TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
002


__ADS_3

Ikhwan hanya mengangguk ia masih berdiri disamping mobil Laura.


"Ayo, Tiara. Kita pulang," ajak Athan.


Tiara mengangguk dia membuka pintu belakang. Duduk disamping Laura.


Sementara Athan duduk disamping supir.


Mobil akhirnya meluncur pergi, sementara Ikhwan memandang mobil yang pergi dengan kecewa. Tatapan mata marah milik Tiara sukses membuat dia lemas tak berdaya.


Sementara di rumah sakit, Adrian dan Revan melongo terkejut.


"Suara itu, Rian," ucap Revan. Mulut Revan bahkan belum tertutup masih menganga. Dia benar-benar terkejut.


"Suaranya sama seperti suara pria bermasker malam itu," balas Adrian yang juga terkejut.


Mereka berdua saling pandang. Sama-sama tak bisa berkata-kata lagi.


"Rian, coba elu telepon Ikhwan lagi. Tanyain yang tadi ngomong siapa?" usul Revan.


"Ah, iya. Elu bener juga. Bentar," sahut Adrian. Dia segera menelepon Ikhwan lagi.


Panggilan terhubung telepon pertama tak diangkat. Adrian berdecak kesal. Kemudian menelepon lagi.


"Halo, gue lagi nyetir. Apaan sih lu?" rutuk Ukhwan yang meluapkan rasa kesalnya.


"Sorry, Bro. Tadi cowok yang ngomong ditelepon siapa?" tanya Adrian. Dia membesarkan volume hape agar Revan bisa mendengarkan juga.


"Cowok Laura, Rian! Siapa lagi. Dia yang bikin heboh cewek-cewek di sekolah. Cowoknya keren. Elu kalah pokoknya. Dahlah, nggak usah dekati Laura lagi. Cowoknya overprotektif banget," rutuk Ikhwan yang masih kesal.


"Elu punya foto cowok itu nggak ?" tanya Adrian yang hatinya sudah cenat cenut mendengar penjelasan Ikhwan.


"Elu pikir gue cowok apaan? Kurang kerjaan banget gue foto tuh orang. Dah, gue mau pulang, bye!" balas Ikhwan langsung mematikan telepon.


Adrian memandang hapenya yang layarnya sudah menggelap. Dia menghembuskan nafasnya. Berusaha tenang meski hati tetap tak rela.


Andai dia sudah bisa berjalan, dia pasti sekarang sudah melesat pergi ke rumah Tiara atau ke panti asuhan tempat Laura berada.


"Sabar ya, Bro. Cepet sembuh. Nanti lusa gue udah sekolah. Gue bantu ngomong sama Laura" hibur Revan.


"Makasih ya, Van," sahut Adrian singkat.


"Elu jangan banyak pikiran dulu. Tidur lagi aja, masih ada waktu buat tidur sebelum guru datang," usul Revan.


Adrian mengangguk. Kendati begitu meski berusaha memejamkan mata, dia tetap tak bisa tidur.


Pikirannya menerawang jauh. Hatinya jumpalitan dengan campuran rasa resah, gelisah dan tak rela. Bisakah dia pura-pura biasa seperti tak ada apa-apa?


Hati Adrian sudah tertawan rasa. Mana bisa menghilangkan aku dan kamu yang sekarang menjadi kita. Bahkan menjadi tiga.


Mengucap benci tapi hati jadi sepi. Berusaha tak peduli tapi dia menari dalam pikiran setiap hari. Menolak bayangan yang hadir, tapi bahkan angin membisikkan indah suaranya.


Laura... Izinkan ku kembali. Izinkan kita bertemu lagi. Mari merajut mimpi bersama si kecil. Bisakah?

__ADS_1


***


Sore ini, dokter sedang memeriksa Angel. Dia sudah lebih tenang dan mulai bisa diajak mengobrol.


"Bagaimana anak kami, Dok?" tanya mama Angel.


"Alhamdulillah, dia sudah lebih baik. Hanya tinggal pemulihan saja. Saya permisi dulu pak, bu," pamit dokter tersebut.


"Terima kasih, dokter," sahut papa Angel.


"Angel, ini mama, Nak. Angel ingat kan sama mama?" tanya mama Angel sambil mengelus rambut anaknya.


