segera menurunkan kecepatan mobilnya. Menarik nafas dalam-dalam dan mulai lebih tenang menyetir.
"Maafin gue," lirih Adrian pelan.
"Rian, gue tahu elu sedang kalut, cemas dan marah. Tapi, terkadang tidak semua masalah jalannya harus dengan cara kita. Ada Allah yang bisa memberi solusi. Kita hanya perlu dekat sama Allah, untuk hidup tenang meski ada masalah," papar Laura.
"Jujur gue nggak tahu apa rencana Dedi, tapi gue juga nggak bisa tinggal diam. Dua penipu itu sudah mengusik keluarga gue juga," tekan Adrian.
"Tapi, gue harap kalian tidak gegabah. Jangan sampai pake cara kekerasan ya," pinta Laura.
"Lihat aja entar, Ra. Gue nggak kepikiran apapun saat ini, kecuali datang ke tempat yang sudah dikirim oleh Dedi," cetus Adrian sambil tetap fokus menyetir.
"Rian, terakhir kalian bertindak gegabah. Hasilnya gue sampe hamil," ucap Laura mengingatkan.
"Iya, gue inget. Kita bakal coba untuk lebih hati-hati lagi saat bertindak Makasih, Ra," sahut Adrian.
"Sama-sama," kata Laura yang hanya memperhatikan jalanan.
Tak lama telepon berbunyi, tertulis dilayar hape nama Dedi.
"Bro, Bokap gue udah balik kantor. Tuh perempuan dijemput sama cowok yang di video elu. Itu adiknya kan yang sama nyokap elu?" tanya Dedi meyakinkan.
"Iya, itu adiknya. Entah dapet apa mereka hari ini dari bokap gue sama bokap elu," rutuk Adrian kesal.
"Adiknya tadi pake mobil sport, bro! Jangan-jangan dari nyokap elu!" adu Dedi.
"Apa! Aarkhhh... memang dasar penipu, kurang ajar!" jerit Adrian kesal.
"Mereka harus diberi pelajaran, Bro! Gue sedang mengikuti mereka. Elu ikuti maps yang baru ya," jelas Dedi.
"Oke, Bro!" sahut Adrian langsung menutup teleponnya.
Nafas Adrian memburu, rahang wajahnya terlihat mengeras. Emosi sudah memuncak Laura yang melihatnya jadi cemas.
"Rian, turunin aja ya gue didepan. Nggak apa-apa kok gue lanjut naik angkot!" pinta Laura.
" Ra, elu denger nggak sih gue ngomong! Elu ikut gue, lebih aman!" seru Adrian dengan suara tinggi.
__ADS_1
"Kalo lu emosi jangan lampiaskan ke gue, anak gue yang didalam perut gue juga terkejut!" ucap Laura tegas sambil mengelus perutnya.
Adrian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Berusaha menetralisir emosinya.
"Maafin gue, Ra. Maaf ya, gue bener-bener emosi. Dua penipu itu licik banget. Nyokap gue sampe beliin mobil sport buat mereka!" ungkap Adrian.
"Kenapa nggak lapor polisi aja?" tanya Laura.
"Kelamaan. Mending kita kasih pelajaran dulu baru laporin, biar puas hati kita!" ucap Adrian yang sudah sangat kesal.
"Ngeri gue lihat elu yang kayak gini. Nggak harus lagi jahat bales jahat. Takutnya tindakan gegabah kalian berdampak hal yang nggak baik," nasihat Laura
"Selama kita masih punya duit dan bekingan, elu tenang aja. Santai aja kali, semua bisa kita bungkam," terang Adrian tersenyum meremehkan.
"Firasat gue nggak enak, Rian," lirih Laura.
"Pokoknya elu di mobil aja. Jangan keluar ya. Oh ya makanan dan minuman sudah gue siapin tuh dibelakang. Tadinya buat elu bawa pulang. Kali aja elu mau makan tengah malem, tapi keadaan urgent sekarang. Elu makan aja selama menunggu kita. Entar gue beliin lagi ya," pungkas Adrian.
Laura ke belakang satu kantong besar berisi makanan dan dua botol minum ukuran besar.
Suasana kembali hening Laura hanya terdiam, memandang gedung-gedung yang dilewati dari kaca jendela samping, sementara Adrian fokus menyetir sambil sesekali melihat arah dari layar hapenya.
"Ra,ini kan arah rumah si perempuan itu?" celetuk Adrian.
Laura segera melihat kiri dan kanan jalan. Rasanya memang tidak asing. Dia pernah melewatinya bersama Adrian.
"Iya, elu bener. Berarti mereka balik ke rumah mereka," sahut Laura.
"Asyik bener hidup mereka! Kerja enggak dapet duit terus bisa foya-foya," rutuk Adrian.
"Mereka memanfaatkan keadaan. Mereka tahu ada celah antara Papa lu dan Mama lu yang lagi renggang," ungkap Laura.
"Brondong Mama berhasil dapet mobil sport dari Mama gue, Ra! Gila, bayangin," pekik Adrian hampir tak percaya.
"Sabar ya," balas Laurayang kasihan melihat Adrian dan teman-temannya. Hidup mereka juga ternyata punya banyak masalah.
"Mobil itu yang kelihatan aja, Laura Nggak mungkin Mama gue cuma ngasih itu, apalagi Papa gue. Rumah, apartemen, deposito, berlian pasti. Ah, nggak tahu lagi gue. Nggak habis pikir gue dengan orang tua gue. Dibilang bego mereka mampu punya perusahaan gede. Dibilang pinter tapi di begoin anak bau kencur, Aarkhhh!" rutuk Adrian kesal.
Laura menghembuskan nafas,berusaha tetap tenang berada didekat Adrian yang sedang berapi-api.
"Elu, Dedi dan Rean sama kayak gue. Kita masih muda. Kita kadang berpikir pintas. Gue cuma harap, elu jangan ambil tindakan gegabah dalam masalah ini," pinta Laura.
__ADS_1
"Iya, gue bakal inget pesen lu," sahut Adrian asal, meski pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.
bersambung....