TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
BERUSAHA BERTANGGUNG JAWAB


__ADS_3

Adrian kembali masuk ke dalam klinik. Kali ini dia membawa cemilan dan juga susu ibu hamil. Adrian akan kembali menemui Laura.


Meski Laura akan kembali mengusirnya, setidaknya dia sudah berusaha untuk bertanggung jawab. Meski hanya seperti ini yang bisa dia lakukan. Dia tetap tidak mungkin menikah dengan Laura.


"laura lo mau ngapain?" seru Adrian saat melihat Laura melepas selang infus di tangannya.


"Lepasin gue! Gue harus pulang, gue harus kerja!" hardik Laura menyingkirkan tangan Adrian.


"lu berhenti aja dari kerja lu. Gue yang bakal menanggung semua kebutuhan lu semua nya," ucap Adrian.


"Gue nggak sudi makan dari duit lu!Gue benci lu, Adrian!" geram laura. Matanya menatap tajam ke Adrian.


"Gue tahu gue salah. Elu berhak marah, Ra! Tapi, jangan kerja dulu ya, please istirahat dulu," pinta Adrian memelas.


"Elu emang siapa gue? Kok lu mau ngatur gue?" tekan Laura masih menatap tajam Adrian.


Adrian menelan ludahnya. Dia bukan siapa-siapa Laura. Dia memang tidak punya hak mengatur Laura.


"Maafin gue Ra" sahut Adrian.


"Kalo lu mau ngatur gue, nikahin gue. Tapi, gue tahu lu pengecut. Elu nggak akan pernah mau tanggung jawab," lirih Laura lemah.


"Gue biayain hidup lu, itu juga bentuk pertanggungjawaban gue," tampik Adrian yang tersinggung disebut pengecut oleh Laura.


"Ohya? Selama ini gue bisa kok membiayai hidup gue sendiri tanpa lu," cibir Laura Bibirnya menyunggingkan senyum tak suka.


"Gue nggak mau berdebat sama lu Laura Gue panggil dokter sekarang," ucap Adrian segera memencet tombol panggilan di samping brankar Laura.


Laura yang ingin menghentikan tangan Adrian, terlambat. Adrian keburu memencet tombol dan suara langkah kaki dokter terdengar.

__ADS_1


Laura hanya melotot kesal pada Adrian. Entah apa mau laki-laki ini! Laura sungguh kesal luar biasa.


"Loh, kenapa lepas jarum infusnya?" ucap dokter berhijab coklat itu tersenyum. Dokter tersebut segera memasang kembali infus di tangan Laura.


Baik Laura ataupun Adrian sama-sama tak menjawab ucapan dokter. Laura hanya mendengus kesal melihat wajah Adrian. Sementara Adrian dengan wajah pasrah menerima saja perlakuan Laura yang sungguh kentara membenci dirinya.


"Jangan di lepas lagi ya. Nanti sakit loh tangannya," ucap dokter itu lembut dan tersenyum manis. Laura hanya mengangguk tak enak pada dokter. Setelah selesai sang dokter kembali keluar ruangan.


Laura mengurungkan niatnya untuk pulang. Tak enak hati dengan baiknya dokter tadi yang sudah memasang kembali infus di tangannya. Bahkan membenarkan letak selimut dan bantalnya.


Ah, Laura selalu lemah dengan orang-orang yang menunjukkan kasih sayang padanya. Karena kelemahan ini pula, yang membuat dia terjebak dengan rayuan Adrian yang selalu berucap cinta. Tapi, ternyata hanya dusta.


Mata Laura tetap melirik tajam pada Adrian. Rasanya udara terasa sesak satu ruangan dengan Adrian.


"Pergi lu, gue nggak mau ada lu di sini!" sembur Laura Kehamilannya ini membuat perasaannya mudah sekali kesal dan marah. Apalagi saat melihat wajah Adrian, Laura sangat membencinya.


"Gue nggak mau pergi. Kalo gue pergi entar lu melarikan diri," tolak Adrian yang malah duduk di kursi samping brankar.


"Mending lu tidur deh! Kalo lu benci gue, entar bayi lu mirip gue!" Adrian berusaha bercanda pada Laura. Berharap suasana mencair dan Laura merasa lebih nyaman dengan keberadaannya.


Tapi, candaan Adrian justru menyakiti hati Laura. Air mata Laura menetes.


"Eh, maaf gue salah ya? Kok lu nangis?" Adrian merasa tak enak.


"Bayi gue? Iya ini memang cuma bayi gue bukan bayi lu!" lirih laura dengan suara parau dan tercekat.


Adrian menghembuskan nafasnya. Dia terdiam. Laura perasaannya benar-benar sensitif. Adrian tak bermaksud menyakiti hati Shabila. Tapi, menyebut kata 'bayi kita', Adrian sungguh tak sanggup.


"Maafin gue, Ra Maafin kalo omongan gue nyakitin lu. Gue memang belum siap buat punya anak ," jujur Adrian tertunduk.

__ADS_1


"Terus menurut lu gue siap? Apa gue yang minta lu melakukan hal menjijikan waktu itu? Iya gue ya?" tekan Laura. Air matanya tak berhenti mengalir.


"Ssttt, Ra diam ini di tempat umum Please, kecilin suara lu," bisik Adrian sambil mengacungkan jari manisnya di depan bibirnya. Berharap laura mau menuruti kata-katanya.


"Kenapa? Lu malu, hah! Gimana gue Adrian? Gue yang bakal mengandung, gue yang bakal di cibir orang-orang! Sementara lu, orang nggak bakal tahu kalo lu yang sudah melakukan ini!" cerca Laura. Mata Laura menatap Adrian dengan berani. Tak ada yang perlu dia takutkan lagi.


Laura sudah kehilangan kontrol dirinya. Emosinya benar-benar memuncak.


"Maafin gue! Kalo lu mau gue ucapin maaf sehari seribu kali pun pasti gue lakuin," sesal Adrian dengan wajah memelas.


"Maaf seribu kali? Apa bisa mengembalikan keadaan gue seperti dulu? Apa bisa lu balikin semua yang sudah lu renggut dari gue? Bisa?" Laura mencerca Adrian lagi. laura menggeleng-gelengkan kepalanya. Bajunya sudah basah oleh air mata.


Adrian makin tertunduk dalam. Dia akui dia pengecut. Dia berharap Laura memaafkan perbuatannya.


"Elu nggak bisa mengembalikan segalanya, Rian. Gue akan maafin lu kalo bisa mengembalikan keadaan gue seperti sebelum kita bertemu hari itu!" tegas Laura menatap langit-langit di atas ruangan yang berwarna putih.


Bau obat-obatan menyeruak memenuhi ruangan. Perut laura langsung terasa mual. Tangan laura langsung refleks menutupi mulutnya.


"ra, elu kenapa?" tanya Adrian khawatir melihat Laura yang seperti ingin muntah.


Laura segera turun dari brankar, berjalan tertatih ke kamar mandi sambil membawa infus.


Laura muntah. Suara khas orang muntah membuat Adrian iba.


"Biar gue pegang infus lu," ucap Adrian yang inisiatif mengambil infus dari tangan Laura.


Laura masih muntah. Adrian melirik ke dalam kamar mandi. Hanya cairan bening yang keluar dari mulut Laura.


"Elu masuk angin ya? Gue panggilin dokter nanti ya," cetus Adrian.

__ADS_1


Laura hanya menggeleng. Setelah merasa lebih enakan, Laura berjalan tertatih kembali ke tempat tidur.


Adrian berusaha membantu, tapi tangannya di singkirkan oleh Laura.


__ADS_2