Kemarin Angel histeris, memaki mamanya menganggap mamanya makhluk halus.


"Mama... mama, Angel takut," raung Angel yang akhirnya sadar kalau yang bersamanya adalah mamanya.


Angel langsung menghambur di pelukan mamanya. Dia menangis kencang.


"Iya, sayang. Ini mama, kamu kenapa gemetar?" tanya sang mama cemas.


Sementara papa Angel diam dan memperhatikan. Dia sendiri bingung apa yang terjadi pada anaknya.


"Ma, tolong Angel. Angel takut, Ma. Angel takut dengan mereka," rintih Angel sambil terisak.


"Mereka siapa? Bilang sama papa. Biar papa yang menyelesaikan masalah ini," ucap papanya yang sudah terpancing emosi.


Orang tua mana yang tak marah melihat anaknya sampai di kurung di gudang tua penuh debu.


"Mereka siapa? Angel nggak tahu, Pa. Mereka menutup mata Angel dan mengikat Angel," ungkap Angel yang berusaha mengingat saat kejadian.


Angel diam beberapa saat. Berusaha mengingat malam kejadian itu. Tiba-tiba dia mengingat kalau dia sudah mengurung Shabila di gudang. Ada darah di gudang. Lalu beberapa laki-laki membawanya ke gudang sekolah.


"Angel habis menghadiri pesta malam itu, Ma..." ucap Angel mengernyitkan keningnya. Dia sedang menyusun kata-kata.


"Lalu, apa yang terjadi. Ayo, nak. Ingat lagi. Papa akan laporkan hal ini ke polisi," ucap papa Angel.


"Angel dimasukkan ke sebuah mobil lalu saat mobil tiba, Angel ditarik ke gudang saat sampai. Di lantai banyak darah, Ma. Lalu banyak setan yang mengganggu Angel," lanjut Angel.


"Mungkin ada ciri-ciri orang-orang itu yang kamu ingat, Nak?" tanya mama Angel lagi.


"Laura, Ma. Sebelumnya dia yang ada di gudang itu. Mungkin dia tahu sesuatu. Atau jangan-jangan Laura ingin balas dendam pada Angel, Ma," ucap Angel akhirnya.


"Laura? Siapa dia?" tanya papanya.


"Dia satu kelas dengan Angel. Dia pasti mau balas dendam dengan Angel. Karena Angel sering jahil ke dia," jelas Angel yang tak berani mengungkapkan kejahilan yang bagaimana yang sudah dia lakukan.


"Cuma karena kamu jahil biasa dia sampai mengurung kamu, Nak?" geram Papa Angel.


"Bukan dia, Pa. Tapi mungkin dia menyuruh orang lain untuk mengurung Angel. Karena Angel mau membongkar rahasianya waktu itu," ungkap Angel.


"Rahasia? Rahasia apa maksud kamu, Angel?" tanya mamanya mengernyitkan kening.


"Dia pura-pura kecelakaan, Ma. Dia sampe pake gips kaki dan kursi roda. Tapi, sebenarnya dia nggak sakit sama sekali. Angel lihat kok dia di hari minggu, bisa jalan biasa tanpa bantuan kursi roda," jelas Angel.

__ADS_1


"Nakal sekali anak itu! Anak siapa dia? Apa orang tuanya pejabat atau pengusaha hebat sampai berani sama kamu?" marah papa Angel.


"Dia cuma anak panti asuhan, Ma, Pa. Nggak punya orang tua. Tapi, dia memang anak punya prestasi di sekolah. Karena itu dia merasa sombong sekali," rutuk Angel yang masih menyimpan kesal pada Laura.


Setelah berpikir tadi, Angel akhirnya sampai pada kesimpulan kalau dia disekap pasti ada hubungan dengan Laura. Cara orang-orang yang menyekapnya sama seperti cara dia menyekap Laura.


"Elu pasti dibalik semua ini kan, Ra?! Habis lu setelah ini, nggak mungkin elu bisa melawan kekuasaan orang tua gue." batin Angel merasa menang.


"Oh, berarti dia nggak punya siapa-siapa dibelakangnya. Kamu tenang saja sayang, kasus ini pasti akan cepat selesai. Gadis itu pasti akan menerima hukuman dari perbuatannya," ucap papa Angel.


"Iya, Pa. Urus secepatnya. Berani sekali dia menyekap anak kita, tiga hari loh. Udah nggak bener anak itu," sambung mama Angel yang sudah terbakar amarah juga.


"Iya, Ma. Papa akan segera menelepon pengacara kita. Gadis itu besok pasti akan langsung dipanggil polisi," geram sang papa yang langsung mengeluarkan hapenya dari saku celana.


"Dia pasti mengelak Ma, Pa. Dia pasti nggak mengakui kalo dia dalang dibalik penculikan Angel," terang Angel.


"Kamu tenang saja, sayang. Penyidik bakal membuat dia mengakui segala perbuatannya. Anak mama tidak akan diganggu gadis itu lagi setelah ini," tutur mama Angel kembali mengelus rambut anaknya.


"Makasih, Ma. Angel benar-benar takut saat di gudang tua ," ucap Angel memeluk mamanya. Dalam pelukan mamanya dia menyunggingkan senyumnya.


Dia berharap setelah ini, Laura tidak akan mendekati Adrian lagi. Laura pasti akan ketakutan karena tidak akan ada yang menolong Laura dia hanya anak yatim piatu.


Papa Angel keluar dari ruangan Angel. Dia menelepon pengacara keluarga mereka. Meminta pengacara itu melapor ke polisi.


Akhirnya, pengacara itu bersedia dan akan ke rumah sakit. Lalu bersama-sama papa Angel menuju kantor polisi.


***


Pagi ini, hari ketiga ujian di sekolah. Berkat obat-obatan mahal dan perawatan dari pihak rumah sakit Laura sembuh dengan cepat.


Sementara Dayyan, tampak makin aktif. Bayi mungil itu tubuhnya mulai terlihat berisi. Walau masih belum mencapai berat tubuh normal. Setidaknya saat ditimbang, Dayyan sudah bertambah berat badannya.


"Mama sangat lega, Nak. Melihat Laura sudah sehat dan Dayyan menunjukkan kemajuan yang luar biasa," ucap Mama Runi bahagia.


"Iya, Ma. Terima kasih sudah memberikan yang terbaik untuk Laura dan Dayyan," sahut Laura terharu.


"Sama-sama, sayang. Sudah kewajiban Mama dan Papa. Kamu udah siap sekolah?" tanya mamanya pagi ini.


"Sudah, Ma. Laura sudah siap," ujar Shabila tersenyum.


"Diantar Kakakmu lagi, ya. Papa mau meeting pagi ini. Kalo mama mau sama Dayyan. Kayaknya mama mabok cucu. Nggak bisa jauh dari Dayyan. Bawaan kangen terus. Tidur tengah malem pun mama kadang terbangun, lihat Dayyan," ungkap mama Runi terkekeh.


"Iya, Ma. Laura ngerti. Makasih mama sudah mau menerima Dayyan. Padahal dia..." Laura tak jadi meneruskan kata-katanya. Terlalu menyakitkan untuk dikenang.


"Ssttt... Dayyan adalah berkah, Nak. Semua bayi yang lahir itu suci. Dia tetap cucu mama dan papa. Jangan ingat lagi yang sudah. Yang terpenting di masa depan kalian berdua harus bahagia," nasihat mama Runi tersenyum. Dia lalu memeluk Laura.


Laura mengangguk setuju. Setelah ini, dia akan menata masa depan. Tidak akan di bodohi lagi oleh cinta.


Laura akan menutup rapat hatinya. Dia akan fokus pada masa depannya. Dia hanya akan fokus pada keluarganya. Saat ini, Laura sudah sangat merasa bahagia. Dia tak butuh laki-laki lagi.


"laura sangat bahagia, Ma. Laura tak butuh apapun lagi. Sudah ada Papa, Mama, kak Atha dan Dayyan. Juga Om dan Tante. Sudah cukup, Laura sangat bersyukur," tutur Laura.


"Alhamdulillah, sayang. Semoga Allah memberkahi keluarga kita dengan kebahagiaan setiap hari, Aamiin," ucap Mama Runi.

__ADS_1


"Aamiin," sahut Laura.


Seperti rutinitas setiap pagi, sebelum berangkat sekolah. Laura akan pamit pada Dayyan. Sampai hari ini Laura hanya berani memegang jari jemari Dayyan dari lobang inkubator.


__ADS_2